Kisah Untung Surapati Bantai 1 Peleton Kompeni karena Lecehkan Mantu Sultan Ageng Tirtayasa

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 04 September 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 03 337 2465947 kisah-untung-surapati-bantai-1-peleton-kompeni-karena-lecehkan-mantu-sultan-ageng-tirtayasa-fKiSgsD2Ap.jpg Untung Suropati (foto: Istimewa)

UNTUNG SURAPATI membantai satu peleton pasukan kompeni di bawah pimpinan Letnan Kueffler, lantaran melecehkan dua istri Pangeran Purbaya putera Sultan Ageng Tirtayasa Banten, yakni Raden Ayu Gusik Kusuma (putri dari kerajaan Mataram) dan Ambo Mayangsari di Cikalong, Jawa Barat.

Cerita tentang Untung Surapati ini ditulis FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.

Baca juga:  Sayembara Belanda, Kepala Cucu Untung Surapati Dibandrol 500 Dollar Spanyol

Pembataian satu peleton pasukan kompeni itu berawal ketika dalam pelarian Untung bergabung dengan masyarakat penentang VOC. Ia berkeliaran di sekitar kota Batavia, membuat onar di sekitar Pecenongan (Sawah Besar), Depok, dan Angke.

Kompeni pusing menghadapi ulahnya. Mereka justru menawari Untung jabatan kemiliteran, dengan pangkat letnan (pangkat tertinggi di VOC untuk bumiputera). Untung diminta untuk menjemput Pangeran Purbaya, lalu Untung berhasil menemukan persembunyian pasukan Pangeran Purbaya, dan dua istrinya.

Baca juga:  Kisah Balik Nama Untung Surapati: Raja Dewa, Pemberian Sultan Cirebon

Selain Untung, datang satu peleton pasukan kompeni lain di bawah pimpinan Letnan Kueffler. Tentara Belanda totok itu melecehkan Gusik Kusuma dan Mayangsari. Akibatnya, Untung marah besar dan membunuh seluruh peleton letnan Kueffler, Untung justru berpihak pada Pangeran Purbaya.

Lalu Gusik Kusumo minta pulang ke ibukota Mataram. Sedang Pangeran Purbaya akan menyerahkan diri kepada Belanda di Batavia, Gusik tidak setuju niat suaminya. Untung menceritakan kalau dirinya akan menjadi buronan serdadu kompeni karena telah membunuh Kueffler .

Untung mengawal Gusik mencari perlindungan ke Kasultanan Cirebon untuk selanjutnya menuju ke Mataram. Sultan Cirebon masih mempunyai hubungan keluarga dengan Gusik.

Untung dan Gusik yang telah menjalin hubungan asmara bergerak menuju Cirebon. Sultan Cirebon sangat gembira menerima kedatangan Untung, Gusik dan teman-temannya.

Baca juga:  Ketika Untung Surapati Tawarkan Cucu Komandan Militer VOC Jadi Raja di Pasuruan

Gusik menceritakan peristiwa yang dialami, mulai dari kepergiannya meninggalkan suami sampai pertemuannya dengan Untung. Sultan Cirebon prihatin akan nasib keponakannya, tetapi juga bangga meski seorang wanita tapi tidak gentar melawan kompeni.

Tahun 1685, Untung mendapatkan tambahan nama Surapati dari Sultan Cirebon karena berhasil memberantas perampok pimpinan Surapati. Sultan menyarankan agar Untung meneruskan perjalanan ke Kartasura. Sultan khawatir kompeni akan menyerang, padahal Cirebon hanya memiliki prajurit dalam jumlah terbatas.

Untung akan mendapat perlindungan di Kartasura karena memiliki prajurit dengan jumlah yang sangat besar. Ayah angkat Gusik adalah Patih Mangkubumi.

Kemudian Gusik mengutarakan niatnya untuk pulang ke Kartasura. Ia rindu kepada keluarganya di keraton Mataram. Selain itu harus secepatnya diberitahu kalau dirinya sudah meminta izin pulang pada suaminya Pangeran Purbaya. Pernikahannya dengan Purbaya atas kehendak Sunan Amangkurat, jadi apapun yang terjadi harus dilaporkan ke Mataram.

Di Kartasura, Untung disambut sebagai pahlawan oleh banyak petinggi istana. Secara diam-diam Sunan Amangkurat II pun juga mendukung Untung Surapati sebab ia sedang menghadapi konflik dengan Pangeran Puger, pamannya, yang hendak menjadi raja dengan meminta dukungan VOC.

Tahun 1686, Untung berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang datang hendak menangkapnya di Kartasura. Kapten Tack, pimpinan pasukan Belanda, mati terbunuh. Untuk menghindari pembalasan Belanda, Untung bersama Gusik Kusumo mengungsi ke Kediri lalu bergeser ke Pasuruan.

Di Pasuruan, Untung menjadi bupati, membangun kadipaten, berkuasa sekitar 20 tahunan di sana. Pada bulan antara september-oktober 1706, Untung gugur saat Bangil, Pasuruan diserbu VOC.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini