Kisah Kopassus Menyamar Jadi Tukang Durian Rela Ditempeleng

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 04 September 2021 07:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 03 337 2465918 kisah-kopassus-menyamar-jadi-tukang-durian-rela-ditempeleng-DegIOoSek0.jpg Ilustrasi Kopassus (Foto: Kopassus.mil.id)

JAKARTA - Pasukan elite TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tak diragukan lagi kemampuannya. Rela menyamar demi bisa masuk ke sarang musuh, meski harus bertaruh nyawa guna menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Salah satu ujung tombak TNI dalam perang Aceh adalah aktivitas intelijen yang berhasil masuk ke dalam lingkaran pusat kekuasaan GAM. Dikutip dari buku Koppasus untuk Indonesia karangan Iwan Santosa E.A Natanegara, ialah Sersan Badri (bukan nama sebenarnya).

"Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe," ujar anggota Sandi Yudha Kopassus itu.

Baca Juga: Kisah Pendiri Kopassus, Cuek Tak Ada Militer-Militernya saat Bersama Warga

Selama perjalanan tersebut, dirinya harus melewati pos penjagaaan dan pemeriksaan aparat. Saat melintas, dirinya kerap kali diminta jatah durian.

"Saya beri dua buah durian justru dimarahi lalu ditempeleng. Katanya, kalau untuk GAM pasti saya memberi banyak. Di sini ada satu peleton anggota yang berjaga, mana cukup kalau cuma dua buah durian?" katanya.

Bukan tanpa alasan Badri melakukan penyamaran. Dengan situasi konflik saat itu, sulit untuk masuk ke dalam masyarakat Aceh yang trauma akibat konflik berkepanjangan. Sehingga, dirinya menyamar sebagai tukang buah Aceh perantauan.

Menjadi tukang buah membuat Badri leluasa untuk bergerak dari Medan, Sumatera Utara, Lhokseumawe di Aceh Utara untuk menjalankan bisnis buahnya yang mengantarnya masuk ke sarang GAM. Prosesnya sangat panjang untuk bisa mendapatkan kepercayaan GAM.

Baca Juga: Profil Letjen TNI (Purn) Kuntara, Jenderal Keturunan Tionghoa dengan Prestasi Mentereng

Selama setahun Badri memetakan situasi lapangan di Aceh, khususnya di sekitar Lhokseumawe yang menjadi basis militer kekuataan GAM. Pelan tapi pasti, satu per satu mulai dari para istri, orangtua, mertua, dan anak dari keluarga petinggi GAM berhasil dirangkul oleh Badri.

Sehingga mereka sangat bergantung pada bantuan Badri yang memposisikan dirinya sebagai petinggi TNI yang menjadi "pejuang" GAM.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini