Amengkurat I, Raja Mataram yang Izinkan Belanda Membangun Benteng di Kerajaan

Tim Okezone, Okezone · Kamis 02 September 2021 06:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 337 2464738 amengkurat-i-raja-mataram-yang-izinkan-belanda-membangun-benteng-di-kerajaan-kGlPIajlCz.jpg Amengkurat I (foto: istimewa)

SETELAH Sultan Agung Mataram meninggal pada tahun 1645 M, kekuasaan dipegang oleh putranya yang bergelar Amengkurat I (1645-1677 M). Ia sangat berbeda dengan ayahnya yang sangat membeci orang-orang Belanda, Amengkurat I justru membiarkan orang-orang Belanda masuk ke daerah Kerajaan Mataram.

Bahkan, Amengkurat I menjalin hubungan yang sangat erat dengan Belanda dan mereka diperkenankan untuk membangun benteng di Kerajaan Mataram. Setelah diizinkan membangun benteng di wilayah Kerajaan Mataram, ternyata tindakan Belanda semakin sewenang-wenang. Hal itu terkuak dari buku "Ensiklopedia Kerajaan Islam Di Indonesia" karya Binuko Amarseto.

Baca juga:  Kisah Skandal Raja Amangkurat I, Gemar Rebut Wanita dan Membunuh

Atas dasar itu, akhirnya muncullah pemberontakan yang dipimpin oleh pangeran Trunajaya dari Madura. Berbekal koneksi dengan bupati di daerah pesisir pantai, Pangeran Trunajaya hampir menguasai ibu kota Mataram. Namun, karena perlengkapan persenjataan pasukan Belanda jauh lengkap, pemberontakan itu berhasil dipadamkan.

 Baca juga: Ketika Kerajaan Mataram Diacak-acak Kolonial Belanda

Pada saat terjadi pertempuran di pusat Ibukota Kerajaan Mataram, Amengkurat I menderita luka-luka dan dilarikan oleh putranya ke Tegalwangi dan meninggal dunia di sana.

Amengkurat II pun menggantikan ayahnya memimpin Mataram (1677-1703 M). Ternyata di bawah pemerintahannya, Mataram menjadi semakin rapuh sehingga wilayah yang dikuasainya semakin sempit karena sudah dikuasai oleh Belanda. Karena merasa bosan tinggal di ibu kota kerajaan, akhirnya Amengkurat II kemudian mendirikan sebuah ibu kota baru di Desa Wonokerto yang diberi nama Kartasura.

Di Kartasura, Amengkurat II menjalankan pemerintahannya dengan sisa-sisa Kerajaan Mataram dan meninggal di sana pada tahun 1703 M. Setelah Amengkurat II meninggal, Kerajaan Mataram menjadi semakin suram dan sudah tidak mungkin untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah direbut oleh Belanda.

Naik menggantikan Amengkurat II, Sunan Mas (Sunan Amengkurat III) menuruni sifat kakeknya yang sangat menentang kegiatan VOC. Karena mendapat pertentangan dari Amengkurat III, VOC tidak menyetujui pengangkatan Sunan Amengkurat III sebagai Raja Mataram sehingga VOC mengangkat Pangeran Puger yang merupakan adik dari Amangkurat II (Paku Buwono I) sebagai calon raja tandingan.

Maka pecahlah perang saudara (memperebutkan mahkota I) antara Amangkurat III dengan Pangeran Puger dan akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Puger. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan sebagai Raja Mataram dengan gelar Sunan Paku Buwono I.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini