Soal Dugaan Kasus Pelecehan Seksual dan Perundungan, KPI Pusat Angkat Bicara

Tim Okezone, Okezone · Rabu 01 September 2021 20:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 337 2464711 soal-dugaan-kasus-pelecehan-seksual-dan-perundungan-kpi-pusat-angkat-bicara-x7W8rNacyJ.jpg Ilustrasi (Foto : Reuters)

JAKARTA – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat angkat bicara terkait pelecehan seksual dan perundungan yang dialami karyawannya berinisial MS selama bertahun-tahun oleh sesama pekerja yang juga seniornya di kantor.

Diketahui, MS bahkan menuliskan pesan terbuka untuk Presiden Joko Widodo atas apa yang sudah dialaminya. Dalam suratnya, MS menceritakan mengalami pelcehan seksual sesama pria sejak 2012 hingga 2014.

Selama 2 tahun itu ia mengalam perundungan dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama-sama mengintimidasi yang membuat dirinya tak berdaya. Padahal, kedudukan mereka setara dan bukan tugas MS untuk melayani rekan kerja.

Menyikapi beredar informasi terkait kasus dugaan pelecehan seksual dan perundungan (bullying), KPI Pusat mengaku turut prihatin dan tidak mentoleransi segala bentuk pelecehan seksual, perundungan atau bullying terhadap siapapun dan dalam bentuk apapun.

"Melakukan langkah-langkah investigasi internal, dengan meminta penjelasan kepada kedua belah pihak," tulis keterangan tertulis dari KPI Pusat yang diterima, Selasa (1/9/2021).

KPI Pusat, juga mendukung aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, juga memberikan perlindungan, pendampingan hukum dan pemulihan secara psikologi terhadap korban.

Langkah lainnya adalah menindak tegas pelaku apabila terbukti melakukan tindak kekerasan seksual dan perundungan (bullying) terhadap korban, sesuai hukum yang berlaku.

"Demikian keterangan yang dapat disampaikan KPI Pusat. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih," tulis keterangan tersebut.

Baca Juga : Heboh! Pria Tewas Tergantung, Disampingnya Ada Mayat Wanita Dalam Karung

Sekadar diketahui, dalam pernyatannya, MS mengatakan sejak bekerja di KPI Pusat pada 2011, sudah tak terhitung berapa kali mereka melecehkan, memukul, memaki, dan merundungnya tanpa bisa ia lawan.

"Saya sendiri dan mereka banyak. Perendahan martabat saya dilakukan terus menerus dan berulang ulang sehingga saya tertekan dan hancur pelan pelan.Tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya," tulis MS.

Kejadian itu, pun membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. "Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat? Sindikat macam apa pelakunya? Bahkan mereka mendokumentasikan dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online," tuturnya.

Pelecehan seksual dan perundungan tersebut, kata MS, juga mengubah pola mental, menjadikan saya stres dan merasa hina, saya trauma berat, tapi mau tak mau harus bertahan demi mencari nafkah. "Harus begini bangetkah dunia kerja di KPI? Di Jakarta?" keluhnya.

"Saya bertahan di KPI demi gaji untuk istri, ibu, dan anak saya tercinta," imbuhnya.

Pada 2016, karena stres berkepanjangan, ia jadi sering jatuh sakit. MS pun sering tiba-tiba gebrak meja tanpa alasan dan berteriak tanpa sebab. "8 Juli 2017, saya ke Rumah Sakit PELNI untuk Endoskopi. Hasilnya: saya mengalami Hipersekresi Cairan Lambung akibat trauma dan stres," ujarnya.

Ia mengaku sudah melaporkan apa yang dialami pada Komnas HAM melalui email. Jawabannya, kata MS, ia diminta untukk melapor ke polisi karena apa yang dialaminya merupakan tindak pidana.

"Karena tak betah dan sering sakit pada 2019 saya akhirnya pergi ke Polsek Gambir untuk membuat laporan polisi. Tapi petugas malah bilang: Lebih baik adukan dulu saja ke atasan. Biarkan internal kantor yang menyelesaikan," kata MS menirukan pernyataan petugas.

"Pak Kapolri, bukankah korban tindak pidana berhak lapor dan Kepolisian wajib memprosesnya?"

Dalam suratnya, MS menyertakan nama lengkap pelaku dan dari divisi mereka bekerja di KPI Ousatm hingga apa saja yang telah para rekan kerjanya itu perbuat kepadanya.

"Bantu saya mempublikasi ini, barangkali dengan meluasnya cerita saya ini, Komisioner KPI Pusat jadi tergerak hatinya untuk menjatuhkan sanksi pada pelaku dan Polri mau memproses laporan saya," tulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini