Ketika Bung Karno Curhat ke John F Kennedy Gegara Di-bully Media Amerika

Tim Okezone, Okezone · Rabu 01 September 2021 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 31 337 2464121 ketika-bung-karno-curhat-ke-john-f-kennedy-gegara-di-bully-media-amerika-WCZxsHUh10.jpg Presiden Soekarno dan John F Kennedy (foto: jfklibrary.org)

DALAM buku biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams. Presiden RI pertama, Soekarno bercerita kepada Presiden Amerika Serikat ke-35 John F Kennedy.

Baru‐baru ini diserahkan kepadaku sebuah majalah remaja Amerika. Majalah itu memperlihatkan gadis striptease setengah telanjang, yang hanya memakai celana dalam dan berdiri di samping Sukarno yang berpakaian seragam militer lengkap. Ini adalah kombinasi yang ditempelkan menjadi satu, supaya kelihatan seolah‐olah satu foto dari seorang gadis penari telanjang membuka pakaiannya dihadapan Presiden Republik Indonesia. Kedua foto ini ditempelkan satu dengan yang lain. Ini adalah perbuatan kotor yang dilakukan terhadap seorang Kepala Negara.

Baca juga:  Sarinah, Sosok Wanita yang Ajarkan Bung Karno Mencintai Rakyat Jelata

Apakah aku harus mencintai Amerika, kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku? Aku memperbincangkan muslihat semacam ini dengan Presiden Kennedy yang sangat kuhormati. John F. Kennedy dan aku saling menyukai pergaulan kami satu sama lain. Dia berkata, "Presiden Sukarno, saya sangat mengagumi Tuan. Seperti saya sendiri, Tuan mempunyai pikiran yang senantiasa menyelidiki dan bertanya‐tanya. Tuan membaca segala‐galanya. Tuan sangat banyak mengetahui."

Lalu dia membicarakan cita‐cita politik yang kupelopori dan mengutip bagian‐bagian dari pidato‐pidatoku. Kennedy mempunyai cara untuk mendekati seseorang melalui hati manusia. Kami banyak mempunyai persamaan. Kennedy adalah orang yang sangat ramah dan menunjukkan persahabatan terhadapku. Dia membawaku ke tingkat atas, ke kamar tidurnya sendiri dan disanalah kami bercakap‐cakap.

Baca juga: Ketika Foto Bung Karno Digantung di Setiap Dinding Kamar Pelacuran

Kukatakan kepadanya, "Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menyadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan persahabatan, seringkali Tuan dapat merusakkan hubungan dengan negara‐negara lain dengan membiarkan ejekan, serangan makian dan mengizinkan kritik‐kritik secara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers Tuan? Kadang‐kadang kami lebih condong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena kami dilukai atau dibikin marah. Sesungguhnya apakah pergaulan internasional itu bukan pergaulan antar manusia dalam hubungan yang lebih besar?

Penggerogotan terus‐menerus semacam ini merobek‐robek keseimbangan dan mempertegang lebih hebat lagi hubungan yang sulit antara negara lain dengan negeri Tuan."Saya setuju dengan Tuan, Presiden Sukarno. Sayapun telah mendapat kesukaran dengan para wartawan kami," dia mengeluh. "Apakah kami beruntung atau tidak, namun kemerdekaan pers merupakan satu bagian dari pusaka peninggalan Amerika."

Ketika Alben Barkley menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, ia mengunjungi tanah air saya," kataku. Dan saya sendiri berdiri dekat beliau di waktu beliau dicium oleh serombongan anak‐anak gadis cantik remadja. "Saya yakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangat bersenang hati," kata Kennedy dengan ketawa yang disembunyikan. Sekalipun demikian tak satupun surat kabar Indonesia mau menyiarkannya.

Dan disamping itu mereka tak berani mengambil resiko untuk menimbulkan kesusahan terhadap seorang negarawan ke seluruh dunia. Barkley adalah seorang yang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnya itu dimuat. Akan tetapi bukanlah itu soalnya. Yang pokok adalah bahwa kami berkeyakinan perlunya para pemimpin dunia dilindungi di negeri kami.

"Kennedy sangat seperasaan denganku mengenai soal ini dan berkata kepadaku dengan penuh kepercayaan, "Tuan memang benar sekali, tapi apa yang dapat saya lakukan? Sedangkan saya dikutuk di negeri saya sendiri." Karena itu kataku, "Ya, itulah sistem Tuan. Kalau Tuan dikutuk di rumah sendiri, saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Akan tetapi saya kira saya tidak perlu menderita penghinaan seperti itu di negeri Tuan, dimana Kepala Negaranya sendiri harus menderita sedemikian.

Majalah Tuan "Time" dan "Life" terutama sangat kurang ajar terhadap saya. Coba pikir, "Time" menulis, "Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu". Selalu mereka menulis yang jelek‐jelek. Tidak pernah hal‐hal yang baik yang telah saya kerjakan. "Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah mengadakan pertemuan pendapat, persetujuan dalam lingkungan kecil ini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat.

Masih saja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengejar cinta. Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tudukkan padaku.

Di Tokyo aku telah pergi dengan kawan‐kawan ke suatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu yang melanggar susila mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekedar duduk, makan‐makan, bercakap‐cakap dan mendengarkan musik. Hanya itu. Akan tetapi dalam majalah‐majalah Barat digembar‐gemborkan seolah‐ olah aku ini Le Grand Seducteur. Tanpa hiburan‐hiburan kecil ini aku akan mati. Aku mencintai hidup. Orang‐orang‐asing yang mengunjungi istanaku menyatakan, bahwa aku menyelenggarakan, "suatu istana yang menyenangkan." Ajudan‐ajudanku mempunyai wajah‐wajah yang senyum.

Baca juga:  Soekarno, Anak Guru yang Tertarik Berpolitik hingga Jadi Presiden

Aku berkelakar dengan mereka, menyanyi dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, nyanyian dan sedikit hiburan kadang‐kadang, aku akan dibinasakan oleh kehidupan ini. Umurku sudah 64 tahun. Menjadi Presiden adalah pekerjaan yang membikin orang lekas tua. Dan kalau orang menjadi tua, tentu tidak baik bagi seseorang.

Karena itu, sesekali aku harus lari dari keadaan ini, supaya aku dapat hidup seterusnya. Banyak kesenangan‐kesenangan yang sederhana telah dirampas dariku. Misalnya, di masa kecilku aku telah mengelilingi pulau Jawa dengan sepeda. Sekarang perjalanan semacam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang yang akan mengikutiku. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini