Share

Cerita Liputan Wartawan di Swiss & Turki saat Pandemi Covid-19

Widya Michella, MNC Media · Selasa 31 Agustus 2021 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 31 337 2464079 cerita-liputan-wartawan-di-swiss-turki-saat-pandemi-covid-19-EAmVZIldFr.jpg (Foto: MPI)

JAKARTA - Dua jurnalis internasional yakni Krisna Diantha, kontributor Koran Sindo dan Sindonews.com di Swiss serta Savran Billah, Kontributor Sindonews di Turki menceritakan pengalamannya saat melakukan peliputan di masa pandemi. Sama halnya dengan Indonesia, masing-masing negara tersebut menerapkan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 yang ketat.

"Ya sama harus diterapkan Prokes, tes antigen dulu, punya sertifikat vaksin, tentu saja jaga jarak dan menggunakan masker. Pembatasan-pembatasan kuota untuk liputan juga dilakukan," ujar Krisna Diantha, kontributor Koran Sindo dan Sindonews.com di Switzerland dalam Webinar internasional virtual dengan tema jurnalis internasional melawan hoax di masa pandemi, Selasa,(31/08/2021).

Ia menambahkan pihak humas di Swiss sangat bagus dalam menyiapkan press conference dan press rilis dengan cepat yang langsung muncul di websitenya. Proses peliputan, pun tidak terlalu terkendala karena masih bisa mendapatkan informasi dengan teknologi internet.

"Hanya memberikan sertifikat tidak perlu PCR karena itu tergantung situasi misalnya waktunya naik turun pandemi jadinya ada pengetatan, atau kelonggaran tapi tetap kita bisa masuk. Dan juga kita harus tahu diri kalau memang tidak harus ke sana ya tidak kesana," tuturnya.

Sama halnya dengan Savran Billah, Kontributor Sindonews di Turki yang mengatakan negara Turki saat ini telah masuk masa normalisasi untuk pekerjaan di bidang esensial termasuk jurnalis mendapat semacam dispensasi sehingga dapat melakukan mobilitas dibandingkan para pekerja lainnya.

"Untuk press conference di sini melakukan hybrid jadi ada yang pembatasan offline dan juga disediakan zoom. Kalau untuk di tempat-tempat tertentu misalnya di lembaga-lembaga pemerintahan negara kita harus PCR test satu hari sebelum itu boleh masuk ke istana negara, tapi kalau sekarang harus vaksin dan ada sertifikatnya 2 dosis lengkap," jelasnya.

Baca Juga : Mulai Besok, 11 Jenis Fasilitas Publik Ini Akan Ada Satgas Prokesnya

Dia juga menjelaskan peliputan dibatasi dengan undangan, dan jika diharuskan jurnalis dapat melakukan PCR test yang relatif terjangkau sekitar Rp200 sampai Rp300 ribu per test dan ditanggung oleh pihak acara.

"Saya kira kalau hal-hal basic memang ketat ya pakai masker, cek suhu, pembatasan jarak sosial itu cukup ketat terutama di acara-acara resmi. Turki sekarang sudah membuka kota dan masuk normalisasi tanggal 6 September bahkan sudah masuk sekolah tatap muka kalau untuk sekolah misalnya gurunya harus tes PCR periodik bagi yang belum vaksin kalau yang sudah vaksin tinggal menyerahkan sertifikat," paparnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini