Kisah Skandal Raja Amangkurat I, Gemar Rebut Wanita dan Membunuh

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 31 Agustus 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 30 337 2463458 kisah-skandal-raja-amangkurat-i-gemar-rebut-wanita-dan-membunuh-XUg0tfq8Ki.jpg Amangkurat I (foto: istimewa)

RAJA AMANGKURAT I merupakan salah satu raja di Kerajaan Mataram. Mempunyai nama lengkap Sri Susuhunan Amangkurat Agung, ia memerintah di Kerajaan Mataram pada tahun 1646 - 1677.

Dibalik dirinya sebagai raja, Raja Amangkurat I terkenal sebagai sosok yang suka bermain perempuan. Ia sosok yang maniak seks dan wanita. Berkat wataknya inilah ia selama hidupnya dikisahkan sering menggoda dan mengambil gadis atau istri orang lain. Hal ini terungkap dalam buku "Tuah Bumi Mataram dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" karya Peri Mardiyono.

Baca juga:  Kisah Eyang Bintulu Aji, sang Pamomong Wahyu Keraton Mataram

Dikisahkan selama 32 tahun memerintah Kerajaan Mataram, Amangkurat I mempunyai banyak skandal perempuan dan pembunuhan. Diceritakan, Amangkurat I sejak masih muda sudah berpetualang menggoda perempuan yang ada di sekitar keraton. Korban pertamanya adalah istri Tumenggung Wiraguna yang terjadi pada tahun berikutnya 1637.

Saat itu Amangkurat I disebut masih berusia 18 tahun membawa lari istri orang yang tak lain adalah Tumenggung Wiraguna. Mengetahui istrinya dibawa lari oleh Amangkurat I, Tumenggung Wiraguna memberanikan diri mengadukan skandal itu ke Sultan Agung, ayah Amangkurat I.

Baca juga:  Ketika Kerajaan Mataram Diacak-acak Kolonial Belanda

Mendengar laporan itu, Sultan Agung langsung marah, putranya yang kelak akan mewarisi tahta Mataram justru melakukan tindakan tak terpuji. Singkat cerita akhirnya Sultan Agung ayahnya menghukum sendiri anaknya.

Amangkurat pun akhirnya mengembalikan istri orang itu kepada suaminya Tumenggung Wiraguna. Sedangkan Amangkurat I sendiri memilih meninggalkan keraton untuk mendalami ilmu agama Islam.

Sebelum Sultan Agung wafat, ia menyerahkan tahtanya kepada sang anak Amangkurat I yang dipanggilnya pulang. Sang ayah mengira anaknya telah bertobat dan berubah menjadi orang baik.

Sesaat setelah ditahbiskan sebagai Raja Mataram dan wafatnya Sultan Agung kian membuat posisi Amangkurat I kuat menjadi seorang raja. Di sinilah tabiat buruknya kembali muncul.

Baca juga:  Kisah Ki Ageng Henis, Leluhur Raja Mataram dan Guru Jaka Tingkir

Perempuan berikutnya yang menjadi korban adalah anak perempuan dari dalang wayang yang dikenal nama Ratu Malang. Perempuan ini sebenarnya juga sudah memiliki suami. Sang suami juga merupakan dalang bernama Kiai Dalem atau Ki Dalang Panjang Mas. Namun hasrat Amangkurat I untuk mendapat perempuan tersebut membuncah.

Ia bahkan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh suami Ratu Malang. Namun karena cinta dan setianya Ratu Malang kepada suaminya ia merasa sakit hati mengetahui suaminya dibunuh oleh Amangkurat I.

Setelah itu Ratu Malang pun menjadi selir dari Amangkurat I. Namun cintanya Ratu Malang ke suaminya tak pudar hingga akhirnya dia sakit parah dan meninggal dunia.

Tapi mendengar kabar Ratu Malang meninggal, Amangkurat I langsung marah dan menuduh para selir kerajaan sengaja mengutus dayang - dayang meracuni Ratu Malang, karena cemburu padanya. Dari sinilah Amangkurat I menghukum mati 43 orang selir dan dayang, dengan cara mengasingkan mereka tanpa diberi makanan apapun.

Skandal ketiga sang don juan dari Kerajaan Mataram ini terjadi ini terjadi dengan rebutan perempuan dengan anak kandungnya sendiri, Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II. Perempuan bernama Rara Oyi ini merupakan putra Ki Mangunjaya, yang terkenal cantik jelita.

Namun usia Rara Oyi kala itu masih belia atau belum haid. Mengetahui Amangkurat I jatuh cinta kepada putrinya, Ki Mangunjaya pun mengizinkan anaknya dijadikan selir Amangkurat I. Rara Oyi pun dititipkan kepada Tumenggung Wirareja. Namun tak disangka saat Rara Oyi berjumpa dengan anak Amangkurat I, Raden Mas Rahmat langsung jatuh kepada Rara.

Raden Mas Rahmat akhirnya menikahi Rara Oyi tanpa seizin dan sepengetahuan sang ayah Amangkurat I. Tanpa diduga hal ini diketahui ayahnya dan membuat Amangkurat I marah besar kepada anaknya.

Amangkurat I marah melihat selirnya dinikahi oleh sang anak kandangnya sendiri. Maka terjadilah perebutan perempuan, sang ayah akhirnya meminta anaknya memilih. Bila memang ia masih setia kepada ayahnya, maka Raden Mas Rahmat harus membunuh Rara Oyi di hadapan ayahnya.

Namun ternyata Raden Mas Rahmat memilih kekuasaan daripada cinta. Di hadapan sang ayah inilah ia menghujam kerisnya ke tubuh Rara Oyi hingga tewas seketika.

Konflik dan intrik berdarah ini menjadi kisah memilukan di masa kekuasaan Amangkurat. Selain dikenal haus seks, Amangkurat I terkenal haus darah. Hal inilah yang merupakan sifat buruk Raja Mataram yang berimbas pada kekisruhan yang melanda Mataram saat itu. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini