Share

Boven Digoel, Hatta hingga Sutan Sjahrir Dibuang ke Tempat Pengasingan Paling Seram Ini

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 28 Agustus 2021 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 27 337 2462297 boven-digoel-hatta-hingga-sutan-sjahrir-dibuang-ke-tempat-pengasingan-paling-seram-ini-q7ndxvlZ1X.jpg Kamp pengasingan Boven Digoel. (Foto: Wikipedia)

DI masa Belanda, Kabupaten Boven Digoel, yang dikenal dengan sebutan Digoel Atas, merupakan lokasi pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Lokasi ini terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian selatan.

Catatan Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 4, disebutkan, Digoel disiapkan dengan tergesa-gesa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan pemberontakan November 1926.

BACA JUGA: Kecintaan Bung Hatta terhadap Buku, Rela Dipenjara Asalkan Bersama Buku 

Boven Digoel kemudian digunakan sebagai lokasi pembuangan pemimpin-pemimpin nasional yang jumlahnya hingga sekitar 1.308 orang. Demikian dilansir dari Indonesia.go.id.

Tetapi kalau ditanya letaknya di peta Indonesia, banyak yang tidak tahu lokasi Boven Digul yang merupakan penjara alam ini. Boven Digoel atau di peta tercantum dengan nama Tanah Merah, merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Merauke, Papua, ujung timur Indonesia.

BACA JUGA: Memoar Bung Hatta soal Sila Pertama: Bukti Pancasila Pemersatu Indonesia

Tercatat sejumlah tokoh nasional pernah dibuang ke Boven Digul seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Kedua toko pergerakan nasional itu dibuang di lokasi itu pada 28 Januari 1935 silam. Mereka dianggap musuh pemerintah kolonial Belanda karena membangkang.

Selain Hatta dan Sjahrir, mereka yang dibuang ke Digul di antaranya Mohamad Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka Sumitro, Moerwoto, Ali Archam, dan sejumlah para pejuang lainnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pejuang pergerakan, Digul adalah tempat pembuangan yang paling menyeramkan.

Digul dibangun oleh Gubernur Jenderal De Graeff pada 1927 sebagai lokasi pengasingan tahanan politik. Di sekeliling Digul terdapat hutan rimba dengan pohon yang menjulang tinggi. Bung Hatta pernah dibuang di sana selama satu tahun.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Digul jauh dari mana pun, hanya dengan jalur udara untuk mengakses lokasi tersebut. Digul semakin mengerikan lantaran banyak nyamuk malaria yang ganas. Sungai Digul memiliki panjang 525 kilometer. Selain panjang, juga banyak buaya di sungai ini.

Mengunjungi Digul tak ayal seperti pergi ke negeri entah berantah. Perjalanan panjang melalui jalur udara. Dari Jakarta-Jayapura. Serta Jayapura-Tanah Merah. Selain jalur udara, bisa melalui jalur darat dari Merauke. Membutuhkan waktu sekitar 6 jam dengan berkendara menggunakan roda empat.

Di atas pesawat sebelum tiba di Bandar Udara Tanah Merah, terlihat hutan rimba dengan pepohonan yang lebat. Serta Sungai Digul yang panjang. Tak jauh dari Bandara Tanah Merah, terdapat satu patung besar Bung Hatta. Tepatnya berada di hadapan Bandara yang digunakan untuk pendaratan pesawat perintis.

Di belakang patung Bung Hatta berdiri Markas Polres Boven Digul. Di sebelah Mapolres terdapat bangunan penjara lama. Bangunan penjara lama ini, merupakan simbol bahwa Bung Hatta pernah diasingkan dan berjuang meski diisolasi.

Di bagian bawah patung Hatta terdapat tulisan berupa: "Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku" (Bung Hatta).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini