Cerita Bung Karno Duduk di Pinggir Trotoar Sambil Makan Sate

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 27 Agustus 2021 07:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 26 337 2461760 cerita-bung-karno-duduk-di-pinggir-trotoar-sambil-makan-sate-CAKpIG3RpH.jpg Presiden Soekarno (Foto: Istimewa)

DALAM buku biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams. Presiden Soekarno mengatakan tubuhnya akan sakit jika tidak bertemu dengan rakyatnya. Terkadang ia harus menjadi seorang Harun al Rasyid, berputar-putar keliling kota seorang diri, hanya dengan seorang ajudan berpakaian preman di belakang kendaraan.

Terasa olehku kadang‐kadang, bahwa aku harus terlepas dari berbagai persoalan untuk sesaat dan merasakan irama denyut jantung tanah airku. Namun persoalan‐persoalan selalu mengikutiku bagai bayangan besar dan hitam, dan yang datang dengan samar menakutkan di belakangku. Aku takkan bisa lepas daripadanya. Aku takkan keluar dari genggamannya. Aku takkan dapat maju dengannya. Ia bagai hantu yang senantiasa mengejar‐ngejar.

Baca juga: Sarinah, Sosok Wanita yang Ajarkan Bung Karno Mencintai Rakyat Jelata

Pakaian seragam dan peci hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi adakalanya kalau hari sudah malam aku menukar pakaian, pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas aku hanya memakai kemeja. Dan dengan kacamata berbingkai tanduk rupaku lain sama sekali. Aku dapat berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan karena ingin melihat kehidupan ini. Aku adalah kepunyaan rakyat. Aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka.

 Baca juga: Ketika Para Jagoan Silat Acak-Acak Konvoi Pasukan Inggris di Kranji

Perasaanku akan tenteram kalau berada diantara mereka. Ia adalah roti kehidupan bagiku. Dan aku merasa terpisah dari rakyat jelata. Kudengarkan percakapan mereka, kudengarkan mereka berdebat, kudengarkan mereka berkelakar dan bercumbu‐kasih. Dan aku merasakan kekuatan hidup mengalir keseluruh batang tubuhku.

Kami pergi dengan mobil kecil tanpa tanda pengenal. Adakalanya aku berhenti dan membeli sate di pinggiran jalan. Kududuk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanku dari bungkus daun pisang. Sungguh saat‐saat yang menyenangkan. Rakyat segera mengenalku apabila mendengar suaraku. Pada suatu malam aku pergi ke Senen, di sekitar gudang kereta api, dengan seorang Komisaris Polisi. Aku berputar‐putar di tengah‐tengah rakyat dan tak seorangpun memperhatikan kami.

Akhirnya, untuk sekedar berbicara aku bertanya kepada seorang laki‐laki, "Dari mana diambil batu bata ini dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?" Sebelum ia dapat memberikan jawaban, terdengar teriakan, "Hee," teriak suara perempuan, "Itu suara Bapak Ya, suara.., Elapak Hee, orang‐orang, ini Bapak Bapak "Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakyat datang berlari‐lari dari segala penjuru.

Dengan cepat Komisaris itu membawaku keluar dari situ, masuk mobil kecil kami dan menghilang. Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan Presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil. Memang ada beberapa orang kawanku. Tidak banyak. Seringkali pikiran oranglah yang berubah‐ubah, bukan pikiranmu. Mereka memperlakukanmu lain. Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini disekelilingku. Karena itulah, apabila aku terlepas dari penjaraku ini, aku menyenangkan diriku sendiri. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini