Kisah Prajurit TNI Bertahan dalam Kondisi Genting, Ada yang Pura-Pura Mati

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 26 Agustus 2021 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 25 337 2460901 kisah-prajurit-tni-bertahan-dalam-kondisi-genting-ada-yang-pura-pura-mati-uRVzITPmv5.jpg Ilustrasi pasukan elite. (Foto: TNI AL)

JAKARTA - Prajurit TNI dikenal memiliki keahlian khusus survival atau bertahan hidup dalam kondisi genting. Salah satu menu dalam latihannya pun adalah tentang cara bertahan di tengah hutan dengan mengonsumsi tanaman dan hewan buas.

Berikut adalah beberapa kisah anggota TNI dalam bertahan hidup: 

1. Berpura-pura Mati

Cerita seorang prajurit RPKAD (sekarang bernama Kopassus), Prada Pardjo pada masa awal perebutan Irian Barat di tahun 1961 hingga 1962 banyak mendapat sorotan. Pardjo harus bersembunyi di balik tumpukan jenazah rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu gugur.

Ketika itu, ia harus menghindari serangan tembakan yang dilancarkan tentara Belanda. Kondisi Pardjo sendiri sudah payah akibat terkena tembakan.

Baca juga: 

Bahkan, Pardjo harus berpura-pura sudah tewas ketika tentara Belanda melakukan patroli setelah serangan tersebut. Hal itu ia lakukan agar tetap bisa bertahan hidup. Bukan hanya sehari, Pardjo harus tidur dan berpura-pura tewas selama 5 hari. Sebelum akhirnya ia ditemukan warga sekitar dan dibawa ke rumah sakit.

2. Makan Tanaman Tidak Beracun

Kisah selanjutnya datang dari anggota Kopassus yang harus bertahan hidup di tengah hutan Papua dengan memakan pucuk pinang, akar tanaman dan jenis tanaman lain yang tidak beracun. Kisah itu diceritakan dalam sebuah buku yang berjudul ‘Kopassus untuk Indonesia’. Ketika itu, sang prajurit ditugaskan untuk menyerbu markas OMP di Papua hingga akhirnya tersesat di hutan.

3. Bakar Kertas di Tengah Laut

Sebanyak 4 orang anggota TNI AD terombang ambing di laut lepas selama 24 jam. Keempatnya dinyatakan hilang pada 10 Agustus 2017, setelah mesin perahu mati. Demi menyelamatkan hidup, prajurit TNI AD itu harus terus mendayung perahunya.

Namun, karena arus bawah laut yang begitu deras, perahu terbawa ke segala arah. Guna memberi tanda kepada tim Basarnas selaku regu penyelamat, para prajurit membakar kertas dan digunakan sebagai cahaya penanda. Cara itu efektif dan memberikan petunjuk kepada tim Basarnas jika keempatnya masih ada di perahu tersebut. Setelah berhasil ditemukan, para prajurit dievakuasi pada keeskokan harinya dengan kondisi selamat.

(Diolah dari berbagai sumber: Ajeng Wirachmi/Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini