Kuliah Umum ke Pasis Seskoal, Susaningtyas Kertapati Ingatkan Hati-Hati Bermedsos

Tim Okezone, Okezone · Rabu 25 Agustus 2021 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 25 337 2460819 kuliah-umum-ke-pasis-seskoal-susaningtyas-kertopati-ingatkan-hati-hati-bermedsos-ty1z1UfD2O.jpeg Susaningtyas Kertopati. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Dr. Susaningtyas NH Kertapati, M.Si memberi kuliah umum untuk Pasis Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), hari ini, Rabu (25/8/2021). Pengamat/Analis Hankam dan Intelijen itu mengingatkan agar prajurit dan keluarganya berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Dalam kuliah umunya, Nuning menyampaikan bahwa penting bagi semua prajurit & keluarganya untuk mengetahui bahwa ketika mereka masuk ke platform media sosial, mereka masih mewakili institusi militer tempat mereka bekerja.

“Untuk itu, dalam berkomentar, memposting, dan menyebarkan informasi diperlukan kehati-hatian,” ujar Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam & Cyber Security itu.

Secara umum, wanita yang karib disapa Nuning menjelaskan, hal yang perlu diperhatikan adalah dilarang memposting, menyukai (like) atau tidak menyukai (dislike), berkomentar, membagikan tautan yang bernuansa politis, ujaran kebencian, hoaks, rasisme, melecehkan, menghina, dan sebagainya, sesuai dengan hukum mengenai informasi elektronik yang ada di negara tersebut.

Secara khusus, hal yang perlu diperhatikan adalah dilarang Posting gambar yang memiliki hak cipta orang lain tanpa izin, posting detail tentang misi giat operasi.

Selanjutnya dilarang mengumumkan posisi lokasi dan waktu unit dalam operasi, rilis informasi tentang kematian anggota militer dalam tugas sebelum pihak keluarga mendapat informasi tersebut, posting gambar alutsista atau fasilitas lainnya yang rusak dan tidak terawat, posting foto, status, dan sebagainya dengan mengaktifkan menu geotagging atau lokasi anda saat dalam giat operasi.

Baca juga: TNI AL Tangkap Kapal Buronan Pemerintah Kamboja di Laut Anambas

“Serta posting yang menggambarkan lokasi pasukan, peralatan, detail unit taktis, dan jumlah personel dalam giat operasi,” lanjut Nuning.

Lebih lanjut, dalam konteks media sosial resmi kesatuan, postingan yang sifatnya giat rutin prajurit, seperti apel, penyuluhan, olahraga, dan lainnya tidak perlu terlalu sering diekspose. Karena selain tidak menarik & memiliki nilai strategis, akan cenderung membuat engangement audience terhadap akun tersebut menjadi rendah.

Nuning menjelaskan, strategi komunikasi adalah kombinasi dari semua elemen komunikasi yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi yang optimal. Hal ini penting dan mendasar dalam sebuah institusi, tidak terkecuali institusi militer.

“Tanpa adanya strategi komunikasi yang terkonsep, terstruktur dan terintegrasi, maka hal ini sama saja membiarkan representasi, citra, dan pandangan publik terhadap institusi militer Indonesia mendapat stigma seadanya, tanpa arah, dan bahkan dapat menjadi buruk,” kata Nuning.

Selain itu, lanjut Nuning, yang penting dalam membangun strategi komunikasi adalah menggali falsafah, visi misi, serta tugas & fungsi institusi tersebut untuk dikemas oleh humas dalam bentuk pesan kepada publik. 

Nuning menyimpulkan, mengingat audiens sekitar 60% atau 160 juta lebih penduduk Indonesia menggunakan media sosial, maka institusi militer & prajurit perlu hadir secara strategis dalam memanfaatkan medium media sosial untuk membangun pesan komunikasi yang positif (Institution Branding).

Selanjutnya, usia audiens pengguna media sosial didominasi oleh generasi Z (0-19 tahun) & Millenial / Y (20-39 tahun). Untuk itu, pesan komunikasi yang dikonstruksi perlu dirumuskan secara menarik, related, efektif dan komunikatif untuk membangun kedekatan dengan publik tanpa meninggalkan kode etik (sapta marga, sumpah prajurit & 8 wajib TNI), disiplin pajurit, dan nilai nilai dasar lainnya (core values).

Nuning meningatkan, mengingat karakteristik media sosial yang cepat (rapid), mudah dibagikan (shareable) & multi channel, maka kewaspadaan & kehati-hatian dalam penggunaannya bagi institusi & prajurit TNI serta keluarganya perlu dirumuskan secara cermat dan tepat melalui panduan (guideline) atau buku pegangan (hand book).

“Buku itu berisi regulasi, aturan, dan batasan, serta pedoman teknis lainnya dalam menggunakan media sosial, termasuk Two-Factor Authentication (2-FA) untuk keamanan digital, sebagaimana yang telah dilakukan di banyak negara,” ujarnya.

“Regulasi tersebut, perlu memuat adanya kewajiban untuk melaporkan dan mendaftarkan akun media sosial institusi, prajurit & keluarganya sebagai upaya monitoring dalam mencegah adanya penyalahgunaan yang dapat mencederai marwah TNI di mata publik yang dapat menurunkan kredibilitas dan trust publik terhadap TNI,” sambungnya.

“Selain itu, mengingat besarnya audiens dan perbedaan karakteristik media sosial, maka strategi komunikasi yang dilakukan perlu dirumuskan secara tepat, efektif & efisien. Untuk itu, adanya pendidikan & pelatihan yang proper bagi humas/PR institusi, serta sosialisasi bagi prajurit mutlak dibutuhkan,” ucapnya. (qlh)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini