Mengenal Kaswinah, Pasukan Setan Pimpinan MA Sentot yang 'Gempur' Belanda di Pantura

Tim Okezone, Okezone · Rabu 25 Agustus 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 337 2460577 mengenal-kaswinah-pasukan-setan-pimpinan-ma-sentot-yang-gempur-belanda-di-pantura-WBWWUbJWfE.jpg Prada (purn) Kaswinah, veteran divisi Siliwangi dan pasukan setan MA Sentot (foto: dok Okezone)

PRADA (Purn) Kaswinah, veteran Divisi Siliwangi asal Indramayu eks anggota Pasukan Setan pimpinan MA Sentot itu seorang petarung yang menggempur agresor Belanda pada waktu itu di pesisir pantai utara (pantura), Jawa Barat.

Diketahui, MA Sentot, salah satu perwira TNI Batalyon A Divisi IV (kini Kodam III) Siliwangi asli Indramayu yang disegani serdadu Belanda lantaran punya “Pasukan Setan”. Dan kakek Kaswinah adalah salah satu anak buahnya.

“Ya gimana enggak kenal baik sama Pak Sentot. Orang kita rumahnya dulu tetanggaan. Beliau juga yang ngajak saya ikut sama pasukannya,” tutur Kaswinah memulai kisahnya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Cerita Para Benalu Penghalang Revolusi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Kakek Kaswinah pun bercerita awalnya ia membantu Jepang jadi Keiho dari mulai 1944. Membantu Jepang ternyata maksudnya jadi salah satu pemuda pribumi yang dipercaya polisi khusus Jepang alias Kempeitai. Kaswinah sebagai salah satu anak kepala desa setempat, dipercaya jadi Keibodan (Pembantu Polisi) alias Keiho seperti yang disebutkannya di atas.

“Tahun 1944 banyak teman-teman, kakak saja juga ikut Jepang jadi Kaigun (Heiho Angkatan Laut. red). Sementara saya yang di sini ikut disuruh bantu polisi Jepang, KMP (Kempeitai) jadi Keibodan untuk penunjuk jalan,” tambah tokoh LVRI dan Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Indramayu itu.

Baca juga:  Bung Karno: Banyak Orang Percaya Bahwa Aku Seorang Dewa dan Sakti

“Orang Jepangnya mah ada yang bisa bahasa kita (bahasa Indonesia). Kalau ada tugas apa-apa, saya disuruh jadi penunjuk jalan ikut mereka naik sepeda. Kalau upah, kadang-kadang aja seadanya mereka buat ngasih saya. Rata-rata kalau dikasih seringgit sama mereka,” sambungnya.

Tapi kemudian Kaswinah memilih ikut MA Sentot yang membentuk Pemuda Pelopor. Kaswinah diajaknya ikut barisan pemuda itu, hingga mereka sama-sama menggabungkan diri dengan Divisi Siliwangi yang lahir 20 Mei 1946.

“Kata Pak Sentot: ‘Kamu jangan ikut Jepang. Jepang itu orang mana sih? Kamu ikut saya saja’. Enggak lama (setelah proklamasi), tahun 1946 bulan 5 tanggal 20, dibentuk Siliwangi. Di sini dibentuk Pasukan Setan yang awalnya anggotanya sekitar 360 orang,” ungkapnya.

“Disebut Pasukan Setan karena kalau dicari-cari sama Belanda, mereka enggak pernah bisa, kita selalu bisa menghilang dengan cepat. Selain itu juga karena kita punya bendera yang di tengah-tengahnya ada gambar tengkorak. Ada tulisannya PS juga, ‘Pasukan Setan’. Jadi bukan karena kita bisa menghilang (secara gaib),” terang Kaswinah.

Salah satu pertempuran dahsyat yang masuk dalam “track record-nya”, adalah pertempuran di Jembatan Bankir, medio November 1947. Pertempuran di mana Pasukan Setan pimpinan MA Sentot sukses menghantam Belanda dan merampas sejumlah senjata untuk stok pasukan.

“Waktu itu kita dapat kabar dari surat Suyogo, Kepala Rumah Sakit Indramayu yang disampaikan Pak Sudimantoro, bahwa Belanda mau menyerang ke arah markas. ketika itu markas saya ada di Gelarmendala. Setelah itu diperintahkan kita mencegat Belanda di Jembatan Bankir,” lanjutnya berkisah.

“Konvoi Belanda sekitar 13 kendaraan gempar semua itu. Taktiknya diserang mendadak dari depan oleh Pak Slamet, yang dibelakang dihantam sama Pak Sentot. Belanda hancur semua. Kita dapat sembilan senjata: satu (senapan mesin ringan) Bren, laras panjangnya delapan,” pungkas Kaswinah. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini