Ketika Orang Asing Ingin Barter Benda Seni Milik Soekarno dengan Mobil

Tim Okezone, Okezone · Rabu 25 Agustus 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 337 2460569 ketika-orang-asing-ingin-barter-benda-seni-milik-soekarno-dengan-mobil-wjEmtazSN1.jpg Presiden RI, Soekarno (foto: dok Antara)

SAAT Presiden Republik Indonesia, Soekarno menempati Istana Negara di Jakarta. Ia mengaku telah membeli sendiri furniture untuk memenuhi ruangan di Istana Negara, seperti kursi, permadani hingga meja kerja.

"Untuk Istana Negara di Jakarta aku sendiri berbelanja membeli kandil kristal yang berat dan kursi beludru cukilan emas di Eropa. Aku memungut permadani di Iraq. Aku membuat sendiri rencana meja kantorku dari satu potong kayu jati Indonesia yang utuh," ungkapnya seperti dilansir dari buku biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams.

Baca juga: Soekarno, Anak Guru yang Tertarik Berpolitik hingga Jadi Presiden

Aku merencanakan meja ruang makan Negara dari satu potong kayu jati Indonesia. Aku menggantungkan setiap kain hiasan dinding, memilih setiap barang, merencanakan dimana harus diletakkan setiap pot bunga atau karya seni pahat.

Kalau aku melihat sepotong kertas di lantai, aku akan berhenti dan memungutnya. Anggota Kabinet tertawa melihat bagaimana aku, di tengah‐tengah persoalan yang pelik, datang kepada mereka dan meluruskan dasinya. Aku senang bila makanan diatur secara menarik di atas meja. Aku mengagumi keindahan dalam segala bentuk.

Baca juga: Deretan Filosofi Barang yang Dikenakan Soekarno

Dalam perkunjungannya ke Istana Negara di Bogor, seorang Texas terpikat hatinya pada salah satu benda seniku. "Tuan Presiden," katanya tiba‐tiba. "Saya akan menyampaikan apa yang hendak saya kerjaka untuk Tuan. Saya akan menyerahkan sebuah Cadillac sebagai ganti ini."

Kukatakan kepadanya "Yah, tak soal kata‐kata apa yang telah kuucapkan kepadanya. Tapi pokoknya adalah "Tidak". Tidak satupun dari benda‐benda indah yang telah kukumpulkan dapat ditukar dengan Cadillac. Kalau aku senang kepadamu, engkau akan kuberi sebuah lukisan atau barang tenunan sebagai hadiah. Akan tetapi untuk menjualnya, tidak, sekali‐kali tidak. Semua itu akan kuwariskan kepada rakyat Indonesia, bilamana aku pergi. Biarlah rakyatku memasukkannya ke dalam Museum Nasional.

Kemudian, apabila mereka lelah atau pikirannya kacau, biarlah mereka duduk dihadapan sebuah lukisan dan meneguk keindahan dan ketenangannya, sehingga mengisi seluruh kalbu mereka dengan kedamaian seperti ia juga terjadi terhadap diriku. Ya, aku akan mewariskan hasil‐hasil seni ini kepada rakyatku. Untuk dijual? Jangan kira! Seorang orang asing yang mengerti kepadaku adalah Duta besar Amerika di Indonesia, Howard Jones. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini