Kisah Eyang Bintulu Aji, sang Pamomong Wahyu Keraton Mataram

Suharjono, Koran SI · Selasa 24 Agustus 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 23 337 2459958 kisah-eyang-bintulu-aji-sang-pamomong-wahyu-keraton-mataram-i5XPPoAMwL.jpg Petilasan Eyang Bintulu Aji (foto: ist)

BERBICARA Keraton Mataram tidak bisa lepas dari Kabupaten Gunungkidul. Di kabupaten yang dulu dikenal tandus dan gersang inilah wahyu keraton mataram berhasil didapatkan Ki Ageng Pemanahan, yang kemudian menasbihkan anak kandungnya, Danang Sutowijoyo sebagai raja Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senopati.

Sejarah wahyu Kerston dalam Kelapa muda dengan nama gagak emprit didapatkan setelah sebelumnya juga diyakini Ki Ageng Giring yang sama sama menerima bisikan atas kelapa gagak emprit tersebut.

Baca juga:  Kisah Jatuhnya Keraton Plered Mataram dan Trunojoyo Ditikam Amangkurat II

Namun Ki Ageng Pemanahan yang bertapa di Kembang Lampir daerah Giri Sekar Panggang, yang datang di rumah Ki Ageng Giring di Desa Giring, Paliyan justru minum kelapa Gagak emprit yang juga akan diminum Ki Ageng Giring sepulang dari sawah. Akhirnya Ki Ageng Giring yang sama- sama menerima bisikan, atau isaroh harus menerima kenyataan kalah dengan Ki Ageng Pemanahan yang juga saudara seperguruannya.

Padahal kelapa yang ditanam oleh Ki Ageng Giring atas wasiat Sunan Kalijaga itu hanya berbuah satu saja. Setelah melihat ada yang aneh dan mendaptkan bisikan sebagai wahyu kerajaan di jawa (Mataram) dengan kelapa karena memancarkan sinar putih, akhirnya dipetik dan dibawa ke rumahnya. Namun takdir berkata lain, Ki Ageng Pemanahan yang meminum air kelapa itu.

Dibalik cerita itu juga muncul seorang tokoh dengan nama Eyang Bintulu Aji. Nama Bintulu Aji begitu kuat menjadi bagian dari sejarah wahyu Keraton Mataram. Dua adalah tokoh yang merawat kelapa gagak emprit hingga hanya berbuah satu saja. Keanehan dan juga keyakinan mengenai wahyu kerajaan Jawa juga diterimanya melalui bisikan ghaib. Eyang Bintulu dengan tekun merawat kelapa hingga dia memanggil Ki Ageng Giring untuk segera memetik kelapa tersebut, karena memancarkan dibar putih yang cukup kuat.

Makam Eyang Bintulu Aji dan juga petilasannya, terletak di dusun Jamburejo, Kalurahan Sodo. Lokasi ini berada sekitar jarak 1 km sisi timur Makam Ki Ageng Giring.

"Eyang Bintulu Aji adalah tokoh besar yang menjaga Wahyu gagak Emprit," tutur Wir Ngatiman salah satu sesepuh di Kalurahan Sodo, Paliyan.

Menurutnya, Eyang Bintulu Aji merupakan salah satu bangsawan asal Majapahit yang ikut pelarian Brawijaya V dan tiba di Gunungkidul. Kemudian Bintulu aji memeluk Islam. Dia menjadi tokoh yang dipercaya untuk menjaga wahyu Gagak Emprit yang sebelumnya sudah diperkirakan oleh para bangsawan majapahit yang melarikan diri di Gunungkidul. Sebagai pamomong, Bintulu Aji juga tinggal tidak jauh dari rumah ki Ageng Giring.

"Beliau sangat khusuk beribadah dan seringkali menjalankan shalat di atas lempengan batu di sudut rumahnya," lanjutnya.

Hingga kini batu lempeng menjadi saksi sejarah Bintulu Aji. Dua buah batu lempeng berada di bawah pohon beringin hingga saat ini masih sering didatangi warga masyarakat. Di dekatnya makam Eyang Bintulu Aji juga menjadi lokasi ziarah selain makam ki Ageng Giring.

"Biasanya makam dan petilasan ramai saat malam selasa Kliwon, dan malam Jumat banyak yang ziarah, " lanjut Mbah Wir sapaan akrabnya.

Suryanto salah satu pelaku spiritual mengaku sering berdzikir di empat lokasi di sekitar Kalurahan Giring dan Sodo. Selain Makam ki Ageng Giring, Kali Goang, makam Ki Ageng Sukodono dan makam Eyang Bintulu Aji.

"Di petilasan Eyang Bintulu Aji suasananya enak damai disitu, kami sering berdzikir," pungkasnya. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini