Share

Cerita Candi Singosari, Dibangun Majapahit untuk Hormati Raja Kertanegara

Tim Okezone, Okezone · Selasa 24 Agustus 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 23 337 2459788 cerita-candi-singosari-dibangun-majapahit-untuk-hormati-raja-kertanegara-tWg23uLuV3.jpeg Candi Singosari. (Foto: Kemendikbud)

CANDI Singosari dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara yang telah mangkat pada tahun 1292 (leluhur raja-raja Majapahit). Prasasti Gajah Mada (1351 M) menyebutkan bahwa adanya pembangunan caitya yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada untuk batara sang mokta ring Siwa Buddha Laya.

Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya yang merupakan keturunan Mahisa Wongateleng dan Raja Udayana di Bali ini kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan di Tarik (Trowulan)

BACA JUGA: Sejarah Candi Tikus, Peninggalan Majapahit yang Jadi Sarang Tikus 

Candi ini pertama kali dilaporkan oleh Nicolaus Engelhardt seorang berkebangsaan Belanda, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa sejak 1801. Demikian dilansir dari laman Kemdikbud.

Dia melaporkan adanya reruntuhan bangunan candi di daerah dataran tandus Malang pada tahun 1803, yang kemudian dikenal dengan nama Candi Singosari. Sejak saat itu Candi Singosari mendapat perhatian orang Eropa lainnya.

Pada tahun 1804 dilakukan pemindahan arca-arca dari reruntuhan candi, arca-arca tersebut dibawa ke negeri Belanda pada tahun 1819.

Pembahasan awal tentang candi ini ditulis oleh JLA Brandes bersama dengan HL Leydie Melville dan J Kneebel dengan bukunya yang berjudul Beschrijving van Tjandi Singasari, en De Wolkentooneelen van Panataran yang terbit pada tahun 1909.

Dalam bukunya ini Brandes mengemukakan bahwa candi itu dibangun atas keputusan Dewan Pertimbangan Agung (Battara Sapta Prabu) yang terdiri dari tujuh pejabat tinggi Majapahit yang perintahnya disampaikan oleh Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisynuwarddhani kepada Mahamenteri Rakrian Empu Mada untuk mendirikan candi bagi mahabrahmana, kepala agama Siwa-Buddha, mantan mahapatih yang gugur bersama Prabu Kertanegara. Pelaksanaan pembangunan candi diserahkan kepada Patih Jinordhana.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Berdasar bunyi piagam tersebut, dapat disimpulkan bahwa Candi Singosari merupakan peninggalan Majapahit di bawah kepemimpinan Tribhuwanatungga-dewi. Pembangunan candi dimaksudkan untuk memperingati wafatnya Raja Kertanegara beserta para pejabat tinggi Singhasari (1292 M).

Candi Singosari terletak di kota Singosari yang tidak jauh dari kota Malang. Candi ini ditemukan sekitar tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard.

Apabila memperhatikan struktur Candi Singosari yang memiliki dua ruangan seperti pada Candi Jawi. Diperkirakan Candi Singosari berlatar belakang Siwa-Buddha.

BACA JUGA: Misteri Trowulan, Ibu Kota Kerajaan Majapahit Tanpa Unsur 'Mojo' 

Candi Singosari memiliki atap berbentuk piramida yang terdiri dari beberapa tingkat dan tiap tingkat dihias menara. Sisi-sisi bagian bawahnya berukuran 5 m. Bagian atas atap telah runtuh sehingga bagian yang terdapat saat ini tinggal tingkat pertama dan sebagian tingkat kedua setinggi 2,50 m. Tinggi bangunan candi yang tersisa saat ini adalah 14,10 m.

Bagian tubuh berbentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi berukuran 5,20 m dan tinggi 4,85 m. Tubuh candi kosong, tidak ada ruangan utama yang harusnya ada di sana, demikian juga dengan relung pada keempat sisi pun kosong. Melihat ukurannya memang dari awalnya relung-relung tersebut bukan tempat arca.

Tubuh candi kosong karena merupakan lambang Parama sunya, yaitu konsep tertinggi dalam agama Buddha yang tidak berwujud. Dalam Nagarakrtagama dikatakan Siva di ruang dalam, dan aksobhya berada di atas, tetapi karena bersifat sangat halus (aksobhyawimbhatisuksma) tidak terlihat disebabkan oleh kekuatan siddhinya yang berhakikat hampa.

Candi Singosari terbuat dari batu andesit, terdiri dari batur, kaki, tubuh dan atap. Batur berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisinya yang berukuran 13,85 m dan tinggi 1,90 m dan tidak memiliki relief. Tangga naik ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan makara seperti yang terdapat pada candi-candi lain.

Di atas batur terdapat kaki candi berdenah bujursangkar dengan panjang sisi 8,8 m dan tinggi 4,86 m. Kaki candi memiliki keistimewaan karena memiliki bilik dan penampil pada keempat sisinya. Penampil yang terdapat pada sisi barat merupakan pintu menuju bilik candi. Pintu masuk ini terlihat sederhana tanpa bingkai berhiaskan pahatan. Di atas ambang pintu terdapat pahatan kepala kala yang juga sangat sederhana pahatannya. Adanya beberapa pahatan dan relief yang sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa pembangunan Candi Singosari belum sepenuhnya terselesaikan.

Di kiri dan kanan pintu bilik, agak ke belakang, terdapat relung tempat arca. Ambang relung juga tanpa bingkai dan hiasan kepala kala. Relung serupa juga terdapat di ketiga sisi lain kaki Candi Singosari. Ukuran relung lebih besar, dilengkapi dengan bilik penampil dan di atas ambangnya terdapat hiasan kepala kala yang sederhana.

Sepintas bangunan Candi Singosari terlihat seolah bersusun dua, karena bagian bawah atap candi berbentuk persegi, menyerupai ruangan kecil dengan relung di masing-masing sisi. Ruang utama (garbhagrha) berada di kaki candi, suatu hal yang tidak lazim pada candi-candi di Indonesia, karena biasanya ruangan candi ada di bagian tubuh candi. Kaki candi memiliki tiga penampil pada ketiga sisinya, yang dahulunya diisi arca-arca seperti arca Durga Mahisasuramardini (utara), Ganesha (timur), dan Trnawindhu (selatan). Kecuali arca Trnawindhu, dua arca lainnya tidak lagi berada di tempatnya.

Ruang utama kosong, hanya terdapat sebuah yoni yang terletak diatas lapik berbentuk segi empat, bagian atas yoni sedikit rusak. Pada lantai kaki candi terdapat sebuah saluran kecil ke arah teras sisi utara, sehingga candi tersebut seolah-olah merupakan gambaran sebuah lingga. Pintu candi ada di sebelah barat yang diapit sepasang relung untuk arca-arca Mahakala dan Nandiswara. Pada bagian atas ambang pintu dan di atas ketiga relung dihias dengan kepala kala yang sederhana.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini