Kisah Jenderal Soedirman Jalani Perang Gerilya dengan Satu Paru-Paru

Tim Okezone, Okezone · Selasa 24 Agustus 2021 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 23 337 2459638 kisah-jenderal-soedirman-jalani-perang-gerilya-dengan-satu-paru-paru-sKdi1n4Dp7.jpeg Jenderal Soedirman. (Foto: Istimewa)

PERANG gerilya dilakukan Jenderal Soedirman untuk melawan tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Pada saat itu, Belanda telah merebut sebagian wilayah Jawa, termasuk daerah Yogyakarta.

Belanda datang lagi membonceng tentara sekutu. Tugas sekutu mengambil alih persenjataan dan memulangkan tentara Jepang. Ketika Jepang menyerah, Indonesia memproklamasikan diri menjadi negara merdeka.

Akan tetapi, Belanda tidak mau Indonesia merdeka. Belanda menyerang Indonesia dan terjadilah perang. Demikian dikutip dari buku "Teladan Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman" penulis Eri Sumarwan, diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018.

Waktu itu ada dua cara mempertahankan kemerdekaan, yaitu diplomasi dan perang. Presiden Soekarno memilih diplomasi, sedangkan Jenderal Soedirman memilih perang.

Di dalam perjanjian, Belanda ingin damai. Namun, di lapangan justru Belanda menyerang daerah pertahanan Indonesia. Oleh karena itu, Jenderal Soedirman menghadapi tentara Belanda yang ingin menguasai wilayah Indonesia kembali.

Baca juga: Menengok TMP Kusumanegara Yogya, Terdapat Makam Jenderal Besar Soedirman dan Letjen Oerip Soemohardjo

Perang gerilya adalah perang sembunyi-sembunyi. Artinya, menghindari perang terbuka. Cirinya adalah dilakukan dengan tiba-tiba dan seketika menghilang. Strategi ini dapat mengalahkan tentara Belanda yang senjatanya lebih modern.

Jenderal Soedirman memimpin langsung perang gerilya, meskipun beliau sedang sakit paru-paru. Beliau rela dinaikkan tandu dalam perjalanan yang sangat berat.

Naik turun gunung dan keluar masuk hutan untuk menghindari serangan pasukan Belanda. Hanya dengan satu paru-paru.

Belanda selalu mengejar Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Republik Indonesia. Jika pemimpinnya telah ditangkap, perlawanan tentara Indonesia akan lemah. Tentu saja, beliau tidak mau ditangkap Belanda

Beliau tetap memegang komando. Perintah beliau disampaikan melalui telik sandi, yaitu tentara yang menyamar menjadi rakyat. Beliau ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mempunyai tentara yang tidak dapat diremehkan kemampuannya.

Jenderal Soedirman pernah memimpin langsung perang melawan tentara Belanda. Perang itu terjadi di wilayah Ambarawa, Jawa Tengah. Jenderal Soedirman berhasil memukul mundur pasukan Belanda hingga melarikan diri ke arah Semarang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini