Share

BMKG: Pantai Jakarta Bisa Diterjang Tsunami Jika Gempa Besar Terjadi di Selat Sunda

Felldy Utama, iNews · Minggu 22 Agustus 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 22 337 2459138 bmkg-pantai-jakarta-bisa-diterjang-tsunami-jika-gempa-besar-terjadi-di-selat-sunda-ruwkm2NUvR.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut jika terjadi gempa di Selat Sunda dengan kekuatan besar (Megathrust), bencana tsunami akan melanda Pantai Jakarta.

Hal itu diungkapkan Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, saat memaparkan hasil pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa M8,7. Dia menyebut, Pantai Jakarta menjadi salah satu area yang akan tersapu oleh tsunami.

“Hasil pemodelan menunjukkan tsunami sampai Pantai Jakarta sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 m di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 m di Ancol-Tg Priok,” kata Daryono seperti dikutip dalam keterangannya di akun twitternya, Sabtu (21/8/2021).

Daryono melanjutkan, tsunami di Selat Sunda dapat dipicu erupsi gunung berapi dan gempa tektonik yang bersumber di zona megathrust. Tsunami akibat erupsi ini, kata dia, pernah terjadi pada saat peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada 1883.

Baca Juga : Gempa Magnitudo 4,8 Terjadi di Jailolo Halmahera Barat

Saat itu bencana alam tersebut mampu menjangkau Pantai Jakarta karena tinggi tsunami di sumbernya lebih dari 30 meter, sedangkan tsunami 2018 lebih kecil sehingga tidak sampai Jakarta.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Tsunami 1883 membanjiri pantai, menghempaskan perahu-perahu di pantai, menimbulkan kekacauan di Tg Priok, menenggelamkan 2 kapal. Dampak tsunami juga merusak beberapa jembatan dekat muara sungai di Batavia. Tsunami 1883 menjadi dasar bahwa tsunami dahsyat di Selat Sunda dapat berdampak di Jakarta,” ujarnya.

Daryono mengatakan,terkait kajian potensi tsunami dampak gempa megathrust di selatan Jawa yang berdampak hingga pantai Jakarta dengan skenario terburuk dibuat untuk tujuan membangun kesiapsiagaan masyarakat.

"Kajian potensi bahaya dengan menggunakan skenario terburuk penting untuk rujukan mitigasi, jadi kita ambil pahitnya agar kita lebih siap, meski kapan terjadinya tidak ada yang tahu, bahkan bisa jadi skenario terburuk tersebut belum tentu terjadi,” tuturnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini