Profil Letjen TNI (Purn) Kuntara, Jenderal Keturunan Tionghoa dengan Prestasi Mentereng

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 21 Agustus 2021 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 21 337 2458859 profil-letjen-tni-purn-kuntara-jenderal-keturunan-tionghoa-dengan-prestasi-mentereng-aWdLlogSEW.jpg Foto: IG @penkopassus

JAKARTA - Letnan Jenderal TNI (Purn) Kuntara meninggal dunia di usia 82 tahun. Almarhum menorehkan prestasi gemilang selama masa baktinya di TNI. Sejumlah posisi penting dijabatnya, salah satunya Danjen Kopassus. Berikut profil singkatnya.

Letjen TNI (Purn) Kuntara meninggal pukul 06.10 WIB, Sabtu (21/8/2021) di Rumah Sakit Gatot Subroto. Penerangan Kopassus menyatakan penyebab meninggal karena sakit.

Almarhum disemayamkan di Gedung Balai Komando Cijantung. Alamat duka di Jalan Haji Hasan Gang Pembina, Cijantung, Jakarta Timur.

Kuntara adalah salah satu jenderal di TNI yang berlatar belakang Tionghoa. Dia terlahir dari orangtua keturunan Tionghoa pada 1939. Kariernya dimulai saat menempuh pendidikan di Akademi Militer pada 1963. 

Kuntara seangkatan dengan mantan KSAD Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar, mantan Gubernur Jatim Mayjen TNI Basofi Sudirman, dan mantan Pangdam IX Udayana Letjen TNI Sintong Panjaitan. 

Almarhum menjabat sebagai Wakil Danjen Kopassus pada 1983-1987, lalu pada 1988-1992 naik pangkat menjadi Danjen Kopassus. Selanjutnya pada 1992 hingga 1994 Kuntara menjabat Pangkostrad.

Setelah pensiun dari militer, Kuntara dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk China. Dia sangat fasih berbahasa Mandarin.

Operasi Wayla

Kuntara ikut dalam Operasi Wayla untuk membebaskan sandera dalam pesawat Garuda DC-9 “Woyla” bernomor penerbangan 206, dengan rute Jakarta-Medan. Pesawat tersebut dibajak lima anggota radikal “Komando Jihad” pada 28 Maret 1981. Saat itu Kuntara menjabat sebagai Wadanjen Kopassus.

Pembajakan yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein itu berlangsung saat pesawat baru lepas landas usai transit lebih dulu di Palembang.

Penyandera memerintahkan Kapten Pilot Herman Rante dan Kopilot Hedhy Djuantoro untuk membawa pesawat dengan 48 penumpang dan lima kru (dua penerbang dan tiga pramugari) ke luar wilayah Indonesia.

Mendengar pembajakan tersebut, Presiden Suharto memanggil Kapusintelstrat, L.B. Murdani ke Cendana. L.B. Murdani memerintahkan Asisten Operasi Kopassandha, Letkol Sintong Pandjaitan untuk membuat rencana operasi pembebasan dengan 35 personel. Satu pesawat berjenis sama, Douglas DC-9, dipinjam untuk latihan singkat di hangar Garuda, sebelum berangkat ke Thailand.

Singkat cerita, pada 31 Maret 1981 atau tepat 40 tahun silam, sinyal hijau diberikan untuk menjalankan operasi pada hari keempat penyanderan. Grup-1 Para Komando (cikal bakal Detasemen-81 Gultor Kopassus) membuat tiga tim yang akan menerobos pintu samping dengan memanjat sayap pesawat, sementara satu tim lainnya lewat pintu belakang.

Dalam waktu singkat, tiga tim Kopassandha mendobrak pintu samping serta belakang. Merekka melumpuhkan para anggota Komando Jihad yang menyandera di dalam pesawat.

Aksi pasukan baret merah ini pun langsung mendapat pengakuan dunia internasional. Bahkan, Kopassandha disejajarkan dengan pasukan elite dunia seperti GSG 9 (Jerman) dan Mossad (Israel).

Surat kabar The Asian Wall Street Journal, tak segan menyematkan keberhasilan “Operasi Woyla”, 31 Maret 1981 di headline mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini