Ketika Foto Bung Karno Digantung di Setiap Dinding Kamar Pelacuran

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 21 Agustus 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 20 337 2458725 ketika-foto-bung-karno-digantung-di-setiap-dinding-kamar-pelacuran-qZciJN4G4j.jpg Soekarno (foto: ist)

DALAM biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams. Sebagai kepala Negara, Soekarno tidak mengetahui siapa yang harus dipercaya ketika mendapatkan laporan terkait tentang dirinya dengan rakyat Indonesia.

Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan yang bertentangan tentang diriku. Kadang‐kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana yang harus dipercayainya. Yang pertama berasal dari majalah "Look". 

Baca juga: Soekarno, Anak Guru yang Tertarik Berpolitik hingga Jadi Presiden

"Look" menyatakan, bahwa rakyat Indonesia semua menentangku. Majalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang becak yang mengatakan seakan‐akan segala sesuatu di Indonesia sangat menyedihkan keadaannya, dan orang‐orang kampung pun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.

Kusudahi membaca artikel itu pada jam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berjalan‐ jalan selama setengah djam, seperti biasanya kulakukan dalam lingkungan istana, inilah satu‐satunya macam gerak badan bagiku. Seorang pejabat polisi yang sangat gugup dibawa masuk, sambil berjalan kutanyakan kepadanya, apa yang sedang dipikirkannya. "Ya, Pak," ia memulai,

Baca juga:  Lapangan Ikada, Saksi Bisu "Sihir" Bung Karno hingga Jadi Wisata Bersejarah Jakarta

"Sebenarnya kabar baik." lanjutnya. "Apa maksudmu dengan sebenarnya kabar baik?" tanyaku. "Ya," katanya, "Rakyat sangat menghargai Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan terutama rakyat jelata. Saya mengetahui, karena saya baru menyaksikan sendiri suatu keadaan yang menunjukkan penghargaan terhadap Bapak. Kemudian ia berhenti.

"Teruslah," desakku, "Katakan padaku. Darimana engkau dan siapa yang kautemui dan apa yang mereka lakukan?"

 "Begini, Pak," ia mulai lagi. "Kita mempunyai suatu daerah, dimana perempuan‐perempuan lacur semua ditempatkan secara berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu‐waktu tertentu, karena sudah menjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan tetap. Kemarin suatu kelompok memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa yang mereka temui ‐Mereka menyaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan di dinding."

"Dimana aku digantungkan?" tanyaku kepadanya. "Ditiap kamar, Pak. Ditiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat tidur. Dekat tiap ranjang ada meja dan tepat diatas meja itu disitulah gambar Bapak digantungkan. "Dengan gugup ia mengintai kepadaku sambil menunggu perintah.

"Pak, kami merasa bahagia karena rakyat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerdjakan? Apakah akan kami pindahkan gambar Bapak dari dinding‐dinding itu?"

"Tidak," djawabku. "Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya! "Tidak seorangpun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasasn pro dan kontra seperti Sukarno. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini