Mengenal Gatot, Bocah 15 Tahun yang Menjadi Kurir Proklamasi Kemerdekaan RI

Solichan Arif, Koran SI · Sabtu 21 Agustus 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 20 337 2458715 mengenal-gatot-bocah-15-tahun-yang-menjadi-kurir-proklamasi-kemerdekaan-ri-8m537qM11S.jpg Pemuda yang menjadi kurir proklamasi kemerdekaan RI (foto: ist)

GATOT Iskandar baru berumur 15 tahun ketika dua orang utusan Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kapolri pertama RI (1945-1959), tiba di Kediri. Saat itu bulan Oktober 1945. Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta, berusia dua bulan. Deklarasi kemerdekaan yang berlangsung mencekam. Di hari itu Jepang masih berkuasa. Dengan memiliki empat batalyon bersenjata lengkap, Jakarta masih dikangkangi sepenuhnya.

"Andaikata mau, pasukan Jepang mungkin saja dapat meringkus para pejuang republiken yang ada di sana. Yang pada kenyataannya, mereka itu hanya bermodalkan semangat serta secarik kertas proklamasi," kata Mangil Martowidjojo, pengawal Bung Karno seperti dikisahkan Julius Pour dalam "Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi Sampai Orde Baru".

Baca juga:  Cerita Rakyat Aceh Baru Tahu Indonesia Merdeka Setelah 2 Minggu

Sudah dua bulan lamanya dikumandangkan, namun kabar proklamasi kemerdekaan belum juga tersebar merata. Khususnya di daerah-daerah luar Jakarta. Terutama di luar Jawa. Mereka yang kebetulan memiliki radio, bisa segera tahu. Bahwa Indonesia telah merdeka. Karena RRI (Radio Republik Indonesia) menyiarkannya berulang-ulang. Namun rakyat kelas bawah di luar Jakarta dan luar Pulau Jawa yang tidak punya radio, banyak yang belum tahu.

Pada Oktober 1945, Gatot masih tercatat sebagai siswa kelas III SMP sekolah Taman Siswa Yogyakarta. Ia juga tercatat aktif dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (Perindo). Karena situasi kacau balau, tahun 1944, sekolahnya tutup. Dan Gatot memutuskan pulang ke Kediri. Remaja yang baru tumbuh itu sedang berada di markas Perindo Kediri saat dua pemuda utusan Kapolri Soekanto tiba dari Jakarta.

Baca juga:  Kisah Veteran Perang Dilepas Tentara Belanda Berkat Kartu Pelajar

Tajib Ermadi, salah seorang tokoh pergerakan sekaligus pejuang Kediri yang kelak menjadi Pemimpin Umum Majalah Jayabaya, tiba-tiba memanggil namanya. Tajib yang menerima dua orang tamu dari Jakarta. Hayat Harahap dan Suratman. Hayat Harahap adalah keponakan Parada Harahap, salah satu tokoh pers Indonesia. Gatot dipanggil untuk diperkenalkan.

"Kedua pemuda itu dari organisasi Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMI) yang membawa surat tugas yang ditandatangani oleh Kepala Kepolisian Negara, Bapak RS Sukanto," tutur Gatot Iskandar seperti diceritakan dalam buku "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945".

Tidak banyak basa-basi. Pada intinya, Gatot terpilih sebagai kurir kemerdekaan. Ia dipercaya menyebarluaskan kabar proklamasi kemerdekaan kepada penduduk Pulau Sumatera. Tugasnya memang bukan untuk berperang. Tapi amanah itu juga tidak ringan. Di ruangan yang hanya ada empat orang, termasuk Gatot sendiri. Remaja Kediri yang SMP saja belum lulus itu, mantap menyatakan kesanggupannya.

"Usiamu memang masih remaja, masanya enak bersekolah. Tapi tanah air memanggil. Kita semua harus rela berkorban, demi kejayaan bangsa dan negara," kata Tajib Ermadi seperti tertulis dalam "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945". Gatot tidak sendiri. Dari Kediri, ia ditemani Umar. Pemuda lain yang berumuran sebaya.

Baca juga:  Ketika Soekarno Berbicara Keabnormalan Manusia di Dalam Penjara

Saat dipamiti, kedua orang Gatot langsung memberi restu. Dengan buntalan kecil berisi pakaian ala kadar dan bekal yang terbatas, Gatot dan Umar berangkat. Sebelum menuju stasiun kereta api Kediri, keduanya sengaja mendatangi pimpinan Fond Kemerdekaan Indonesia. Di era revolusi fisik, di setiap wilayah karsidenan berdiri Fond Kemerdekaan Indonesia.

Termasuk juga di Karsidenan Kediri. Tugas Fond Kemerdekaan Indonesia adalah menggalang dana sukarela untuk perjuangan. Namun bukan tambahan bekal yang didapat. Gatot dan Umar malah dititipi kotak bersegel Fond. Di sepanjang perjalanan, keduanya diminta sekalian menggalang dana. "Wah, ciloko!. Mau pergi tidak disangoni, tapi malah disuruh cari duit," ujar Gatot.

Tidak menunggu lama. Keduanya bergegas meninggalkan Kediri. Perjalanan sebagai kurir kemerdekaan menuju Pulau Sumatra diawali dengan menumpang kereta api tujuan Jakarta. Di atas kereta api trutuk (Ada yang menyebut sepur kluthuk), yakni kereta dengan lokomotif uap berbahan bakar kayu, kedua pemuda belia itu bergabung dengan penumpang lain.

Persis di bagian dada. Pada baju yang dikenakan Gatot dan Umar, masing-masing terpasang lencana kecil merah putih. Lencana berbahan logam tipis (seng) yang biasa dipakai para pejuang. Kereta api melaju sesuai dengan bahan bakar yang dipakai. Lambat. Setiap peluit menjerit, asap hitam bergelung-gelung tebal di udara. Api yang berasal dari kayu yang terbakar di atas tungku uap lokomotif, ada kalanya terpercik.

Percikan api yang dibawa angin menimpa rambut, juga membolongi baju penumpang yang berjejalan. 12 jam dengan berjalan merambat, kereta api akhirnya sampai Yogyakarta. Perjalanan berhenti sejenak. Gatot dan Umar turun. Tidak sulit menemukan sesama pejuang republik yang baru berumur dua bulan. Dengan memperlihatkan lencana merah putih, keduanya diterima dengan tangan terbuka.

Gatot dan Umar menginap semalam di Yogyakarta. Keesokan harinya. Dari stasiun Tugu, keduanya melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sejumlah pejuang sempat memberinya uang saku sebagai tambahan bekal di perjalanan. Secara fisik maupun usia, Gatot dan Umar masih remaja belia. Di sepanjang perjalanan ke Jakarta. Kesanggupannya menjadi kurir kemerdekaan mendatangkan banyak reaksi orang lain.

Sesama penumpang kereta banyak yang merasa kagum. Bersimpatik. Namun tidak sedikit yang mencibir, memandang sebelah mata, dan bahkan mengolok-olok. Namun kedua remaja itu tidak berusaha meladeni. Tiba di Kota Purwokerto, Jawa Tengah, kereta api kembali berhenti. Di hari itu petugas kereta api harus kembali menyiapkan bahan bakar yang habis.

Roda-roda diperiksa. Sekrup-sekrup dikontrol. Gandengan antar gerbong dan tungku pembakar tidak luput dari pemeriksaan. Bahkan masinis, kondektur dan stoker atau petugas yang bertanggung jawab atas tungku pembakaran, juga diganti. Sesuatu yang umum di jaman itu. Dalam setiap trayek jarak jauh, secara estafet petugas kereta api dilakukan penggantian.

Seperti di Yogya. Di Purwokerto, Gatot dan Umar juga kembali menginap semalam. Keesokan harinya kereta kembali melanjutkan perjalanan. Belum lama berjalan, dari kejauhan terdengar rentetan tembakan. Para penumpang sontak panik. Gelisah. Bertanya-tanya. Mereka khawatir tembakan akan mendekat. "Katanya sudah merdeka. Lha kok perang lagi".

Terbawa suasana, Gatot dan Umar juga turut gelisah. Untungnya, suara-suara tembakan itu tidak lama kemudian mereda dan hilang. Saat itu tidak banyak yang tahu. Sejak 8 September 1945. Melalui Jakarta, Semarang, dan Surabaya tentara sekutu yang dipelopori Inggris telah masuk tanah air. Kedatangan mereka untuk melucuti tentara Jepang dipimpin Letnan Jendral Sir Philip Christison.

Belanda dengan pasukan NICA membonceng. Paska kekalahan Jepang, Belanda ingin memulihkan kembali kekuasaanya di Indonesia. Pertempuran pun meletus di mana-mana. Setelah sempat kembali menginap semalam di Cirebon, perjalanan Gatot dan Umar yang berlangsung empat hari, sampai juga di Jakarta. Keduanya turun di stasiun Jatinegara.

Melalui petunjuk nomor kontak dari Tajib Ermadi, Gatot dan Umar naik trem dengan tujuan Pegangsaan Timur. Syarif dan Syafei, dua pemuda penjemputnya, menyarankan Gatot dan Umar mencopot lencana merah putih yang dikenakan. Bagi para pejuang republik, Jakarta dalam situasi berbahaya. Belanda ada di mana-mana, berpatroli sekaligus melakukan aksi polisional.

Panasnya suhu politik Jakarta berlangsung sejak Proklamasi Kemerdekaan berkumandang. Sebulan paska proklamasi, sebanyak 200 ribu warga berbondong-bondong memadati lapangan Ikada (Sekarang lapangan Monumen Nasional). Dengan membawa berbagai senjata tajam, kepungan tank dan panser pasukan Jepang diterobos. Rakyat minta perang. Menunggu perintah Presiden Soekarno menghancurkan Jepang.

Bung Karno naik mimbar dan untungnya berhasil menenangkan massa yang sudah siap berani mati. "Belasan ribu orang tersebut bisa ditenangkan. Mereka kembali ke rumah masing-masing," kata Mangil Martowidjojo, Pengawal Bung Karno dalam "Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi Sampai Orde Baru". Sementara oleh dua orang penjemputnya, Gatot dan Umar diantar ke jalan Bonang.

Di sebuah rumah bagus milik BR. Motik, yakni kakak Johan salah seorang pengurus Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMI). Gatot dan Umar menginap sambil menunggu perintah selanjutnya. Esok harinya, oleh aktivis GAMI, keduanya dibawa ke Sawah Besar. Di sebuah rumah yang sudah disiapkan, Gatot dan Umar dipertemukan dengan kurir kemerdekaan dari daerah lain.

Suroso Prawirodirdjo dari Madiun. Pemuda Suroso merupakan pegawai jawatan kereta api yang juga aktif di organisasi Angkatan Muda Kereta Api. Dari Madiun Suroso ditemani Bonggar, pegawai jawatan kereta api kelahiran Sumatera Utara. Gatot dan Umar yang berusia paling belia juga diperkenalkan dengan pemuda Indratno, kurir kemerdekaan asal Yogyakarta, Supardi dari Banyumas, Cik Somad asal Palembang, Syamsudin dari Bengkulu, Anwar serta Azwar dan Rivai (Keduanya kakak adik) dari Minangkabau dan Hamid dari Tapanuli.

Di Jakarta yang situasinya mencekam, mereka menginap selama dua minggu. Briefing dan arahan mereka terima. Hingga tiba saatnya melanjutkan jalan. Dari Sawah Besar mereka bersama-sama menuju Pasar Ikan untuk menaiki kapal. Tim kurir kemerdekaan dibagi. Umar dan Cik Somad ke Lampung. Syamsudin dan Supardi ke Bengkulu. Azwar, Rifai dan Anwar ke Sumatra Barat. Suroso dan Bonggar ke Sumatra Utara serta Gatot dan Hamid ke Tapanuli.

Perjalanan sempat terjeda lima hari, karena mesin kapal mendadak rusak dan harus dibenahi. Masih di perairan Tangerang, kapal kayu itu kembali mogok. Dibantu nelayan yang melintas, rombongan dievakuasi ke darat. Mereka memutuskan mendatangi markas Akademi Militer Tangerang. Gatot Cs sempat bertemu tokoh militer Daan Mogot dan Kemal Idris.

Setelah istirahat semalaman, rombongan diantar menuju Serang. Di atas geladak kapal BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut, yakni cikal bakal TRI dan TNI, rombongan menyeberang ke Sumatra. Untuk menghindari patroli Belanda di selat Sunda, penyeberangan melalui Anyer dilakukan pagi-pagi buta. Empat jam terapung di atas air. Penumpang yang belum terbiasa mulai terserang mabuk laut. Menguras isi perut untuk diberikan kepada ikan-ikan. Suroso, salah satunya.

Rombongan akhirnya sampai di Ketapang yang dilanjut dengan menempuh jalan darat. Semuanya berjalan kaki hingga tiba di Kalianda, Lampung. Sebuah truk jemputan menunggu. Satu persatu naik, dan langsung diangkut menuju Tanjungkarang. Tiba di kediaman Residen Lampung Mr Harahap, semua diminta turun. Rombongan melihat Hayat Harahap, tokoh GAMI yang mereka temui di Jakarta, sudah ada di lokasi.

Semua merasa lega karena ternyata tidak tersesat. Rasa penat dilepas. Dua malam mereka menginap sekaligus bisa beristirahat. Tepat hari ketiga, semua berkemas, karena perjalanan kembali dilanjutkan. Dengan bekal beras dan uang ala kadar, tugas sebagai kurir kemerdekaan, dimulai.

"Yang ditugaskan ke Bengkulu dan Palembang, naik dalam satu bus jurusan Palembang. Sedangkan yang bertugas ke Sumatra Barat, Tapanuli dan Sumatra Utara, dalam satu bus pula," tulis Gatot dalam "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945".

Di Palembang rombongan berpencar. Masing-masing mendapat surat jalan yang intinya menerangkan pembawa surat adalah anggota organisasi pemuda dari Jawa yang bertugas menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan. Surat tugas hanya akan diperlihatkan kepada pejabat setempat. Juga ketika ada penggeledahan pejuang. Mereka diwanti-wanti menyembunyikan surat tugas dari tentara Jepang maupun Belanda.

Di Palembang, tentara Jepang masih giat melakukan patroli keamanan dan penggeledahan. Kabar kekalahan Perang Dunia II, termasuk informasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, sengaja ditutup rapat-rapat. Begitu juga di jalan-jalan Bukittinggi. Tentara Jepang juga masih giat berpatroli. Suroso dan Bonggar menemui Djamaluddin Adinegoro selaku Kepala Perwakilan RI di Bukittinggi. Adinegoro yang kelak menjadi tokoh Pers Indonesia merupakan adik Mohammad Yamin, beda ibu.

Dalam "Sketsa Tokoh, Catatan Jakob Oetama" menuliskan : Ketika Proklamasi Kemerdekaan bergema di Pegangsaan Timur, Adinegoro menjadi Ketua Komite Nasional Sumatra. Kemudian menjadi komisaris besar pemerintah RI di Bukittinggi, kepala penerangan dan menerbitkan Harian Kedaulatan Rakyat. Dari Adinegoro, Suroso dan Tonggar mendapat surat jalan ke Medan. Adinegoro juga menyelipkan beberapa lembar uang Jepang sebagai bantuan bekal perjalanan.

"Barangkali ada gunanya nanti," kata Adinegoro seperti dikisahkan dalam "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945". Perjalanan Bukittinggi-Medan ditempuh dengan bus umum. Kondisi jalan sama buruknya jalur Palembang-Bukittinggi. Di perjalanan, di depan para penumpang, Suroso dan Bonggar meluangkan kesempatan untuk menyampaikan kabar Proklamasi Kemerdekaan.

Kabar itu disambut gembira. Banyak yang ingin tahu lebih jauh situasi Pulau Jawa. Banyak penduduk Sumatra yang belum mengetahui Indonesia sudah merdeka. Di Medan, rakyat bergerak lebih progressif. Para pemuda merampas senjata tentara Jepang dan membentuk Tentara Rakyat. Revolusi sosial digerakkan. Kaum bangsawan serta ambtenar yang dulu pro Belanda mulai dipersempit ruang geraknya.

Belanda mengimbangi dengan membentuk Poh An Tui, pasukan keamanan bersenjata yang terdiri dari orang-orang Tionghoa. Medan tidak aman. Kontak senjata berlangsung di mana-mana. Banyak penduduk yang mengungsi ke Pematangsiantar. Kedatangan pemuda Jawa yang membawa kabar Indonesia merdeka membuat para pejuang Tentara Rakyat semakin bersemangat. Dengan cepat kabar tersebut menjalar ke mana-mana.

Saat di Medan, Bonggar menyempatkan pulang ke kampung kelahirannya di Tapanuli dan tidak kembali. Suroso sendirian. Pemuda Madiun itu menunggu kedatangan Gatot Iskandar dan Hamid yang masih melakukan tugasnya di Sumatra Barat. Sementara tiga hari di Muara Bungo, Gatot dan Hamid melanjutkan jalan ke Sawahlunto. Di setiap kesempatan apapun, di depan warga setempat, mereka selalu bercerita Proklamasi Kemerdekaan.

Bercerita tentang situasi Jawa dan Indonesia yang sudah merdeka. Dari Sawahlunto perjalanan menyambung ke Bukittinggi. Gatot dan Hamid juga bertemu dengan Djamaluddin Adinegoro. Gatot sempat dibawa ke atas panggung. Di depan massa pemuda Bukittinggi, ia berpidato tentang Proklamasi Kemerdekaan. Pemuda asal Kediri itu juga berseru kepada massa untuk bersatu padu melawan Belanda yang kembali datang bersama Sekutu. Di Bukittinggi Hamid menyempatkan pulang ke kampung halamannya.

Seperti Bonggar. Hamid juga tidak kembali. Gatot praktis melakukan kerja-kerja perjuangan seorang diri. Seluruh tokoh-tokoh penting di daerah setempat ia datangi. Di Batangtoru. Di Sibolga. Di Tarutung. Sesuai tugasnya, Gatot mengabarkan Proklamasi Kemerdekaan telah dikumandangkan. Dari Balige, Gatot Iskandar seorang diri menempuh perjalanan menuju Medan. Tiba di Medan, Gatot kembali bertemu Suroso.

Setelah beristirahat semalam, kedua pemuda itu langsung melanjutkan perjalanan ke Aceh. Di Balai Penerangan Langsa, Gatot dan Suroso bertemu banyak tokoh penting. Seorang tokoh PNI yang hijrah ke Partai Murba, sejumlah pejuang eks Digul, serta tokoh Masyumi. Kabar yang dibawa keduanya semakin memompa semangat para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Di studio mini penyiaran berita balai penerangan, Gatot mengabarkan Proklamasi Kemerdekaan. Suaranya terdengar hingga ke sudut-sudut kota. Di Langsa dan Kuala Simpang, Gatot dan Suroso juga banyak menjumpai tokoh-tokoh pejuang yang sengaja memiara cambang brewoknya. Mereka berikrar tidak akan mencukur bulu sebelum Jepang benar-benar hengkang dari Kuala Simpang.

"Ikrar itu kemudian diperpanjang sampai pada Indonesia Merdeka penuh, bulat dan berdaulat," kata Gatot seperti dikisahkan dalam "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945". Di Kutaraja Aceh, Gatot dan Suroso sempat bertemu Tengku Mohammad Daud Beureueh. Tokoh ulama yang terkemuka. Bersama beberapa tokoh pejuang asal Aceh, dua pemuda asal Kediri dan Madiun tersebut, sempat diajak menyeberang ke Pulau Pinang dan Malaya (Malaysia).

Di negeri Jiran keduanya bertemu sejumlah tokoh pejuang Malaya yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Gatot dan Suroso juga bertemu enam orang bekas romusha di Birma. Semuanya orang Jawa yang berharap bisa kembali ke kampung halaman masing-masing. Bersama enam orang bekas romusha asal Jawa, dan tiga orang Aceh yang hendak bersekolah di Yogyakarta, Gatot dan Suroso kembali ke Jawa.

Dengan menumpang kapal laut yang setiap saat menghindari patroli Belanda, perjalanan berlangsung berhari-hari. Dari stasiun Gambir Jakarta, perjalanan berlanjut ke arah timur. Perjalanan pulang. Tugas sebagai kurir kemerdekaan, sudah selesai. Suroso turun di Madiun. Gatot yang menolak singgah karena sudah rindu kampung halaman, langsung terus ke Kediri. Bocah pejuang yang sempat dikira tidak akan pernah kembali itu, telah pulang. (din)

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini