Share

Mengenang 7 Pahlawan Wanita, dari RA Kartini hingga Fatmawati

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 19 Agustus 2021 07:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 337 2457484 mengenang-7-pahlawan-wanita-dari-ra-kartini-hingga-fatmawati-w0mte8tj4H.jpg RA Kartini (Foto : Istimewa)

TAK hanya kaum pria saja yang berjuang di medan perang guna melawan penjajah. Nyatanya, terdapat kaum perempuan yang ikut andil berjuang di medan perang.

Berikut beberapa pahlawan wanita yang berjuang:

1. Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Dia dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Melalui Kartini, dia berjasa terhadap kesetaraan hak perempuan dan laki-laki. Dia pernah merasakan sekolah di Europese Lagere School (ELS). Namun dia berhenti sekolah karena akan dinikahkan. Mesti tidak bersekolah dia tetap belajar sendiri.

Dia juga rajin menulis surat berbahasa Belanda kepada teman-temannya di Belanda. Surat-surat yang ditulis Kartini menarik Belanda. Surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Mr. J. H. Abendanon dan diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Pada 17 September 1904 RA Kartini wafat. Dia diberi gelar pahlawan nasional pada 2 Mei 1962.

2. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir pada 1848. Dia dikenal karena ketangguhannya dalam memimpin pasukan melawan Belanda di Perang Aceh. Dia bersama sang suami Teuku Ibrahim Lamnga berada di garis depan untuk melawan Belanda. Namun nahas, sang suami tewas dalam pertempuran. Cut Nyak Dien tidak pantang menyerah, dia bersama suami keduanya Teuku Umar berjuang kembali melawan Belanda.

Teuku Umar tewas saat berperang. Cut Nyak Dien ditangkap Belanda dan dibawa ke Banda Aceh. Cut Nyak Dien meninggal dunia pada 6 November 1908. Karena kegigihannya, pada 2 Mei 1964 Cut Nyak Dien mendapat gelar pahlawan nasional.

3. Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia bersama sang suami Teuku Cik Tunon berusaha mengusir Belanda yang saat itu menduduki Aceh. Sang suami tewas di medan perang. Perjuangan melawan Belanda berlanjut bersama suami keduanya Pang Nanggroe. Namun, sang suami juga tewas akibat serangan Belanda. Cut Meutia akhirnya berjuang bersama pasukannya hingga wafat. Tahun 1964, atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional.

4. Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika juga dikenal sebagai orang yang memperjuangkan orang pribumi khususnya perempuan untuk mengenyam pendidikan. Dia terlahir dari keluarga ningrat sehingga dapat mengenyam pendidikan. Seperti yang diketahui, pada masa penjajahan Belanda hanya sedikit perempuan pribumi yang dapat mengenyam pendidikan. Sejak kecil Dewi Sartika terlihat mempunyai bakat untuk mengajar. Pada 1904, dia mendirikan Sekolah Istri.

Sekolah tersebut berkembang pesat dan akhirnya pada 1929, sekolah tersebut berganti nama Sekolah Raden Dewi. Saat agresi Militer Belanda, dia turut berjuang melawan Belanda. Kondisi yang mencekam mengharuskan Dewi Sartika mengungsi. Pada 11 September 1947 Dewi Sartika meninggal dan dia beri gelar pahlawan nasional pada 1 Februari 1966.

5. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu lahir di Maluku, 4 Januari 1800. Dia merupakan putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku. Saat usia 17 tahun, dia bersama sang ayah ikut turut berperan dalam pertempuran melawan Belanda di pulau Saparua tepatnya di desa Ouw, Ullath.

Dalam pertempuran tersebut Martha memimpin pasukan perempuan dan memberikan semangat guna menghancurkan musuh. Richemont, pimpinan perang Belanda dapat dibunuh oleh pasukan Martha Christina. Akibatnya Belanda semakin brutal dan menyerang warga Maluku.

Kapitan Paulus Tiahahu diijatuhi hukuman mati. Martha Christina meninggal pada 2 Januari 1818. Jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan militer di Laut Banda. Dia secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional pada 20 Mei 1969.

6. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang mempunyai nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Ia lahir di Serang, 1972. Tak mau negerinya dijajah Belanda, dia pun ikut bergabung dalam Perang Diponegoro. Ia dikenal mempunyai taktik strategi perang yang hebat, sehingga Pangeran Diponegoro menjadikannya sebagai penasihat siasat perang. Nyi Ageng Serang meninggal dunia pada 1828. Dia diberi gelar pahlawan nasional pada 13 Desember 1974.

7. Fatmawati Soekarnoputri

Siapa yang tak kenal Fatmawati Soekarnoputri? Dia adalah istri dari Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Selain itu Fatmawati adalah perempuan yang menjahit bendera merah putih saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Berkatnya, sang saka merah putih dapat berkibar. Fatmawati meninggal pada 14 Mei 1980 di Malaysia karena serangan jantung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini