Mengenal 5 Pahlawan yang Dijadikan Nama Bandara

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 19 Agustus 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 337 2457478 mengenal-5-pahlawan-yang-dijadikan-nama-bandara-QUhypMcgty.jpg Ilustrasi Bandara Ahmad Yani

BANDARA atau bandar udara menjadi salah satu pintu gerbang masuknya wisatawan asing dari berbagai negara. Data BPS mencatat, ada sebanyak 27 bandara domestik dan 274 bandara internasional di tanah air, per tahun 2016.

Penamaan bandara-bandara di Indonesia juga tidak sembarang dan umumnya diambil dari nama pahlawan nasional. Berikut daftarnya:

1. Adi Soemarmo

Bandar Udara Adi Soemarmo terletak di kota Solo, Jawa Tengah. Dahulu, bandara ini bernama Lanud Panasan, karena lokasinya yang berada di wilayah Panasan dan dibangun pada 1940 oleh pemerintah kolonial. Dikutip dari laman resmi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu milik Pemprov Jawa Tengah, Lanud Panasan berubah nama menjadi Bandara Adi Soemarmo pada 25 Juli 1977.

Adi Soemarmo sendiri adalah seorang pahlawan nasional asal Blora, Jawa Tengah. Pria yang bernama lengkap Adisumarmo Wiryokusumo itu mendirikan sekolah Telegrafis Radio Udara di lingkungan TNI AU. Sekolah tersebut adalah cikal bakal sekolah Radio Udara AU. Adi gugur pada Juli 1947 di dalam sebuah pesawat Dakota VT-CLA yang membawanya bersama dengan bantuan dari Palang Merah milik negara sahabat kepada Indonesia.

Pemerintah kemudian menetapkan ia sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 071/TK/107 pada 9 November 1974.

2. Ahmad Yani

Ahmad Yani dikenal sebagai pahlawan revolusi Indonesia yang gugur di tangan para pemberontak pada 1 September 1965. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965, Ahmad Yani dinyatakan dan diangkat sebagai pahlawan revolusi. Selain itu, ia juga dianugerahi pangkat luar biasa menjadi Jenderal anumerta.

Nama Ahmad Yani diabadikan menjadi nama sebuah bandara di Semarang, Jawa Tengah. Menilik informasi yang tertera di laman resmi Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani, pada 1995, bandara tersebut adalah pangkalan udara milik TNI AD. Kemudian, seiring berjalannya waktu terjadi peningkatan trafik penerbangan sipil di bandara tersebut. Pengelolaannya lantas diserahkan ke PT Angkasa Pura I (Persero) pada 1 Oktober 1995.

Pada September 2018, PT Angkasa Pura I (Persero) menyempurnakan nama bandara tersebut, yang semula bernama Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang menjadi Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani. Hal itu dilakukan berdasarkan keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 947 per tanggal 26 Juni 2018.

3. Depati Amir

Bandara Depati Amir adalah sebuah bandar udara yang berlokasi di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Melansir situs PT Angkasa II (Persero), bandara tersebut dibangun pada 1942, saat masa pendudukan Jepang dengan nama Pelabuhan Udara Pangkal Pinang. Kemudian, baru berganti nama menjadi Bandara Depati Amir pada 25 Agustus 1999.

Nama bandara tersebut diambil dari nama seorang pahlawan nasional asal Bangka, Depati Amir. Menurut Kemendikbud, Depati Amir resmi dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Joko Widodo pada 6 November 2018 melalui Keputusan Presiden Nomor 23/TK/tahun 2018.

4. Halim Perdanakusuma

Bandara selanjutnya yang diambil dari nama pahlawan nasional adalah Halim Perdanakusuma. Bandara ini terletak di wilayah Jakarta Timur dan memiliki sejarah yang cukup panjang. Melansir laman situs PT Angkasa II (Persero), bandara tersebut awalnya berupa lapangan terbang besutan Belanda yang berdiri pada 1924.

Lapangan terbang itu dinamakan Lapangan Terbang Tjililitan atau Vliegveld Tjililitan. Baru kemudian pada 17 Agustus 1952, lapangan udara itu berganti nama menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Seperti diketahui, Halim Perdanakusuma adalah pahlawan nasional yang gugur saat tugas dalam perang melawan Belanda. Menurut informasi yang terdapat di laman resmi TNI AU, Abdul Halim Perdanakusuma juga dikenal sebagai Bapak Penerbangan AURI. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 1975, berdasarkan Keputusan Presiden No, 063/TK/1975.

5. I Gusti Ngurah Rai

Dikutip dari beragam sumber, bandara internasional yang terletak di pulau Dewata, Bali ini dibangun oleh pemerintah Belanda dengan nama Pelabuhan Udara Tuban, karena letaknya di desa Tuban. Pada 1969, Pelabuhan Udara Tuban berganti nama menjadi Pelabuhan Udara I Gusti Ngurah Rai yang diresmikan oleh presiden Soeharto.

Hingga kini, bandara tersebut masih menjadi bandara tersibuk kedua di Indonesia, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Terlebih, lokasinya yang berada di Bali dan memang menjadi tujuan wisata banyak turis, baik domestik maupun internasional.

Nama bandara ini diambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia, Brigjen TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai yang berasal dari Badung, Bali. Ngurah Rai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1975. Selain itu, wajahnya juga dicantumkan dalam pecahan uang nominal Rp50.000 yang dikeluarkan Bank Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini