Kisah Anak Jadi Yatim Piatu Akibat Covid-19: Kalau Mendengar Kata "Ibu-Bapak" Menangis Sampai Sesak

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 14 Agustus 2021 05:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 14 337 2455448 kisah-anak-jadi-yatim-piatu-akibat-covid-19-kalau-mendengar-kata-ibu-bapak-menangis-sampai-sesak-v2J67Aqu6n.jpg Ilustrasi anak (Foto: Getty Images/BBC Indonesia)

RISQITA Wicahyanti mengingat jelas detik-detik terakhir kepergian kedua orangtuanya akibat Covid-19. "[Mereka pergi] sama-sama dalam keadaan tidur," kenangnya.

Ibu Risqita, Dewi Masruratin, meninggal dunia menyusul sang suami, Priyo Wicahyo, hanya berselang 24 jam sebelumnya. Nyawa kedua warga Purwakarta ini direnggut Covid-19 pada 10 dan 11 Juli lalu.

Sepuluh hari terpapar Covid-19 dan tiga hari dirawat di rumah sakit, nyawa keduanya tak tertolong. "Aku enggak mikirin apa-apa, malah enggak tahu mau ngapain, seperti tidak sadar diri saja. Gimana ya, bingung, tapi yang pasti sedih," ungkapnya.

Baca Juga:  Kemenkes Akan Evaluasi Harga Tes PCR dan Antigen

Selama menjalani isolasi mandiri di rumah, Risqita menuturkan, gejala yang dialami kedua orangtuanya tak terlalu parah. Bahkan, sang ayah sempat membaik.

Namun, tak lama, kondisi ibunya memburuk dan mengalami sesak napas dengan saturasi oksigen 80 persen. Dewi akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang isolasi.

Esoknya, Risqita menemukan kondisi ayahnya juga memburuk dengan saturasi oksigen yang sama dengan ibunya.

"Pas saya cek, Bapaknya sudah eungap [sesak]. Jadi sama-sama masuk ke IGD, rumah sakit yang sama dan ruang isolasi yang sama," tutur Risqita kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Selama di rumah sakit, Risqita menemani ibu bapaknya di ruang isolasi, meski ada risiko tertular Covid-19. Baca Juga: 407 Anak di Semarang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Pihak rumah sakit, kata Risqita, mengizinkan keluarga terdekat menemani pasien dengan sejumlah syarat, antara lain dalam kondisi sehat dan tidak terpapar Covid-19, memakai alat pelindung diri, dan sama-sama melakukan isolasi.

"Dari bangun [tidur] terus makan, Bapak selalu minta maaf. [Bapak] sempat tanya, Bapak tuh capek banget sesak terus, kapan enggak sesak laginya? Dua jam sebelum Bapak enggak ada, bilang ke saya begitu," kenang Risqita.

"Kalau Ibu, tenggorokannya sakit dan susah berbicara. Ibu hanya melihat saya terus, lalu ditanya oleh perawat, 'Ibu mau bilang apa?'. Tapi karena kondisi Ibu tidak bisa bicara apa-apa, Ibu hanya ingin dipeluk saja."

Risqita yang berusia 19 tahun mendadak jadi yatim piatu dan mengemban tanggung jawab mengurus dua adiknya, Muhammad Fathan, 16 tahun, dan Muhammad Ikhwanul Azmil, sembilan tahun.

Kehilangan 'sosok' orangtua

Sementara itu di Kabupaten Bandung, Ziddan Afghani mendapati neneknya meninggal di rengkuhannya.

Sang nenek, Warsini, usia 63 tahun mulanya akan menjalani operasi karena diduga ada tumor di paru-paru. Tapi saat menjalani tes usap Covid-19 sebagai prosedur pra-operasi, Warsini dinyatakan positif sehingga harus menjalani isolasi mandiri.

Di hari kedua isoman pada 8 Juli lalu, neneknya minta dibopong ke kamar mandi. Selepas dari kamar mandi, Warsini pingsan.

"Untung sama Ziddan ditangkap. Kalau enggak jatuh ke lantai," ujar Ziddan yang kemudian mengetahui neneknya ternyata sudah meninggal.

Ziddan yang berusia 21 tahun kini hanya tinggal berdua dengan adiknya, Zihan Azzahra, 11 tahun.

Sejak kecil, keduanya telah menjadi yatim piatu karena ditinggal ayah dan ibu yang meninggal karena sakit. Setelah itu, kedua saudara kandung tersebut dirawat oleh neneknya, Warsini.

Kepergian neneknya seolah menjadi rentetan kehilangan orang terkasih di kehidupan Ziddan dan Zihan.

Ditinggal tulang punggung keluarga

Agnes Natalia Kristianti, 39 tahun, mengaku kaget ketika suatu malam, saat ia sedang menangisi kepergian suaminya, putranya yang baru berusia 10 tahun, Ferdinand Hendarwan atau biasa dipanggil Ednan menghampiri dan mengelus punggungnya.

"Kami saling menguatkan," kata Agnes pada Furqon Ulya Himawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Iwan Hendarwan, sang suami, meninggal dunia pada pertengahan Juli setelah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Yogyakarta.

Sebelum masuk rumah sakit, Agnes dan suaminya telah menjalani isolasi mandiri di rumah mereka yang terletak di Kabupaten Sleman setelah mendapati hasil tes antigen mereka positif Covid-19.

Namun dua hari berselang, Iwan mengeluh merasakan nyeri dan tidak bisa tidur. Ia harus dibantu oksigen untuk terlelap. Setelah oksigen di rumah mereka mulai habis, Agnes dan suaminya masuk rumah sakit.

"Karena saya juga positif, jadi saya ikut mendampingi suami di ruang isolasi sampai suami saya akhirnya meninggal," ujarnya.

Agnes yang berprofesi sebagai karyawan marketing sebuah bank kini menjadi kepala keluarga. Ia mengaku harus tetap tegar dan terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya serta menyekolahkan anaknya.

KPAI: Negara harus hadir

Risqita di Purwakarta pun tidak bisa berlama-lama larut dalam duka. Selain tetap kuliah, Risqita mengurus rumah tangga dan mengelola toko peninggalan ibunya. Toko inilah yang nantinya akan menjadi sumber penghidupan bagi dirinya dan kedua adiknya.

Tapi sebelum itu, Risqita dituntut untuk tidak hanya menjadi sosok yang kuat dan tabah tapi juga menghibur bagi kedua saudara kandungnya.

Adik yang pertama adalah penyandang tunarungu yang memiliki keterbatasan komunikasi, sementara adik yang paling kecil, yang masih berusia sembilan tahun, masih terguncang emosinya.

"Adik yang paling kecil kalau tidur selalu sama Ibu dan Bapak. Sekarang saja dia masih trauma kalau mendengar kata 'ibu' dan 'bapak', mau di handphone, di telepon, atau di televisi. Kalau orang cerita, langsung itu, dia pasti menangis sampai sesak."

Menurut Komisaris dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti, negara harus hadir -mulai dari pemberian pendampingan psikologis, hingga pemberian bantuan kesehatan dan pendidikan.

"Pertama-tama [yang harus dilakukan] tentu pendataan. Kementerian Dalam Negeri melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) harus memastikan berapa angka kematian orang tua yang punya anak-anak usia di bawah 18 tahun," kata Retno melalui sambungan online.

Selanjutnya, menurut Retno, Kemendagri berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan untuk menyiapkan program-program yang dapat diakses anak-anak yatim piatu Covid, seperti Kartu Indonesia Sehat dan Program Keluarga Harapan.

"Jadi anak-anak ini tetap bisa melanjutkan pendidikan dan tetap bisa melanjutkan hidup," lanjut Retno.

Sementara, melalui sebuah rilis, Kementerian Sosial menyatakan bahwa data akurat by name by address yatim piatu Covid masih dalam proses pengumpulan tim di lapangan.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan Covid-19 per 20 Juli 2021 diketahui terdapat 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu.

Namun, KPAI memprediksi terdapat lebih dari 40.000 anak, dan Kawal Covid-19 mengestimasi lebih dari 50.000 anak telah menjadi yatim/piatu akibat pandemi hingga Juli lalu.

Meski demikian, KPAI mengingatkan bahwa data kualitatif juga dibutuhkan di samping data kuantitatif atau data berupa angka. Sehingga terdapat pemahaman bahwa setiap anak atau keluarga menghadapi situasi yang berbeda-beda dan bantuan tetap bisa disalurkan pada mereka yang terdampak dan membutuhkan.

"Apakah si anak ini misalnya pengasuhannya di kakek nenek, tidak di ayah ibu. Tapi kakek neneknya meninggal, itu juga jumlahnya pasti ada," kata Retno.

"Kalau data ini sudah ada, dan penyebarannya jelas - berapa jumlahnya, ada di mana saja, maka kita bisa bikin bantuan melalui APBN dan APBD."

Inisiatif warga untuk yatim piatu Covid-19

Kisah kakak adik Ziddan dan Zihan terdengar luas setelah seorang tetangga, Siti Nur Fatimah mengunggahnya ke sosial media.

"Alhamdulillah, banyak banget [bantuan] sampai akhirnya oleh Ziddan disedekahkan lagi untuk yang isoman karena mungkin kebanyakan. Untuk beberapa bulan ini Insya Allah ada [uang] buat [biaya hidup] mereka," kata Siti kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Untuk kebutuhan sehari-hari saat ini, Ziddan mengaku mendapat bantuan berupa makanan dan uang dari berbagai pihak, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Bantuannya seperti, sembako, makanan ringan, makanan yang buat dimasak, dan uang," kata Ziddan yang mengaku ditawari untuk melanjutkan kuliah.

Sementara itu, Risqita juga merasa beruntung mendapat bantuan dari kerabat dan tetangga. Ia dan adik-adiknya juga dijanjikan mendapat beasiswa hingga mencapai gelar sarjana dari Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika.

Namun, banyak yatim piatu Covid-19 lainnya yang tidak mendapatkan perhatian khalayak luas ataupun bantuan langsung dari pejabat publik.

Berangkat dari keresahan akan masalah ini, sejumlah pihak seperti Alfatih Timur, pendiri kitabisa.com, Faiz Ghifari, inisiator Warga Bantu Warga, dan Ainun Najib, inisiator Kawal Covid-19 membentuk inisiatif bernama "Kawal Masa Depan."

"Nggak cuma [resah karena] berita-berita di media, tapi teman-teman Kawal Covid sebetulnya punya data yang berbeda dengan datanya Kemensos," kata Kalis Mardiasih, project manager Kawal Masa Depan.

Inisiatif yang mulai dirilis di kitabisa.com pada 4 Agustus lalu, telah berhasil mengumpulkan donasi lebih dari 1 miliar rupiah. Donasi ini akan disalurkan dalam bentuk santunan dan dana pendidikan.

Menurut Kalis, saat ini timnya masih mengumpulkan data anak yatim secara online lewat laporan individu, baik dari anak yang bersangkutan, keluarga, maupun warga. Pada 11 Agustus telah terkumpul lebih dari 415 data anak yatim piatu Covid; dengan domisili terbanyak di Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

Setelah data terkumpul, tim Kawal Masa Depan akan melakukan verifikasi dan menyalurkan bantuan sesuai kondisi dan kebutuhan.

"Misalnya untuk gelombang satu kita tutup di 500 dulu, nah [barulah] kita bisa baca kebutuhannya seperti apa, kategorisasinya; yang SMA sekian, yang SMP sekian, SD sekian, balita sekian," kata Kalis.

Semangat masyarakat untuk membantu tercermin pula pada kenaikan donasi sebanyak 130 persen pada berbagai inisiatif dengan kata kunci 'yatim Covid' pada kitabisa.com.

Kalis berharap inisiatif bentukannya bisa tepat sasaran bahkan menjangkau keluarga yang tidak memiliki akses internet hingga belum mendapat bantuan.

Di Yogyakarta, Agnes yang mendadak menjadi orang tua tunggal, belum mendapat bantuan dari pemerintah semenjak kepergian suaminya.

Namun, ada satu hal yang membuat Agnes bersyukur. Meski anaknya Ednan baru kelas empat SD, menurut Agnes, ia telah mengerti mengapa ayahnya meninggal dan menerima kepergiannya.

"Setiap malam kami sekarang punya kebiasaan, doa bersama mengingat suami saya. Lalu kadang Ednan bilang," kata Agnes "Bapak nanti malam datang ke mimpiku saja ya pak, jangan ke mimpi ibu."

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini