Share

Kisah Veteran Perang Dilepas Tentara Belanda Berkat Kartu Pelajar

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 20 Agustus 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 13 337 2455074 kisah-veteran-perang-dilepas-tentara-belanda-berkat-kartu-pelajar-Uai7C6xKWX.jpg Veteran perang, Edi B Somad (foto: Dokumen Okezone.com)

EDI B SOMAD, seorang prajurit Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI) sekelas bintara di Batalyon V Resimen Cikampek di zaman perang, mempunyai kemampuan dua bahasa asing, yakni Bahasa Belanda dan Jepang. Atas dasar itu, ia berhasil melewati interogasi oleh tentara Belanda.

Edi pun berbagi kisah masa mudanya di zaman revolusi kemerdekaan itu. Ia menjadi salah satu petarung republik di masa 1945-1949 yang setidaknya masih tersisa di Bekasi. Seiring pengisahannya, ternyata Edi Somad masih lancar berbahasa Belanda dan Jepang.

Baca juga:  Mengenal KH. Muhyidin, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Subang

Diceritakan, bahasa Belanda jadi “makanannya” sehari-hari saat mengenyam pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bogor. Edi berkesempatan makan bangku sekolah Belanda karena ayahnya bekerja di maskapai pelayaran Belanda.

Sementara bahasa Jepang, dikuasainya ketika Jepang menduduki Hindia Belanda sejak 1942 dan Edi, sempat ikut pendidikan Heiho Rikugun (Pembantu Tentara Angkatan Darat Jepang) selama enam bulan.

Baca juga:  Ketika Sri Sultan HB IX Keliling Dunia untuk Mengenalkan Indonesia

Nah, penguasaan bahasa asing ini pula yang nantinya, “berperan” besar menghindarkan nyawanya dari ujung bedil Belanda, pasca-Jepang menyerah dan Belanda masuk ke Indonesia lagi dengan membonceng sekutu.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Edi Somad yang pandai berbahasa Belanda, menyamar jadi pedagang jeruk untuk kemudian bersiasat merampas bedil tentara Belanda. Di Bagian II (kedua) ini, Edi mengisahkan bagaimana dirinya sempat diinterogasi tentara Belanda.

“Medio 1947 itu, saya lupa bulannya, pernah dikirim ke Bogor untuk misi merampas senjata. Beberapa waktu setelah menyamar, saya sempat kena razia tentara Belanda di Bogor, pas lagi tidur di asrama yang disediakan seseorang yang namanya Pak Toha,” kenang Edi kepada Okezone saat wawancara beberapa waktu lalu.

Pria berumur itu kemudian dibawa sebuah truk ke daerah bernama Cilendek, dekat Semplak, Bogor. Tiga hari lamanya dia ditahan dan diinterogasi perwira Belanda ‘totok’ yang diingatnya bernama Letnan Leo dan Hendrick, seorang pribumi yang ikut pasukan NICA (Nederlands Indie Civil Administratie).

“Ye ben extrimist? War Ye huis? Ditanya begitu pakai bahasa Belanda sama Letnan Leo itu yang artinya apa kamu ekstremis (pejuang)? Saya jawab pakai bahasa Belanda juga. ‘Nei meneer. Ik ben orange trader, meneer’ (Bukan tuan. Saya pedagang jeruk, tuan),” sambung pejuang kelahiran Kemayoran 1928 itu.

“Naturlijk (benar)? Tanya dia. Naturlijk, meneer (Benar, tuan) saja jawab begitu. Besoknya saya diiterogasi sama NICA kulit hitam namanya Hendrick. Saya disuruh mengaku sebagai ekstremis dengan cara yang lebih kasar. Kerah baju saja diangkat, ditodongin senjata jidat saya,” imbuhnya.

“Saya pasang (peluru di kepala) kamu ya! Gitu katanya. Saya tetap jawab tidak, saya bukan ekstremis. Habis itu saya dilempar ke lantai. Sementara itu ada orang lain yang juga ditahan tapi enggak bisa ngomong (bahasa) Belanda, dihantam popor (senapan) kepalanya. Disiksa segala macam,” kenangnya lagi seraya matanya mulai berkaca-kaca.

Di hari ketiga, Edi kembali diiterogasi Letnan Leo. Seraya masih ditanya hal yang sama, seluruh pakaiannya diperiksa dan kemudian ditemukanlah kartu pelajar HIS di salah satu saku pakaiannya.

“Pas dilihat kartu sekolah HIS saya itu, kengototannya baru mencair. Saya akhirnya dibolehkan pulang setelah tiga hari ditahan. Tapi sebelumnya, saya minta surat jalan untuk pulang. Karena kan di mana-mana banyak Belanda,” tuturnya lagi.

“Saya pulang ke Cikampek dari Bogor dari gerobak kereta (kereta barang). Di setiap stasiun yang dilewati, diperiksa tentara NICA. Wah, itu mereka ganas-ganas banget dah. Kalau lihat orang pakai pin merah putih, disuruh telan itu pinnya. Kalau enggak mau, dihantam popor kepalanya,” tambah Edi.

Sementara Edi Somad, selamat sepanjang perjalanan berbekal surat jalan tadi. Setibanya di Cikampek, Edi melapor dan kembali bergabung ke induk pasukan Siliwangi. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini