Share

Ketika Soekarno Berbicara Keabnormalan Manusia di Dalam Penjara

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 20 Agustus 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 13 337 2455062 ketika-soekarno-berbicara-keabnormalan-manusia-di-dalam-penjara-OTUGdLVMoe.jpg Presiden Soekarno (Foto: Istimewa)

PROKLAMATOR Kemerdekaan Indonesia Soekarno merupakan sosok yang berkarakter kuat. Beberapa kali terpaksa dia harus rela hidup di penjara.

Dalam buku “Sarinah, Kewadjiban Wanita dalam Perjoangan Republik Indonesia”, oleh: ir. Soekarno, The Soekarno Foundation, Ahli fiIsafat Schopenhauer berkata: “Syahwat adalah penjelmaan yang paling keras daripada kemauan akan hidup. Keinsyafan kemauan akan hidup ini memusat kepada fi’il membuat turunan,” begitulah ia berkata.

Baca juga: Kisah Soekarno Gemar Membaca, Paling Hobi Buku Biografi Tokoh Dunia

Dia berseloroh, jika kebutuhan seks diputuskan buat beberapa tahun saja, maka manusia umumnya menjadi abnormal. Lihatlah keadaan di dalam penjara, baik penjara buat orang laki-laki, maupun penjara buat orang perempuan.

"Dua kali saya pernah meringkuk agak lama dalam penjara, dan tiap-tiap kali yang paling mendirikan bulu saya ialah, keabnormalan manusia-manusia di dalam penjara itu," sebut Presiden Pertama Indonesia itu.

Baca juga:  Kesaktian dan Pusaka Soekarno, Konon Punya Aji Lembu Sekilan Milik Gajah Mada

Dalam kondisi seperti itu, dia bercerita, percakapan-percakapan menjadi abnormal, tingkah laku menjadi abnormal. Bung Karno sering melihat orang-orang di dalam penjara, yang seperti seperempat gila! Laki-laki mencari kepuasan kepada laki-laki, dan direksi terpaksa memberi hukuman yang berat-berat.

"Pembaca barangkali tersenyum akan pemandangan saya yang “mentah” ini, dan barangkali malahan menyesali kementahannya. Pembaca barangkali mengemukakan nama orang-orang besar, nama Nabi Isa, nama Gandhi, nama Mazzini, yang menjadi besar, antara lain-lain karena tidak mempunyai isteri atau tidak mencampuri isteri. Ah, ... beberapa nama! Apakah artinya beberapa nama itu, jika dibandingkan dengan ratusan juta manusia biasa di muka bumi ini, yang semuanya hidup menurut kodrat alam?" jelas dia.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Menurutnya, kita di sini membicarakan kodrat alam, kita tidak membawa-bawa moral. Alam tidak mengenal moral, begitulah Luther berkata. Beliau berkata lagi: “Siapa hendak menghalangi perlaki-isterian, dan tidak mau memberikan haknya kepadanya, sebagai yang dikehendaki dan dimustikan oleh alam, ia sama saja dengan menghendaki yang alam jangan alam, yang api jangan menyala, yang air jangan basah, yang manusia jangan makan, jangan minum, jangan tidur!”

"Tali sekse itu memang bukan perkara moral. Tali sekse itu tidak moril, ia tidak pula immoril. Tali sekse itu adalah menurut kodrat, sebagai lapar adalah menurut kodrat, dan sebagai dahaga adalah menurut kodrat pula!" jelas dia.

Baca juga:  Kisah Bung Karno dan Es Krim Ny. Oei Tjoe Tat

Berikut ini adalah ungkapan Soekarno mengenai keabnormalan penjara yang sangat menyiksa itu:

"Apakah maksud saya dengan uraian tentang tali sekse ini? Pembaca, nyatalah, bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup di zaman sekarang? Masyarakat sekarang di dalam hal inipun, -kita belum membicarakan hal lain-lain!- tidak adil kepada perempuan. Perempuan di dalam hal ini pun suatu makhluk yang tertindas. Perempuan bukan saja makhluk yang tertindas kemasyarakatannya, tetapi juga makhluk yang tertindas ke-sekse-annya.

Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat, yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin. Pencaharian nafkah, -struggle for life- di dalam masyarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin.

Perkawinan hanyalah menjadi privilegenya (haklebihnya) pemuda-pemuda yang ada kemampuan rezeki sahaja. Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. Pada waktu kesekse-an sedang sekeras-kerasnya, pada waktu ke-sekse-an itu menyala-nyala, berkobar-kobar sampai kepuncakpuncaknya jiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal yang tak mungkin. Tetapi, ... api yang menyala-nyala di dalam jiwa laki-laki dapat mencari jalan keluar -meliwati satu “pintu belakang” yang hina-, menuju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain-lain jang keji-keji.

Dunia biasanya tidak akan menunjuk laki-laki yang demikian itu dengan jari tunjuk, dan berkata: cih, engkau telah berbuat dosa yang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu “hal biasa”, yang “boleh juga diampuni”. Tetapi bagi perempuan “pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, - dengan tak meninggalkan cap kehinaan di atas dahi perempuan itu buat selama-lamanya.

Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja, tidak menunjuk kepada laki-laki, tidak menunjuk kepada kedua fihak secara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknya dengan leluasa, -kendati masyarakat tak memudahkan perkawinan-, tetapi keseksean perempuan terpaksa tertutup, dan membakar dan menghanguskan kalbu.

Perempuan banyak yang menjadi “terpelanting mizan” oleh karenanya, banyak yang menjadi putus asa oleh karenanya. Bunuh diri kadang-kadang menjadi ujungnya." (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini