Share

Cerita Untung Surapati Tertuang dalam Novel dari Zaman ke Zaman

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 13 Agustus 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 12 337 2454756 cerita-untung-surapati-tertuang-dalam-novel-dari-zaman-ke-zaman-xHv1GUbyrW.jpg Lukisan yang disebut sebagai Untung Surapati (Foto: Ist)

BICARA teks tradisional seputar kisah dan legenda Untung Surapati tampaknya cukup banyak ditemui. Merujuk Maharsi (2008) dalam Kajian Filologi; Naskah Babad Surapati disebutkan kisah ini terdapat dalam Babad Tanah Jawi, Babad Surapati, Babad Mentawis, Babad Kraton, Babad Trunajaya, Babad Trunajaya-Surapati, dan Babad Kartosura.

Kembali pada kasus Kapten Tack. Menurut Mahandis Yoanata Thamrin (2014) dalam Investigasi Terbunuhnya Kapten Tack di Kartosura, merujuk Babad Tanah Jawi, dikatakan perang itu memakan korban tewas sebanyak 79 serdadu VOC dan satu serdadu hilang. Sementara itu di pihak Surapati, sekitar 50 orang Bali tewas. Sebanyak 20 luka berat, di mana 15 di antaranya akhirnya juga tewas.

Masih merujuk sumber historiografi tradisional tersebut, Thamrin mengatakan Babad Tanah Jawi menulis nama Pangeran Puger, adik Sunan Amangkurat II, sebagai pembunuhnya. Atas perintah Sunan, Pangeran Puger sengaja membantu pasukan Surapati dan menyamar sebagai pasukan Bali.

Konon, Kapten Tack, perwira muda yang sohor berjasa memadamkan pemberontakan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa ini, luka dengan 20 tusukan berat karena ditikam tombak pusaka Kyai Plered. Demikian dilansir dari Indonesia.go.id.

Sementara itu, bicara Babad Surapati bukan hanya dikenal di Jawa Barat, melainkan juga di Jawa Timur. Masih dari Jawa Timur, di ujung paling timur pulau ini yaitu Blambangan, pun ditemukan varian babad ini. Demikianlah hasil penelitian Ann Kumar dalam Surapati: Man and Legend: a Study of Three Babad Traditions.

Adanya Babad Surapati yang menempatkan Untung Surapati sebagai subjek utama, jelas membuktikan adanya pengakuan para pujangga Jawa (intelektual publik) saat itu akan kiprah dan ketokohannya. Kumar bahkan mengatakan, Surapati merupakan tokoh istimewa dalam sejarah Jawa.

Sementara itu, teks ‘modern’ barulah muncul setelah Christina Sloot atau Masyhur dengan nama pena Melati van Jawa, menulis karya novelnya. Seperti telah disinggung di muka, novel ini lantas diterjemahkan oleh Ferdinand Wiggers, seorang jurnalis peranakan Eropa sekaligus pelopor penulisan karya-karya sastra di negeri ini. Terjemahan dari Van Slaaf Tot Vorst, yaitu Dari Boedak Sampe Djado Radja disebut-sebut sebagai karya terpenting Wiggers.

Agung Dwi Ertato (2018) dalam Pesakitan Ambtenaar yang Jadi Juru Karang Ternama setidaknya memberikan tiga alasan mengapa karya terjemahan itu bernilai fenomenal.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Pertama, Wiggers tidak memilih karya yang populer baik dari sisi pengarang maupun dari sisi modus cerita untuk diterjemahkan. Kedua, isi dari cerita tersebut lebih dekat pada pihak pribumi daripada pihak kolonial maupun kelas menengah di Tanah Hindia Belanda. Dan terakhir atau ketiga, pengarang cerita asli yaitu Melati van Java hidup sezaman dengan Wiggers.

Terkait ini, Pramoedya Ananta Toer dalam Antologi Sastra Pra-Indonesia, dan diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra pada 1983, memberikan catatan:

“Terjemahan Dari Boedak Sampai Djadi Radja dapat ditafsirkan sebagai pernyataan simpati pada tokoh legendaris Surapati yang konsekuen menentang penjajahan Belanda sampai akhir hayatnya.”

Selain Melati van Java dan Wiggers, patut disebutkan nama penulis lokal, yaitu Abdoel Moeis (1883-1959). Terbit di 1950, dia menulis romannya dengan judul Surapati. Selang dua tahun kemudian, pada 1953, sebagai kelanjutan kisah Surapati juga ditulis sebuah novel lain dengan judul Robert, Anak Surapati.

Mengingat makna ikonik Untung Surapati sebagai simbol perlawanan atas kolonialisme Belanda, dan sekaligus bermaksud mengabadikan namanya, maka Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pascakemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi “Taman Surapati.”

Selain itu, pemerintah Indonesia berdasarkan SK Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 telah menetapkan sosok legendaris ini sebagai Pahlawan Nasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini