Pengaruh Sungai Brantas Dalam Berkembangnya Pusat Kerajaan Majapahit

Tim Okezone, Okezone · Kamis 12 Agustus 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 11 337 2454284 pengaruh-sungai-brantas-dalam-berkembangnya-pusat-kerajaan-majapahit-LxXrZ17rYk.jpg Sungai Brantas (foto: Dok Wikipedia)

MASYARAKAT Majapahit khususnya Trowulan, mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi dalam memanfaatkan kondisi alam sekitar. Trowulan sebagai pusat kerajaan berada di daerah pedalaman, namun memiliki akses ke luar melalui jalur-jalur air, dengan memanfaatkan air sungai yang kemudian dikembangkan dengan pembangunan kanal sebagai perpanjangan dari sungai-sungai alam.

Dalam kitab Nagarakretagama disebutkan bahwa barang-barang yang akan dibawa ke Majapahit dari daerah luar diturunkan di pelabuhan besar, kemudian diangkut dengan mengunakan kapal-kapal kecil melalui sungai dan kanal. Tampak di sini bahwa pemanfaatan transportasi air dimaksimalkan.

Baca juga: Mahapatih Gajah Mada Pilih Bertapa Usai Lepas Jabatan di Majapahit

Sungai Brantas sebagai penghubung utama antara daerah pesisir dengan pedalaman telah memberi kontribusi positif terhadap perkembangan peradaban pada masa Majapahit. Keberadaan sungai dan pelabuhan selain digunakan sebagai pendukung faktor ekonomi juga digunakan sebagai jalur diplomasi, politik, penyebaran agama, dan kebudayaan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap berkembangnya kota Trowulan. Demikian diungkap buku "Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota", Penerbit Kepel Press, 2014.

Baca juga: Cerita Majapahit Serang Lumajang Demi Air di Ranu Klakah

Dalam prasasti Canggu atau prasasti Trowulan I disebutkan bahwa terdapat 44 desa penyeberangan di tepi Sungai Brantas. Adanya desa-desa penyeberangan tersebut kemudian berkembang menjadi pelabuhan sungai yang besar seperti Canggu, Bubat, dan Terung (Rangkuti, 2005).

Persebaran desa penyeberangan di Sungai Brantas mempertegas posisi sungai tersebut sebagai sarana transportasi dan perdagangan yang menghubungkan daerah hulu dengan daerah hilir. Dilihat dari faktor keamanan dan politik, pemilihan lokasi di pedalaman sebagai ibukota tampaknya cukup beralasan, karena daerah tersebut cukup aman dari ancaman bahaya terbuka yang berupa penyerangan dari pihak luar melalui jalur laut.

Adanya kanal-kanal sebagai “perpanjangan” dari sungai-sungai alam sebagai jalur transportasi air memungkinkan untuk mendeteksi ancaman atau bahaya secara lebih dini. Berita Cina Ying-Yai Sheng-Lan (1416) menyebutkan bahwa tanah Jawa mempunyai empat buah kota tanpa tembok. Kapal yang datang ke daerah ini pertama mendarat di Tuban kemudian ke Gresik, Surabaya, dan terakhir ke Majapahit.

Perjalanan dari Surabaya ke Majapahit terlebih dahulu melewati Canggu sebuah pelabuhan sungai dengan menggunakan perahu kecil sepanjang 70-80 li atau kurang lebih 25 mil, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menempuh jalan darat selama 1,5 hari (Groeneveld, 1960).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini