Share

Kemenkes: Lonjakan Kematian Covid-19 karena Akumulasi Kasus Belum Terlaporkan

Tim Okezone, Okezone · Rabu 11 Agustus 2021 19:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 11 337 2454246 kemenkes-lonjakan-kematian-covid-19-karena-akumulasi-kasus-belum-terlaporkan-krDY1MctwE.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis angka kematian Covid-19 di Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Jawa Tengah menjadi yang tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Tenaga ahli Kemenkes Panji Fortuna mengatakan bahwa berdasarkan analisis dari data National All Record (NAR) didapati bahwa pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat realtime dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya.

NAR adalah sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan Covid-19 yang dikelola oleh Kemenkes.

Berdasarkan laporan kasus Covid-19 di tanggal 10 Agustus 2021, misalnya, dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut atau pada sepekan sebelumnya.

Baca juga: Jangan Khawatir, Kemensos Jamin Warga Belum Punya NIK Tetap Divaksin

Bahkan 10,7% di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal.

“Kota Bekasi, contohnya, laporan kemarin dari 397 angka kematian yang dilaporkan, 94% di antaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut, melainkan rapelan angka kematian dari bulan Juli sebanyak 57% dan bulan Juni dan sebelumnya sebanyak 37%. Lalu 6% sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama bulan Agustus,” terang Panji.

Baca juga: Nakes Vaksin Kosong Tersangka, Jubir Kemenkes Membela: Murni Khilaf, Tak Ada Kesengajaan

Contoh lain adalah Kalimantan Tengah, di mana, kata Panji, 61% dari 70 angka kematian yang dilaporkan kemarin adalah kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari namun baru diperbaharui statusnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati mengakui adanya keterlambatan dalam pembaharuan pelaporan dari daerah akibat keterbatasan tenaga kesehatan dalam melakukan input data akibat lonjakan kasus beberapa waktu terakhir.

“Tingginya kasus di beberapa minggu sebelumnya membuat daerah belum sempat memasukkan atau memperbarui data ke sistem NAR Kemenkes,” terangnya.

“Lonjakan-lonjakan anomali angka kematian seperti ini akan tetap kita lihat setidaknya selama dua minggu ke depan,” tambah dia.

Follow Berita Okezone di Google News

Panji menambahkan bahwa lebih dari 50 ribu kasus aktif yang saat ini adalah kasus yang sudah lebih dari 21 hari tercatat namun belum dilakukan pembaharuannya.

"Kita saat ini sedang mengkonfirmasi status lebih dari 50 ribu kasus aktif. Jadi beberapa hari kedepan akan ada lonjakan di angka kematian dan kesembuhan yang bersifat anomali dalam pelaporan perkembangan kasus Covid-19. Tapi ini justru akan menjadikan pelaporan kita lebih akurat lagi," tutur Panji.

Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang telah melakukan pembaharuan data sesegera mungkin.

“Tentunya ini tidak mengurangi semangat kita untuk terus berpacu menyampaikan data yang transparan dan realtime kepada publik,” imbuh Widyawati.

Baca juga: Angka Kematian Covid-19 Bertambah 1.579 Orang, Total 112.198

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini