Share

Ironis! Bata Peninggalan Kerajaan Majapahit Dijual ke Pabrik-Pabrik

Tim Okezone, Okezone · Rabu 11 Agustus 2021 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 10 337 2453897 ironis-bata-peninggalan-kerajaan-majapahit-dijual-ke-pabrik-pabrik-Iv00psl2lA.jpeg Candi Brahu di Trowulan. (Foto: IG @djawabatik)

SITUS sejarah Trowulan peninggalan Kerajaan Majapahit banyak mengalami kerusakan. Salah satu penyebab rusaknya situs sejarah ini adalah kebiasaan memanfaatkan lahan untuk pembuatan bata yang paling sulit untuk dikendalikan dan dihentikan.

Pembuatan bata ini merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian dikutip dari buku "Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota", editor Prof Dr Inajati Adrisijanti yang diterbitkan Kepel Press, 2014.

Justru peninggalan-peninggalan arkeologi di Trowulan itu banyak dijumpai di lahan pembuatan bata baik dalam keadaan utuh, tidak utuh, rusak saat ditemukan, atau rusak akibat alat yang digunakan oleh pembuat bata. 

Bahkan seringkali para pembuat bata menemukan benda-benda yang masih utuh atau benda lainnya yang mempunyai nilai ekonomis tinggi lalu diperjual belikan.

Pembongkaran dan pengambilan bata kuna menurut laporan Bosch (1930) sudah berlangsung ratusan tahun. Orang berusaha mengambil bata-bata yang utuh untuk dijual ke pabrik-pabrik dan bata-bata yang tidak utuh ditumbuk. 

Baca juga: Kisah Cinta Damarwulan dan Kencono Wungu, Syaratnya Bawa Kepala Minak Jinggo

Seperti Candi Lima di Trowulan juga sudah hilang tidak ada bekasnya, karena bata-batanya diambil. Hilangnya Candi Lima ini disebutkan dalam ROC 1915 halaman 216.

Hal ini diperkuat juga dengan surat bertarikh 1877, yang dikirimkan oleh seorang Insinyur Jawatan Kereta Api bernama Wouters pada tahun 1924 kepada Oudheidkundige Dienst, bahwa bata-bata dari Candi Lima itu digunakan untuk fondasi jalan kereta api antara Surabaya-Madiun dan Kertosono-Blitar (Wibowo 1980).

Kerusakan kawasan situs Trowulan menurut Yunus Satrio Atmojo mencapai sekitar 6,2 ha per tahun, yaitu berupa tanah di sekitar situs yang dimanfaatkan untuk pembuatan bata (Rinaldi 2009). 

Saat itu, kurang lebih 5.000 kepala keluarga bermata pencaharian dari pembuatan bata. Akibat dari kegiatan tersebut sepertiga situs rusak (NAL 2008). Dari luas 99 km2, pemerintah hanya menguasai lahan seluas 57,225 m2. Di luar lahan tersebut pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini