Kisah Untung Surapati yang "Menikahi" Anak Komandan Militer Pasukan VOC

Tim Okezone, Okezone · Selasa 10 Agustus 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 09 337 2453294 kisah-untung-surapati-yang-menikahi-anak-komandan-militer-pasukan-voc-QA6udH3wxG.jpg Untung Suropati (foto: Istimewa)

KISAH cinta Untung Surapati dengan perempuan Eropa, Suzanna Moor melegenda, sekaligus lekat di hati masyarakat Indonesia hingga kini. Keduanya dipisahkan oleh orangtua Suzanna yang tidak menerima anaknya dinikahi oleh budak sekaligus pemberontak.

Seperti diketahui Untung Surapati adalah budak dari orang tua Suzanna Moor, Endeler Heer Moor. Cinta yang hendak melampaui jurang prasangka kelas sosial jelaslah bukanlah perkara gampang. Selain mengerjakan banyak tugas ini itu di keluarga Endeler Heer Moor, Untung juga harus menemani dan melayani Suzanna, putri terkasih Tuan Moor.

Baca juga:  Tumpes Kelor, Cara Keji Belanda Bantai Keturunan Untung Surapati di Jawa Timur

Sementara posisi kelas sosial Tuan Moor, merujuk Dick Hartoko (1985), adalah anggota Dewan Hindia, seorang pejabat tinggi pemerintahan di Hindia Belanda. Sumber lain menyebutkan, Tuan Moor adalah komandan militer pasukan VOC.

Merujuk Pramoedya Ananta Toer (2003) dalam Tempo Doeloe-Antologi Sastra Pra-Indonesia, disebutkan seluruh karya Melati van Java, yang memiliki nama asli Nicolina Maria Christina Sloot, telah diterjemahkan utuh oleh Ferdinand Wiggers. Roman Van Slaaf Tot Vorst diterjemahkan menjadi Dari Boedak Sampe Djadi Radja, roman ini terbit di Batavia pada 1898.

Baca juga:  Di mana Jasad Untung Surapati, Dikubur atau Dibuang ke Laut?

Dalam hal ini, ada dua fragmen cerita dari roman itu yang telah ditulis ulang. Pertama, berjudul Kepada Anakku!. Fragmen ini berkisah tentang surat seorang ibu (Suzanna) kepada anaknya (Robert), yang barulah boleh dibaca nanti saat anaknya telah dewasa. Karya ini diterjemahkan dan dipublikasikan kembali dalam Bianglala Sastra, Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan Indonesia karya Dick Hartoko.

Selain itu, bagian keenam dari karya Dari Boedak Sampe Djadi Radja juga telah dirilis kembali dalam buku Pramoedya Ananta Toer tersebut di atas. Berjudul Soerapati Hakim Pengadilan, fragmen kisah ini bercerita tentang pertemuan Surapati dengan anaknya, Robert, buah hatinya dengan Suzanna, hingga momen kematian Surapati dalam peperangan menghadapi pasukan VOC di Pasuruan. Hal itu diketahui berdasarkan kutipan dari indonesia.go.id.

Dalam fragmen Kepada Anakku!, struktur narasi dibangun dengan plot orang pertama, yaitu Suzanna sendiri sebagai pencerita. Surat itu menceritakan masa lalu kisah percintaannya dengan Untung Surapati kepada anaknya, Robert.

Diketahui, sebelum ia menikah dengan Surapati, Suzanna selalu memberi hati dan sekaligus membangkitkan keberanian pemuda bumiputra asal Bali itu untuk mengambil langkah mengawini dirinya yang beretnis Eropa.

“Dan aku terus memberinya hati, memberinya keberanian yang pasti tidak dimilikinya andaikata aku tidak membangkitkannya. Maklumlah, Robert, aku cinta padanya, biarpun ia berkulit sawo matang dan ia hanya seorang budak.”

Baca juga:  Kisah Untung Surapati dengan Gusik Kusumo Putri Kerajaan Mataram Dikejar VOC

Lebih jauh Suzanna juga mengatakan:

“Memang, Kakanda, dan kuulangi kembali: Tuhan Allah orang Nasrani tidak membeda-bedakan manusia menurut warna kulitnya. Ia hanya mementingkan hati mereka.”

“Beratkah rantai perbudakan (itu)?” tanya Suzanna.

Surapati menjawab:

“Tidak, tetapi kadang-kadang terasa berat juga dan satu isyarat dari ayahmu cukup menjadikannya alat penyiksa. Namun jika benar apa yang kau katakan, tuanku puteri, maka dengan senang hati aku akan menyembah Tuhan Allahmu dan Ia akan merelakan aku memperistri dirimu. Dan ayahmu akan menerima aku sebagai anaknya sendiri, karena kau kusukai lebih daripada kusukai cahaya mataku, atau matahari yang menyinari kita, lebih daripada kenangan baginda ayah dan ibuku.”

Baca juga:  Bagaimana Wajah Untung Surapati?

Surapati diceritakan sempat berharap atau berkhayal tinggi. Namun tak berlangsung lama, harapan atau khayalan itu kemudian disanggahnya lagi sendiri.

“Tetapi aku tidak boleh membayangkan, bahwa itu akan terjadi, Nona Suzanna, sama seperti cacing di bawah telapak kakimu tidak boleh memikirkan bintang yang waktu malam bersinar terang di angkasa.”

Suzanna tetap bersikukuh meyakinkan Surapati,

“Tidak, tidak, sayangku! Ayah tidak berbeda pendapat. Beliau pun maklum, bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah saudara sekandung dan Dialah Bapa kita. Ayah cinta padamu dan memanjakan dirimu. Nah, aku akan menandaskan kepadanya, bahwa engkaulah satu-satunya pria yang kukehendaki sebagai suami.”

Alur cerita kemudian mengerucut, Suzanna jugalah inisiator yang mendorong pemuda bumiputra Surapati untuk segera menikahinya.

“Ayah sekarang sedang dalam perjalanan, apa yang dapat menghalangi kita untuk kawin sebelum ia pulang.”

“Maukah kau jadi suamiku?” lanjut tanya Suzanna. “Marilah kita bergegas-gegas. Tetapi di manakah upacara nikah akan kita langsungkan? Kau belum memeluk agama Nasrani, jadi di gereja tak bisa dilakukan. Kau tahu jalan keluarnya?”

Surapati menjawab:

“Nah,” ujarnya, “Sanggupkah kau menjadi istriku menurut upacara agamaku, sementara kita menantikan kesempatan untuk menikah di hadapan Tuhanmu?”

Suzanna setuju. Sayangnya tidak diceritakan lebih jauh bagaimana akhirnya mereka berdua menikah. Surat itu hanya menceritakan, Suzanna bersumpah di bawah Kitab Injil di depan seorang budak tua yang mencintai Surapati seperti anaknya sendiri. Bahwa, Suzanna akan mencintai Surapati seumur hidupnya.

Diceritakan dalam surat Kepada Anakku! itu, Suzanna ketika itu berusia 16 tahun. Sayangnya usia Surapati tidak disebutkan. Sekadar dikisahkan, usia Surapati berada di atas umurnya.

Singkat cerita, perkawinan secara sembunyi-sembunyi antara Untung Surapati dan Suzanna Moor ternyata tidak dapat disembunyikan lagi. Ayah Suzanna yang sekaligus majikan Surapati, sangatlah murka.

Surapati ditahan, didera, dan dijatuhi hukuman mati. Namun keberuntungan ternyata masih menyertainya. Surapati akhirnya bisa meloloskan diri dari penjara dan kemudian jadi pengacau keamanan di daerah-daerah sekitar Batavia.

Suzanna, meskipun tengah hamil, seketika diusir pergi juga. Terlebih, setelah ayahnya bermaksud menikahkan Suzanna dengan relasi-relasi ayahnya, namun masih seperti dulu tetap saja ditolak anaknya. Ditambah terbetik kabar, Surapati menyerahkan diri dan kemudian berkarir militer sebagai tantara VOC, Tuan Moor lantas memutuskan memulangkan anak semata wayangnya ke Belanda.

Robert, demikian nama anak itu, lahir setelah momen Suzanna mendengar kabar jika Surapati berhasil lolos dari penjara. Ditinggal ibunya yang meninggal dunia saat perjalanan naik kapal dari Hindia ke Belanda, ia kemudian dibesarkan keluarga van Reijn. Hidup di Belanda, Robert barulah tahu kalau van Reijn bukanlah orang tuanya setelah mereka wafat. Ada surat dari mendiang ibunya, yang diperuntukkan bagi Robert setelah dewasa.

Merasa frustasi karena sejak kecil sering diolok-olok memiliki kulit berbeda dengan teman-teman Eropa-nya, juga karena merasa sebatang kara setelah tahu keluarga van Reijn hanyalah keluarga angkat semata, Robert memutuskan bertolak ke Batavia dengan cita-cita menjadi tantara VOC. (din)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini