Kisah Stutterheim, Kepala Arkelog Belanda yang Telusuri Kerajaan Majapahit

Tim Okezone, Okezone · Selasa 10 Agustus 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 09 337 2453278 kisah-stutterheim-kepala-arkelog-belanda-yang-telusuri-kerajaan-majapahit-D0cLq7ywRd.jpg Situs peninggalan kerajaan Majapahit (foto: istimewa)

LEBIH dari seratus tahun, arkeolog berusaha memecahkan teka-teki tempat keberadaan Keraton Majapahit. Umumnya mereka mengetahui lokasinya berada di Trowulan, sebuah desa berjarak sekitar 50 km, sebelah barat daya Surabaya, Jawa Timur.

Sayangnya, hingga saat ini yang tertinggal di daerah itu hanyalah reruntuhan batu-bata bekas bangunan dan jalan. Bekas-bekas penggalian lama dari para pemburu harta karun dan peninggalan sejarah semasa kolonial juga terlihat di sana.

Baca juga:  Kisah Gajah Mada Perkenalkan Nusantara Lewat Sumpah Palapa

Amrit Gomperts, peneliti independen studi Jawa Kuno dan Sansekerta asal Belanda, memperkirakan bahwa lebih dari lima juta meter kubik tanah beserta segala isinya telah lenyap dari situs Trowulan sejak 1816. Demikian dilansir dari Indonesia.go.id.

Baca juga:  Mahapatih Gajah Mada Pilih Bertapa Usai Lepas Jabatan di Majapahit

Akibat keserakahan para pemburu harta dan pusaka zaman kolonial, pengetahuan tentang di mana lokasi sesungguhnya keraton Majapahit seperti hilang ditelan zaman.

Tahun 1941, Kepala Badan Arkeologi Hindia Belanda Willem Frederik Stutterheim (1892-1942) berhasil membuat denah rinci rekonstruksi Keraton Majapahit. Tetapi dalam catatan monografnya dia sama sekali tidak memberitahukan di mana lokasi tepatnya.

Teka-teki inilah yang membuat tiga orang peneliti, pada 2008, berkolaborasi untuk menemukan lokasi Keraton Majapahit berdasarkan denah Stutterheim dengan dibantu berbagai sarana pelacakan terkini. Mereka adalah Amrit Gomperts seorang peneliti manuskrip kuno, Arnoud Haag yang ahli di bidang hidrologi dan irigasi, serta sejarawan Peter Carey.

Sayangnya, Stutterheim tidak sempat menyaksikan hasil penelitiannya dipublikasikan. Dia meninggal 1942 karena pendarahan pembuluh darah di kepala. Catatan penelitiannya sendiri baru dipublikasikan pada 1948, kendati penelitian itu sebenarnya sudah selesai pada 1941.

Baca juga:  Cerita Majapahit Serang Lumajang Demi Air di Ranu Klakah

Rekonstruksi Stutterheim dia dasari dari terjemahan dan interpretasi dia terhadap deskripsi yang ditulis oleh Prapanca dalam Negarakretagama. Stutterheim menggabungkan interpretasi itu dengan pengetahuan dia yang luas tentang arsitektur keraton Jawa dan Bali.

Dia berargumen bahwa rancangan Keraton Yogyakarta dan Puri Klungkung berasal dari Keraton Majapahit. Tetapi dalam paparannya dia tidak mau mengungkap dengan detil lokasi dia melakukan penelusuran dan perbandingan jejak arsitekturnya.

Entah alasan apa yang membuat dia tidak mengungkap penelusurannya. Yang pasti Stutterheim sebenarnya mendasarkan dirinya pada penjelasan Prapanca, tetapi dia menolak untuk mengungkapkan berbagai sumber lain yang dia sertakan untuk menguatkan argumentasinya.

Harus dicatat bahwa pada saat Stutterheim melakukan penelitian, Belanda sedang dibayangi ancaman invasi dari Jepang yang sedang meluaskan kekuatannya di Asia Pasifik.

Tingginya tekanan akibat perang telik sandi antara pemerintah Hindia Belanda dan agen-agen dari berbagai pihak yang saling berkepentingan di Hindia Belanda membuat Stutterheim menyembunyikan penelusurannya. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini