Sederet Peristiwa yang Terjadi Jelang Proklamasi Kemerdekaan RI

Tim Okezone, Okezone · Selasa 17 Agustus 2021 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 07 337 2452485 sederet-peristiwa-yang-terjadi-jelang-proklamasi-kemerdekaan-ri-XsXILCg7KF.jpg foto: istimewa

DALAM Sidang Istimewa Teikoku Ginkai (Parlemen Jepang) ke-85 tanggal 7 September 1944 di Tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan, bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan untuk merdeka kelak dikemudian hari. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh semakin terdesaknya angkatan perang Jepang oleh pasukan Amerika, terlebih dengan jatuhnya Kepulauan Saipan ke tangan Amerika.

Pada tanggal 1 Maret 1945, Letnan Jenderal Kuma Kici Harada mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Panitia Kemerdekaan. Tindakan ini merupakan langkah kongkret pertama bagi pelaksanaan janji Koiso. Terpilih sebagai Kaico atau ketua dr. Radjiman Wediodiningrat. Demikian dikutip dari buku "Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan : 1945-1998" karya Dr. Aman, M.Pd, yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Ombak (Anggota IKAPI), 2015.

Baca juga:  Ketika Sri Sultan HB IX Keliling Dunia untuk Mengenalkan Indonesia

Pada tanggal 7 agustus 1945, Panglima Tentara Umum Selatan Jenderal Terauchi meresmikan pembentukan Dokuritsu Junbi Linkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada saat ini pula Dokuritsu Junbi Cosakai dinyatakan bubar. Terpilih sebagai ketua PPKI Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil ketua.

Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, pasukan udara Sekutu menjatuhkan bom masing-masing di kota Nagasaki dan Horosima. Hal ini mendorong Jepang untuk segera mengambil keputusan penting.

Baca juga:  Kata 'Indonesia' Berawal dari Diskusi di Meja Redaksi Logan

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jenderal Besar Terauci menyampaikan kepada tokoh pergerakan yang diundang yaitu Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr. Radjiman Wediodiningrat bahwa pemerintah kemaharajaan telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada tangal 24 Agustus 1945 yang pelaksanaannya dilakukan oleh PPKI.

Peristiwa Rengasdengklok: Bung Karno dan Bung Hatta Dibawa Paksa

 Rengasdengklok, salah satu kota kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ke kota inilah Ir. Sukarno dan Drs. Moh Hatta pernah dibawa secara paksa oleh 5 kelompok pemuda revolusioner yang menghendaki kemerdekaan Indonesia untuk segera dikumandangkan.

Peristiwa heroik ini dipicu oleh adanya perbedaan faham antara golongan tua yang moderat, dengan golongan pemuda yang revolusioner dalam pelaksanaan proklamasi. Golongan Tua, adalah para anggota PPKI yang diwakili oleh Sukarno dan Hatta. Mereka adalah kelompok konservatif yang menghendaki bahwa pelaksanaan proklamasi harus melalui PPKI, sesuai dengan prosedur maklumat Jepang, yakni pada tanggal 24 Agustus 1945.

Baca juga:  Ini Pesan Perpisahan Sri Sultan HB IX kepada Soekarno-Hatta saat Pindah ke Jakarta

Lalu Golongan Muda yang diwakili oleh para anggota PETA dan mahasiswa merasa kecewa. Mereka tidak setuju terhadap sikap golongan tua, dan menganggap bahwa PPKI adalah bentukan Jepang. Oleh karena itu, mereka menolak jika proklamasi dilaksanakan melalui PPKI. Sebaliknya mereka menghendaki terlaksananya proklamasi kemerdekaan adalah dengan kekuatan sendiri, terbebas dari pengaruh Jepang.

Sutan syahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sikap golongan muda secara resmi diputuskan dalam rapat yang diselenggarakan di Pegangsaan Timur Jakarta pada tangal 15 Agustus 1945.

Hadir dalam rapat ini Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Armansyah, dan Wikana. Rapat yang dipimpin Chairul Saleh ini memutuskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri, bukan menggantungkan kepada pihak lain.

Keputusan rapat kemudian disampaikan oleh Darwis dan Wikana kepada Soekarno dan Hatta di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, dan mendesak mereka untuk memaklumatkan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus 1945. Jika tidak diumumkan pada tanggal tersebut, golongan pemuda menyatakan bahwa akan terjadi pertumpahan darah.

Namun demikian, Soekarno tetap bersikap keras pada pendiriannya bahwa proklamasi harus dilaksanakan melalui PPKI, dan oleh karena itu PPKI harus segera menelenggarakan rapat. Pro kontra yang mencapai titik puncak inilah yang telah mengantarkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok.


Alasan Pemuda "Culik" Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok

 

Di tengah suasana pro dan kontra, golongan pemuda memutuskan untuk membawa Soekarno dan Hatta ke luar Jakarta. Pilihan ini diambil berdasarkan kesepakatan rapat terakhir golongan pemuda pada tanggal 16 agustus 1945 di Asrama Baperpi, Cikini, Jakarta yang dimaksudkan untuk menjauhkan Soekarno Hatta dari pengaruh Jepang.

Untuk melaksanakan pengamanan Soekarno dan Hatta, golongan pemuda memilih Shodanco Singgih, guna menghindari kecurigaan dan tindakan militer Jepang. Untuk memuluskan jalan, proses ini dibantu berupa perlengkapan Tentara Peta dari Cudanco Latief Hendraningrat.

Soekarno dan Hatta kemudian dibawa ke Rengasdengklok, yang merupakan sebuah kota Kawedanan di sebelah Timur Jakarta. Kota Rengasdengklok dipilih dengan alasan perhitungan militer.

Ketika anggota Peta Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta mengadakan latihan bersama, terjalin hubungan yang baik di antara mereka. Di samping itu Rengasdengklok letaknya strategis bagi pengamanan karena letaknya yang terpencil sekitar 15 km dari Kedunggede, Karawang pada Jalan Raya Jakarta-Tegal.

Oleh karena itu pemantauan sangat mudah dilakukan oleh tentara Peta yang mengawasi setiap gerak langkah tentara Jepang baik yang datang dari arah Bandung, Jawa Tengah, maupun Jakarta, karena pastilah mereka harus melewati Kedunggede terlebih dahulu.

Di Jakarta, dialog antara golongan muda yang diwakili oleh Wikana dan golongan tua Ahmad Subardjo mencapai kata sepakat bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta, dan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Golongan pemuda kemudian mengutus Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Subardjo ke Rengasdengklok dalam rangka menjemput Soekarno dan Hatta. Kepada golongan pemuda, Ahmad Subardjo memberi jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, dan selambat-lambatnya pukul 12.00.

Dengan jaminan itu, Cudanco Subeno, Komandan Kompi Peta Rengasdengklok, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta dalam rangka mempersiapkan kelengkapan untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini