Waspada! IDI Sebut Covid-19 Sudah 'Merayap' ke Pedesaan dan Pelosok Tanah Air

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 06 Agustus 2021 09:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 06 337 2451733 waspada-idi-sebut-covid-19-sudah-merayap-ke-pedesaan-dan-pelosok-tanah-air-krhjeN28OJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban mengungkapkan, saat ini Covid-19 sudah “merayap” ke pedesaan-pedesaan dan pelosok-pelosok di Tanah Air.

Oleh karena itu, Zubairi meminta pemerintah segera menyiapkan fasilitas kesehatan yang memadai dengan cepat di daerah terpencil untuk penanganan Covid-19 di sana.

“Pandemi belakangan ini memunculkan tantangan baru: menyiapkan fasilitas kesehatan memadai dengan cepat di daerah terpencil. Pasalnya Covid-19 mulai merayap ke pedesaan dan pelosok-dengan catatan vaksinasi juga masih sangat minim. Jangan sampai terjadi mimpi buruk berikutnya,” tulis Zubairi lewat akun media sosial pribadinya, dikutip Jumat (6/8/2021). 

Baca juga: 2.002 Pasien Covid-19 Dirawat di RSDC Wisma Atlet, Berkurang 101 Orang

Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito terus meminta kepada seluruh kepala daerah terutama yang mengalami kenaikan kasus untuk melakukan pembenahan dari hulu.

“Dengan adanya pembenahan dari sisi hulu, maka dapat meringankan beban di sisi hilir. Jumlah ketersediaan tempat tidur di rumah sakit untuk pasien Covid dapat terkontrol dengan baik dan tidak terjadi overload. Tentu pembenahan ini harus dijalankan secara disiplin dan terus menerus secara multipihak demi mempercepat penanggulangan pandemi di Tanah Air,” tegasnya.

Baca juga: Belajar dari Covid-19 Jawa-Bali, Satgas Minta Pasien Gejala Menengah Rujuk ke RS

Ganip juga meminta agar pasien Covid-19 dengan gejala menengah segera dilakukan rujukan ke rumah sakit agar tidak terjadi perburukan. 

“Karena dari pengalaman penanganan di Jawa dan Bali, fatality kerap terjadi karena pemburukan. Pasien dibawa ke rumah sakit ketika sudah kritis. Kenapa, mungkin saat isoman tidak ada monitoring,” paparnya.  

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini