Tumpes Kelor, Cara Keji Belanda Bantai Keturunan Untung Surapati di Jawa Timur

Solichan Arif, Koran SI · Rabu 04 Agustus 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 337 2450440 tumpes-kelor-cara-keji-belanda-bantai-keturunan-untung-surapati-di-jawa-timur-8kWuQAp8pr.JPG Untung Surapati (foto: ist)

Namun tak lama berdinas, Surapati kembali membuat ulah. Perselisihannya dengan Pembantu Letnan (vaandrig) Williem Kuffler telah menewaskan 20 orang Belanda. Sejak itu ia kembali menjadi laskar pengacau yang terus menerus bermusuhan dengan Belanda. Karena terdesak, bersama pasukannya Surapati memutuskan bergeser ke arah timur.

Sejawaran Belanda Hermanus Johannes de Graaf dalam buku "Terbunuhnya Kapten Tack, Kemelut di Kartasura Abad XVII" mengatakan : Surapati bukanlah satu -satunya komandan laskar petualang di daerah perbatasan. Tetapi ia dianggap jagonya yang paling unggul.

Sejak berselisih dengan Willem Kuffeler, serta dianggap bertanggung jawab atas kematian Kapten Francois Tack di Kartasura, Belanda terus menaruh dendam kesumat kepada Surapati. Dalam kemelut suksesi raja Jawa (1704), dendam itu makin menyala. Surapati berdiri di pihak Amangkurat III yang saat itu berperang melawan Pakubowono I yang dibekingi Belanda.

Tahun 1686, Surapati mendirikan kraton di Pasuruan, Jawa Timur. Kraton yang tidak tunduk pada kekuasaan siapapun. Termasuk kolonial Belanda. Sebelum menutup mata, Surapati melakukan pertempuran di Bangil (Sekarang masuk wilayah Kota Pasuruan). Surapati meninggal tahun 1705 dengan luka serius akibat pertempuran pamungkasnya. Namun api pemberontakan tidak padam.

Estafet perlawanan dilanjutkan keturunan dan para pengikutnya. Seperti kakeknya, di depan Belanda Bupati Lumajang Kartanagara yang merupakan cucu Surapati muncul sebagai pemberontak.

Bersama saudaranya Bupati Malang Malayakusuma, Kartanagara memilih bersekutu dengan Singasari atau Prabujaka, anak Amangkurat IV (1719-1726) yang menolak pembagian kerajaan Jawa. Usulan membelah kerajaan yang pada tahun 1755-1757 berhasil dilaksanakan (Perjanjian Giyanti), datangnya dari Belanda.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini