Joe Biden Sebut Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi, Pakar Geolog Ungkap Kajian Mengejutkan

Agung Bakti Sarasa, Koran SI · Minggu 01 Agustus 2021 00:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 337 2449046 joe-biden-sebut-jakarta-tenggelam-10-tahun-lagi-pakar-geolog-ungkap-kajian-mengejutkan-UmEFTNSu9b.jpeg Ilustrasi Jakarta. (Foto: Dok Okezone.com)

BANDUNG - Pakar Geologi dari Universitas Padjdjaran (Unpad), Dicky Muslim menilai pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden terkait masa depan Jakarta sudah tepat.

Diketahui, dalam pidato kenegaraannya baru-baru ini, Joe Biden menyinggung potensi Jakarta tenggelam akibat perubahan iklim. Biden mengatakan, dalam 10 tahun ke depan, kemungkinan Jakarta tenggelam secara permanen itu bukan isapan jempol. 

"Joe Biden sudah tepat mengingatkan. Saya pribadi sih bersyukur, jadi diingatkan bersama bahwa ada masalah lho dengan Jakarta," ungkap Dicky melalui sambungan telefon selulernya, Sabtu (31/7/2021). 

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Wilayah Jawa Barat dan Banten itu pun yakin, pesan yang disampaikan Joe Biden tersebut telah melalui sebuah kajian. Artinya, Joe Biden tidak asal-asalan dalam menyampaikan pernyataannya itu. 

"Tentu Presiden Amerika akan bertanya dulu dalam menyiapkan pidatonya. Dia kan tidak menyoroti Jakarta saja kan dalam pidatonya, tetapi masalah global, pemanasan global. Jakarta menjadi contoh karena ada informasi kepada Beliau tentang Jakarta," tutur Dicky. 

Terlepas dari pernyataan Joe Biden, lanjut Dicky, Jakarta dan sejumlah wilayah pesisir pantai utara memang tengah mengalami penurunan tanah yang lebih cepat berdasarkan kajian geologis, salah satunya akibat ekstraksi air tanah. 

"Kalau istilah saya di kelas itu bunuh diri pelan-pelan. Airnya diambil pelan-pelan dan masyarakat serta pemerintah seakan tak peduli (dengan kondisi penurunan tanah)," sesalnya.

Baca juga: Joe Biden Sebut Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi Saat Pidato tentang Perubahan Iklim

Bahkan, kata Dicky, penurunan tanah lebih cepat di kawasan Jakarta, termasuk daerah-daerah di pesisir pantai utara sudah diprediksi terjadi sejak 10 tahun silam yang mengacu pada hasil studi geodesi, sedimentasi dan tata ruang. 

"Berdasarkan studi geodesi, sedimentasi, dan tata ruang, memang sejak 10 tahun lalu sudah diprediksi penurunan permukaan lebih intensif itu bakal terjadi. Kondisi diperparah dengan pengambilan air, iklim, air laut naik, sehingga persoalannya makin kompleks," papar Dicky. 

Dicky menjelaskan, wilayah Jakarta dan sejumlah daerah di pesisir pantai utara memang rawan terjadi penurunan tanah lebih cepat karena berada di zona pedataran aluvium pantai. Zona ini merupakan pantai yang dinamis yang terbentuk dari material aluvium dimana terdapat titik-titik pendangkalan dan pengerosian.  

"Istilah pedataran aluvium pantai ini sudah diteliti seorang profesor Belanda sejak zaman penjajahan dulu. Ini merupakan pantai yang dinamis, di mana terdapat titik-titik pendangkalan, tetapi ada juga titik-titik yang mengalami pengerosian. Sementara pantainya terus bergerak karena dinamis dan di sisi lain karena penuh dengan aluvium, itu belum padu, belum kompak materialnya," ujarnya.

"Lalu di atasnya diisi oleh manusia. Di bawahnya, karena umumnya berada di kawasan delta sungai dan dia (materialnya) belum kompak, maka diisi oleh air. Lalu, airnya diambil terus, maka menjadi kosong dan akhirnya lambat laun akan amblas," sambung Dicky..

Oleh karenanya, lanjut Dicky, secara geologis, pedataran aluvium pantai merupakan wilayah yang rawan terjadi penurunan tanah lebih cepat. Terlebih, pembangunan kerap tidak memperhatikan faktor lingkungan.

"Misalnya ada sungai diurug, danau diurug untuk pembangunan, padahal itu tempat air, akhirnya banjir," imbuh Dicky seraya menambahkan bahwa potensi penurunan tanah lebih cepat juga diperparah dengan mencairnya es di wilayah kutub sebagai dampak pemanasan global hingga membuat muka air laut naik. 

Lebih lanjut Dicky mengatakan, pernyataan Joe Biden terkait masa depan Jakarta yang kini menyita perhatian publik tersebut sebenarnya menjadi momentun tepat untuk menyadarkan masyarakat terkait ancaman penurunan tanah lebih cepat, khususnya di Jakarta. 

"Masyarakat harus sadar, contoh sederhana jangan membuang sampah, mengambil air tanah secara besar-besaran. Masyarakat harus peduli bersama-sama. Katanya masyarakat kita gotong royong, tepo seliro, tapi untuk urusan begini kayanya masih belum. Ini momentum tepat untuk menyadarkan masyarakat," tegasnya. 

Dicky kembali menekankan bahwa untuk mengatasi persoalan ini tidak cukup hanya dengan regulasi. Bahkan, Dicky menyebut kesadaran masyarakat menjadi poin besar dalam penanganan masa depan Jakarta yang diprediksi bakal tenggelam itu. 

"Ini poin besarnya bukan kebijakan pemerintah. Gak bisa di regulasi, tapi butuh tatanan praktis," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini