Persoalan Penting di Masa Pandemi, Ini Fakta-Fakta Soal Limbah Medis

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 31 Juli 2021 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 30 337 2448541 persoalan-penting-di-masa-pandemi-ini-fakta-fakta-soal-limbah-medis-95ordxqfIX.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Limbah medis menjadi persoalan yang sangat krusial karena dampaknya pada kesehatan, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini. Apabila penanganannya tidak maksimal, maka potensi pencemaran lingkungan pun sangat terbuka lebar. Berikut adalah fakta seputar limbah medis yang dirangkum Tim Litbang MPI:

1. Apa Saja yang Termasuk Limbah Medis?

Limbah medis dihasilkan dari aktivitas medis di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Jenis beragam, diantaranya seperti limbah infeksius, patologis, benda tajam, limbah farmasi dan limbah medis padat. 

BACA JUGA: Indonesia Hasilkan Teknologi Olah dan Daur Ulang Limbah Medis Covid-19

Limbah infeksius merupakan limbah yang telah terkontaminasi organisme patogen yakni virus, bakteri maupun parasit. Berdasarkan pada sebuah jurnal kesehatan, limbah infeksius terdiri dari kapas, perban, peralatan yang memiliki kontak langsung dengan pasien dan kultur sebuah laboratorium.

Kemudian, limbah patologis biasanya terdiri dari bagian atau organ tubuh manusia, janin, darah, urin dan cairan tubuh lain. Limbah ini adalah bahan yang berasal dari otopsi dan berasal dari pembiakan bahan yang sangat infeksius. Adapula limbah benda tajam, yang memang sudah terkontaminasi oleh cairan tubuh, darah, bahan beracun atau radiokatif. Ini termasuk dalam limbah benda tajam adalah pisau bedah, skalpel dan jarum suntik.

BACA JUGA: Gawat! Limbah Medis Covid-19 Capai 18.460 Ton, Berbahaya dan Beracun

Terakhir, ada limbah medis jenis farmasi. Limbah ini terdiri dari obat-obatan, vaksin dan serum yang memang sudah kadaluarsa, tumpah dan terkontaminasi. Sehingga, tidak diperlukan lagi.

Limbah medis padat merupakan sisa hasil kegiatan yang tidak dipergunakan lagi, dan berpotensi telah terinfeksi dan terkontaminasi pasien. Contohnya adalah masker bekas, sarung tangan bekas dan APD (Alat Pelindung Diri) bekas.

2. Data Limbah Medis Terbaru

Limbah medis semakin bertambah keberadaannya. Seperti yang diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar dalam konferensi pers yang diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden, limbah medis pada 19 – 27 Juli 2021 mencapai 18.460 ton. Limbah medis yang ada adalah infus bekas, jarum suntik, perban, masker bekas dan alat PCR serta swab antigen.

Jumlah ini merupakan limbah medis Covid-19 yang berasal dari bebagai rumah sakit, termasuk RSDC Wisma Atlet, lokasi tempat karantina dan isolasi maupun limbah dari vaksinasi.

3. Metode Terbaik Atasi Limbah 

Melambungnya angka limbah medis menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah. Sebab, jika tidak serius ditangani, maka akan menimbulkan masalah baru. Menurut Pedoman Pengelolaan Limbah Fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) yang dikeluarkan Kemenkes, limbah medis padat harus dimasukkan ke dalam wadah yang sudah dilapisi kantong plastik bersimbol biohazard.

Setelah sudah penuh sebanyak ¾ bagian, maka kantong plastik harus diikat rapat dan diangkut setiap hari. Petugas yang menangani limbah juga wajib menggunakan APD lengkap, sarung tangan dan kacamata khusus.

Sementara itu, mengingat saat ini seluruh masyarakat diwajibkan menggunakan masker, maka Kemenkes bersama Germas (gerakan masyarakat hidup sehat) juga mengeluarkan imbauan penanganan limbah masker. Terdapat 5 tahapan, yakni kumpulkan masker bekas pakai, lakukan disinfeksi, rubah bentuk masker dengan cara merusak talinya dan merobek bagian tengahnya, buang ke tempat sampah domestik dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Untuk penanganan limbah medis B3 lainnya, sebenarnya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019. Identifikasi jenis limbah harus dilakukan dengan benar. Caranya adalah dengan melihat jenis limbah, karakteristik dan sumbernya. Umumnya, proses identifikasi ini dilakukan oleh unit kerja kesehatan lingkungan dan unit penghasil limbah di masing-masing rumah sakit.

Satu hal utama yang tak boleh luput dari perhatian adalah, cara penanganan tumpahan darah atau cairan tubuh lain yang ada di lantai. Pembersihan harus menggunakan perangkat alat pembersih dan ditempatkan di wadah terpisah. Maka dari itu, perangkat alat pembersih harus tersedia di tiap rumah sakit dan dilengkapi dengan pedoman penggunaan. Begitu pula pada penanganan limbah medis lain.

4. Kasus Pembuangan Limbah Medis Sembarangan

Salah satu Kasus pembuangan limbah medis terjadi di Bogor, Jawa Barat pada Februari 2021. Dilansir dari Okezone.com, tersangka membuang limbah medis penanganan Covid-19 pada 6 dan 8 Februari di sebuah TPSS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara) di wilayah Bogor Selatan. Bahkan, tersangka juga membuah limbah medis tersebut di tempat peristirahatan jalan tol. 

Adapun limbah medis yang dibuang tersangka adalah masker, baju hazmat dan alat bekas tes cepat Covid-19. Tersangka membawa limbah itu dari sebuah perusahaan di daerah Depok, Jawa Barat. Ia kemudian dijerat dengan pasal 40 ayat 1 tentang pengelolaan sampah. Tak tanggung-tanggung, ancaman penjaranya bisa sampai 10 tahun. Tersangka juga bisa dikenakan pasal Pasal 104 UU RI Nomor 32 Tahun 2009, tetang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan ancaman 3 tahun penjara.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini