Pandemi Tak Bisa Diprediksi Kapan Berakhir, Satgas Siapkan Opsi Berdampingan dengan Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 29 Juli 2021 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 337 2447941 pandemi-tak-bisa-diprediksi-kapan-berakhir-satgas-siapkan-skema-berdampingan-dengan-covid-19-0ClUIdBvzQ.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama satu setengah tahun lamanya. Kasubbid Tracing, Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Kusmedi Priharto pun mengatakan bahwa tidak ada yang bisa memprediksi sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berlangsung.

“Jadi, kita tahu bahwa kita sudah satu setengah tahun ya mengalami masalah Covid ini. Dan sampai hari ini tidak ada satu orang pun yang bisa memprediksi sampai berapa lama Covid ini akan berada. Dan bagaimana nanti kita dapat mengatasi masalah ini,” ungkap dalam dialog secara virtual dari kanal resmi BNPB, Kamis (29/7/2021).

Bahkan, kata Kusmedi, beberapa negara yang telah membuka lockdown pun akhirnya kembali melaksanakan kebijakan lockdown. “Beberapa negara yang sudah tadinya melepas lockdown akhirnya kembali lagi pada lockdown, kembali lagi pada lockdown,” katanya.

Oleh karena itu, Kusmedi mengatakan kini sewajarnya mempersiapkan diri untuk berdampingan dengan dengan Covid-19. “Maka sudah sewajarnya lah kita mempersiapkan diri kita untuk hidup berdampingan dengan Covid.”

“Seperti pada waktu dulu ada flu Spanyol yang ada di Indonesia juga yang sampai dengan 100 tahun. Akhirnya bagaimanapun juga masyarakat harus beradaptasi terhadap kehidupan-kehidupan yang berhubungan dengan masalah penularan daripada Covid ini sendiri,” kata Kusmedi.

Kusmedi mengatakan bahwa Covid-19 berbeda dengan virus-virus yang ada sebelumnya. “Satu hal yang perlu saya tegaskan kepada masyarakat, bahwa Covid ini berbeda. Virusnya seperti SARS-Cov-1 itu dia ada memiliki perantaranya yaitu unggas. Ada flu babi perantaranya babi, ada flu burung media perantaranya burung, ada demam berdarah media perantaranya nyamuk.”

“Kalau media antaranya itu dibasmi, maka dia akan hilang penularannya. Sedangkan pada SARS-Cov-2 ini medianya adalah head to head, antara manusia dengan manusia. Sehingga kalau kita mau memutuskan, kan tidak mungkin kita menghilangkan manusianya,” kata Kusmedi.

Sehingga, kata Kusmedi, semuanya sangat bergantung pada perilaku dalam menjaga penularan itu. “Kalau perilaku kita baik, maka angkanya akan turun. Ketika perilaku kita buruk untuk tidak bisa menjaga dengan baik cara mencegah cara penularannya maka angkanya akan naik.”

“Nah, itu harus dipahami oleh masyarakat. Jangan semua-semuanya diserahkan kepada pemerintah. Pemerintah sudah banyak berbuat terhadap hal tersebut. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana masyarakat menyikapi penularan antara orang ke orang tersebut,” papar Kusmedi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini