Berusia 394 Tahun, Masjid Pucok Krueng Beuracan di Aceh Masih Berdiri Kokoh

Jamal Pangwa, iNews · Kamis 29 Juli 2021 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 337 2447576 berusia-394-tahun-masjid-pucok-krueng-beuracan-di-aceh-masih-berdiri-kokoh-k2sPxU6Qhm.jpg Masjid Pucok Krueng Beuracan (foto: Dok Kemendikbudristek)

PIDIE JAYA - Masjid Pucok Krueng Beuracan, yang terletak di Desa Teupin Peuraho, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh merupakan salah satu peninggalan sejarah penyebaran agama Islam di tanah Rencong Aceh. Keunikan dari masjid ini terbuat dari bahan kayu jati.

Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, ada dua masjid yang berbahan kayu jati yang di bangun pada masa masuknya budaya Islam di Serambi Mekkah Aceh.

Baca juga:  Kisah Wanita Sekampung Menganyam Tikar Lanjutkan Tradisi Nenek Moyang

Masjid kuno yang terletak di pinggir jalan nosional lintas medan - Banda Aceh tepatnya di Desa Teupin Peuraho, Kecamatan Meureudu, merupakan salah satu dari beberapa masjid lain yang berbahan kayu jati yang di bangun oleh Syekh Abdul Salim yang dikenal dengan Tengku Pucok Krueng, Syekh Jamaluddin, dan beberapa pengikutnya.

Masjid ini memiliki kesamaan dengan masjid di Madinah yang juga merupakan masjid kuno yang ada di Kabupaten Pidie Jaya, yakni atap tumpeng atau sirap yang menjadikan ciri khas motif Aceh.

Baca juga:  Menanti Selesainya Museum Alquran Kuno di Aceh

Selain itu, masjid ini juga merupakan salah satunya masjid panggung yang di bangun pada masa masuknya budaya Islam ke wilayah Kesultanan Iskandar Muda.

Meski masjid ini sudah dilakukan beberapa kali renovasi, namun bangunan utama berupa tempat sholat utama dan atap masjid berbentuk tumpeng masih tetap di pertahankan hingga sekarang.

Masjid ini sendiri masih di pergunakan dan di pertahankan untuk aktivitas umat seperti sholat lima waktu dan kegiatan lainnya, terlebih pada saat tertentu kerap digunakan khataman Alquran dan pengajian kitab kuning.

Sementara itu, Raja Mansur pengurus masjid tersebut menyebutkan, bahwa pembangunan masjid ini memakan waktu hingga dua tahun lebih saat itu, dikarenakan dalam usaha pencarian bahan material, masjid ini di bangun dengan pengadaan tiang berjumlah 16 buah, terdiri dari 12 tiang penyangga atap pertama pada sisi masjid.

Serta memiliki 4 tiang penyangga atap dua dan sebuah tiang utama yang berfungsi sebagai soko guru menyangga atap tiga dan kubah mesjid. Namun ukuran besar kecilnya tiang sangat tergantung pada fungsi, dan posisi 12 tiang penyangga atap pertama pada posisi masjid dengan ukuran penyangga atap dua dengan ukuran 27 cm dan tiang utama dengan ukuran 35 cm, semua tiang tersebut bersegi delapan terdiri dari kayu jati.

Kendati struktur Masjid Pucok Krueng Beuracan ini di rancang sepenuhnya oleh Syekh Abdul Salim dengan atap bersusun tiga dan di antara atap dua dengan atap tiga terdapat sebuah ruangan yang konon di fungsikan sebagai tempat bilal mengumandangkan adzan, kubah masjid menyatu dengan atap tiga yang berbentuknya lebih kecil dari lebar atap dengan ornamen sirip kayu.

Masjid Pucok Krueng berusia 394 tahun masih berdiri kokoh tidak roboh walaupun dengan goncangan gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter menguncang Pidie Jaya, yang terjadi tepatnya pada pukul 05.03 WIB, pada tanggal 7 Desember 2016 lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pidie Jaya, M.Nasir, menyampaikan bahwa selama ini yang masih terawat rapi ada dua masjid kuno di Pidie Jaya yaitu Masjid Pucok Krueng Beuracan, dan Masjid Madinah di Kecamatan Meurah dua.

Kedua masjid ini merupakan masjid yang di bangun oleh para penyebar Islam dari madinah yang datang ke Aceh pada masa itu, bahkan masjid- masjid ini di anggap sakral oleh warga Aceh. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini