Cerita Pahitnya Buah Maja, Awal Mula Kerajaan Majapahit

Tim Okezone, Okezone · Kamis 29 Juli 2021 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 337 2447548 cerita-pahitnya-buah-maja-awal-mula-kerajaan-majapahit-VxOB9zIpvJ.jpg foto: istimewa

KONON nama Majapahit berasal dari nama buah maja yang dikenal dengan rasanya yang pahit. Pada waktu Raden Wijaya bersama-sama orang Madura membuka ”alasing wong Trik” yang akan digunakan sebagai pemukiman, di sekitar lokasi tempat baru itu banyak dijumpai pohon Maja.

Ketika itu para pekerja yang membabat alas kehabisan perbekalannya, lalu mereka makan buah Maja tersebut dan ternyata rasanya pahit. Demikian diungkap buku "Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota", Penerbit Kepel Press, 2014.

 Baca juga: Kisah Cinta Damarwulan dan Kencono Wungu, Syaratnya Bawa Kepala Minak Jinggo

Ada beberapa nama tempat yang menggunakan unsur kata ”mojo”, seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojolegi, Mojoduwur, Mojowangi, dan Mojosari. Sementara itu di Trowulan sendiri tidak dijumpai nama tempat yang menggunakan unsur kata ”mojo”.

Namun desa tersebut telah mewariskan berbagai jenis maupun variasi benda-benda purbakala. Oleh karena itu, Desa Trowulan hingga sekarang diyakini sebagai bekas ibukota kerajaan Majapahit.

 Baca juga: Kisah Cinta Raden Wijaya dengan 4 Putri Kertanegara dan Dara Petak

Sudah ratusan tahun usia situs Trowulan sebagai situs perkotaan Majapahit yang digeluti oleh para peneliti, baik dari dalam negeri, luar negeri, maupun pemerhati budaya.

Namun hasil dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan itu hingga kini belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu sebuah ibukota kerajaan dari masa Hindu-Buda, satu-satunya situs perkotaan di era kerajaan-kerajaan kuno dari abad V-XV Masehi yang ada di Nusantara ini.

Memang upaya untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang sebuah kota tidaklah mudah. Apalagi peninggalan-peninggalannya yang sampai kepada kita sangat fragmentaris. Ada beberapa faktor penyebab kerusakan yang dialami kerajaan Majapahit. Utamanya adalah faktor internal, yaitu adanya suksesi dan perebutan kekuasaan.

Di dalam perjalanannya kerajaan Majapahit mengalami berbagai peristiwa pemberontakan di antara keluarga raja untuk memperebutkan kekuasaan, seperti pemberontakan Ranggalawe, Lembusora, Nambi, Kuti, Tanca, penaklukan Keta, dan Sadeng (Baskoro 2004).

Peristiwa besar yang hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit dikenal sebagai perang Paregreg, antara Wikramawardhana dari wilayah bagian barat (Majapahit) dengan Bhrĕ Wirabhumi yang memerintah di bagian timur (Blambangan). Pemberontakan terus-menerus terjadi, penguasa silih berganti. Kemudian muncullah Girindrawardhana yang mengambil alih pemerintahan Majapahit.

Girindrawardhana inilah yang berusaha mempersatukan kembali wilayah kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga (Baskoro 2004). Meskipun ia telah menyatukan kembali wilayah Majapahit yang terpecah-pecah, tetapi kekuasaan kerajaan Majapahit tidak dapat dipertahankan. Akibatnya pengawasan terhadap daerah-daerah bawahannya semakin lemah, dan memberi peluang bagi daerah-daerah bawahan tersebut untuk menyusun kekuatan dan melepaskan diri dari Majapahit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini