Kisah Runtuhnya Kerajaan Singasari: Prabu Kertanegara Dibunuh Dalam Keadaan Mabuk

Tim Okezone, Okezone · Kamis 29 Juli 2021 07:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 337 2447543 kisah-runtuhnya-kerajaan-singasari-prabu-kertanegara-dibunuh-dalam-keadaan-mabuk-uVK47f4QK3.jpg Illustrasi Prabu Kertanegara (foto: istimewa)

Karena Arya Wiraraja memang ahli strategi politik dan mahir dalam strategi perang, maka dengan adanya kekosongan pasukan di Singasari dengan pengiriman bala tentara perangnya ke Swarnadwipa (Sumatera) di bawah pimpinan Kebo Anabrang, menjadi suatu peluang yang baik untuk melancarkan serangan bagi Jayakatwang.

Dengan demikian, maka Arya Wiraraja mengirimkan surat kepada Jayakatwang yang diantarkan oleh putranya yang bernama Arya Wirondaya. Isi suratnya menurut Serat Pararaton sebagai berikut :

”Sang Nata amba tur wikan, yen paduka karsa ambereg lit nguni, mring pategalan lawas, prayogine linakyan samangkin, mumpung nuju ing mansa prayoga, tan na walang salisike, tan woten bajulipun, sima sepen banthengira wis, eri tanapi sarpa, tanana sadarum, wonten uga samanira, mung sayuga nanging wus ompong tan nggigit, mung mataken turira,” yang artinya adalah "Paduka Raja, hamba memberi tahu, kalau paduka bermaksud berburu seperti dulu ke peladangan lama, sebaiknya dilaksanakan sekarang saja. Disaat waktunya baik. Tak ada belalang seekor pun, tak ada buayanya. Macan pun sepi, bantengnya hilang. Baik duri maupun ular tak ada. Memang ada singanya seekor dan itupun sudah ompong tak akan menggigit. Hanya itulah pesan hamba,”.

 Baca juga: Cerita Presiden Soekarno Nyaris Tewas Dibom Granat

Dikala Wirondaya putra Arya Wiraraja menghadap Jayakatwang di Daha, terjadilah dialog antara keduanya. Arya Wirondaya mengatakan, bahwa ayahnya sakit hati pada sikap Prabu Kertanegara, yang dalam kidung Harsawijaya disebutkan ” ......tan trepi rehing nagari arawat-rawat kewuh” dengan demikian maka Jayakatwang yakin bahwa Arya Wiraraja tidak akan mengirimkan bala pasukannya untuk membantu Prabu Kertanegara.

Hal mana merupakan peluang yang sangat besar untuk melumpuhkan Singasari. Yang ada di Keraton, saat itu hanya Empu Raganata yang sudah tua seperti dikatakan dalam surat Arya Wiraraja ”.............. wonten uga samanira, mung sayuga nanging wus ompong tan nggigit.” (Memang ada singanya seekor dan itupun sudah ompong tak akan menggigit, yang disebut macan ompong adalah Empu Raganata karena sudah tua).

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini