Kisah Runtuhnya Kerajaan Singasari: Prabu Kertanegara Dibunuh Dalam Keadaan Mabuk

Tim Okezone, Okezone · Kamis 29 Juli 2021 07:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 337 2447543 kisah-runtuhnya-kerajaan-singasari-prabu-kertanegara-dibunuh-dalam-keadaan-mabuk-uVK47f4QK3.jpg Illustrasi Prabu Kertanegara (foto: istimewa)

POLITIK Prabu Kertanegara ditujukan pada pembentukan suatu negara besar dengan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di wilayah Nusantara, agar dapat menyusun persatuan yang cukup kuat untuk mempertahakan diri, terhadap ekspansi dari luar terutama dari daratan China.

Prabu Kertanegara pun menjalin hubungan dengan kerajaan Bali, Pamalayu (Sumatera), Borneo (Kalimantan), Tumasik (Singapura), Champa (Kamboja) dan lain sebagainya.

Baca juga:  Sawunggaling Sulit Dibunuh, Kompeni Murka dan Rakyat Surabaya Digilas

Rencana yang akan mempersatukan Nusantara gagal, tidak bisa dilaksanakan bukan karena adanya ancaman perang dengan Kekaisaran daratan China, tetapi dikarenakan adanya serangan dari pihak dalam sendiri, yaitu serangan yang dilakukan oleh Adipati Jayakatwang yang penuh ambisi untuk menguasai pulau Jawa, juga karena balas dendam kepada keturunan Ken Arok Sri Rajasa. Demikian terungkap dikutip dari sumenepkab.go.id.

Pada puluhan tahun yang lalu, Raja Kediri Prabu Kertajaya selaku kakek buyut dari Jayakatwang ditaklukkan oleh Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi Ken Arok yang juga kakek buyut Kertanegara, dengan berdirinya kerajaan Singasari.

Baca juga:  Lempar Batu ke Watu Layar Peninggalan Sunan Bonang Bisa Kaya?

Memang sebelumnya diketahui oleh Prabu Kertanegara, bahwa keberadaan Adipati Jayakatwang akan membahayakan kedudukan dirinya, karena dendam turunan yang tidak mudah untuk dihilangkan, dan tidak menutup kemungkinan pada suatu saat akan menghantam dari belakang, namun hal itu agak dikesampingkan karena ambisi mempersatukan Nusantara jauh lebih besar.

Untuk mengantisipasi gejolak dendam Jayakatwang, maka dikawinkan dengan adik Kertanegara bernama Turuk Bali. Disamping itu Tribuwana putri kedua Kertanegara dikawinkan dengan Arya Ardharaja, putra Jayakatwang. Yang seakan tidak mungkin akan terjadi balas dendam keturunan karena masih ada hubungan ipar dan besan.

Perlu diketahui, bahwasanya Arya Wiraraja berteman dengan Jayakatwang dan sering berhubungan. Adanya kemauan Jayakatwang yang akan balas dendam kepada Prabu Kertanegara dan akan menghancurkan Singasari, tercium oleh Arya Wiraraja, apalagi usulan Arya Wiraraja pernah ditolak dan dirinya disingkirkan ke Sumenep oleh Prabu Kertanegara, sehingga dirinya merasa disisihkan.

Karena Arya Wiraraja memang ahli strategi politik dan mahir dalam strategi perang, maka dengan adanya kekosongan pasukan di Singasari dengan pengiriman bala tentara perangnya ke Swarnadwipa (Sumatera) di bawah pimpinan Kebo Anabrang, menjadi suatu peluang yang baik untuk melancarkan serangan bagi Jayakatwang.

Dengan demikian, maka Arya Wiraraja mengirimkan surat kepada Jayakatwang yang diantarkan oleh putranya yang bernama Arya Wirondaya. Isi suratnya menurut Serat Pararaton sebagai berikut :

”Sang Nata amba tur wikan, yen paduka karsa ambereg lit nguni, mring pategalan lawas, prayogine linakyan samangkin, mumpung nuju ing mansa prayoga, tan na walang salisike, tan woten bajulipun, sima sepen banthengira wis, eri tanapi sarpa, tanana sadarum, wonten uga samanira, mung sayuga nanging wus ompong tan nggigit, mung mataken turira,” yang artinya adalah "Paduka Raja, hamba memberi tahu, kalau paduka bermaksud berburu seperti dulu ke peladangan lama, sebaiknya dilaksanakan sekarang saja. Disaat waktunya baik. Tak ada belalang seekor pun, tak ada buayanya. Macan pun sepi, bantengnya hilang. Baik duri maupun ular tak ada. Memang ada singanya seekor dan itupun sudah ompong tak akan menggigit. Hanya itulah pesan hamba,”.

 Baca juga: Cerita Presiden Soekarno Nyaris Tewas Dibom Granat

Dikala Wirondaya putra Arya Wiraraja menghadap Jayakatwang di Daha, terjadilah dialog antara keduanya. Arya Wirondaya mengatakan, bahwa ayahnya sakit hati pada sikap Prabu Kertanegara, yang dalam kidung Harsawijaya disebutkan ” ......tan trepi rehing nagari arawat-rawat kewuh” dengan demikian maka Jayakatwang yakin bahwa Arya Wiraraja tidak akan mengirimkan bala pasukannya untuk membantu Prabu Kertanegara.

Hal mana merupakan peluang yang sangat besar untuk melumpuhkan Singasari. Yang ada di Keraton, saat itu hanya Empu Raganata yang sudah tua seperti dikatakan dalam surat Arya Wiraraja ”.............. wonten uga samanira, mung sayuga nanging wus ompong tan nggigit.” (Memang ada singanya seekor dan itupun sudah ompong tak akan menggigit, yang disebut macan ompong adalah Empu Raganata karena sudah tua).

Setelah diketahui oleh Jayakatwang bahwa Prabu Kertanegara kala itu sedang lengah pada situasi keamanan dalam negeri, karena mempersiapkan pasukannya untuk menunggu serangan dari armada China (Kaisar Kubilai Khan), selain sebagian besar bala tentara Kediri dikirim ke pantai pesisir utara Pulau Jawa, juga ada di luar Pulau Jawa untuk menjaga kerajaan taklukannya.

Apalagi dikuatkan oleh surat dari Arya Wiraraja sebagai kawannya yang telah menjadi Adipati di Sumenep. Dengan demikian surat tersebut merupakan suatu masukan yang sangat bagus dan juga sudah ada kepastian bahwa Adipati Sumenep tersebut tidak akan ikut berperang, atau tidak mengirimkan untuk membantu Prabu Kertanegara melawan Jayakatwang. Hal mana merupakan kesempatan yang baik untuk merebut kembali negara yang dulu telah direnut oleh Ken Arok dari tangan buyutnya Pranu Kertajaya.

Penyerbuan Jayakatwang mulai bergerak melakukan penyerangan dengan strategi pasukan perangnya dipecah menjadi dua, sebagian menyerang melalui sebelah utara Singasari atau dataran rendah Malang, dipimpin oleh Jaran Guyang dan yang sebagian lagi melalui sebelah selatan yang dipimpin oleh Patih Kebo Mundarang.

Dengan demikian pasukan Singasari menyambut di Kedung Peluk untuk memukul mundur serangan yang dari utara tersebut. Pasukan Jayakatwang dipukul habis-habisan sehingga banyak yang gugur dan melarikan diri, tapi terus dikejar sampai di desa Lemah Batang dan Kapulungan.

Kemudian pasukan Jayakatwang dipukul mundur lagi dan lari ke desa Rabutcarat, di sana bertemu dengan pasukan yang sebagiannya, yang memang sengaja dipersiapkan sebagai bantuan yang diletakkan di desa Hanyiru untuk menghantam dari sebelah Timur.

Selanjutnya terjadilah pertempuran hebat sehingga pasukan Singasari yang dipimpin oleh Raden Ardharaja kewalahan dan mundur ke desa Kapulungan, di sana mulailah mengatur siasat. Raden Ardharaja yang berbalik haluan, yang tadinya berdiri di pihak mertuanya sekarang berputar arah membantu Ayahandanya dan bergabung dengan pasukan Daha.

Penyerangan mulai dipersiapkan lagi dan ditambah persiapan pasukan yang ada di desa Kurawan dan Kembangsari, sedangkan pasukan Singasari dipimpin oleh Raden Wijaya dengan kekuatan yang sudah berkurang. Disamping banyak yang gugur dan sebagian lagi dibawa oleh Arya Ardharaja yang bergabung dengan pasukan Ayahandanya.

Meskipun Raden Wijaya berjuang bersama pasukannya yang gagah berani, sangat tidak mungkin baginya untuk memenangkan pertempuran dengan kondisi pasukan yang sangat minim. Penghianatan Arya Ardharaja sangat berpengaruh pada peta kekuatan Raden Wijaya. Maka semangat pasukan Raden Wijaya menjadi surut dan kemudian memilih mundur bersama kedua belas pengikutnya yang masih setia, antara lain : 1. Lembusora, 2. Gajah pagon, 3. Medang Dangdi, 4. Mahisa Wagal, 5. Nambi, 6. Banyak Kapuk, 7. Kebo Kapetengan, 8. Wirota, 9. Wiragapati, dan 10. Pamandana.

Menurut kitab Negarakartagama para pengikut Raden Wijaya adalah Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Lembusora, Dangdi dan Gajah Pagon.

Dengan mundurnya Raden Wijaya beserta sisa-sisa pasukannya, maka kemenangan berada di pihak pasukan Daha yang dipimpin oleh Adipati Jayakatwang. Mereka dengan mudahnya memasuki pusat kerajaan Singasari, kemudian Prabu Kertanegara dibunuh oleh Jayakatwang, dalam keadaan mabuk minuman keras seperti tuak dan sebagainya. Dan selanjutnya pusat kerajaan atau keraton Singasari dihancurkan, kemudian pusat pemerintahan dipindah ke Kediri, dan dikendalikan oleh Jayakatwang pada tahun 1292. (din)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini