Potensi Tsunami di Pacitan, Mensos Risma Minta Semua Siaga: Ini Bukan Sekadar Ramalan

Dominique Hilvy Febiani, MNC Media · Rabu 28 Juli 2021 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 337 2447212 potensi-tsunami-di-pacitan-mensos-risma-minta-semua-siaga-ini-bukan-sekadar-ramalan-4dTaySFmc8.jpg Tri Rismaharini. (Foto: MNC Portal Indonesia)

JAKARTA - Menteri Sosial Tri Rismaharini mengungkapkan tiga pesan untuk siaga menghadapi potensi tsunami di Pacitan Risma mengingatkan, prediksi bencana yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) agar diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Termasuk prediksi adanya ancaman tsunami di pantai Selatan Jawa.

"Saya ingin menyampaikan evaluasi dari Kepala BMKG terhadap kondisi Kabupaten Pacitan yang berpotensi terjadi bencana tsunami," kata Risma dalam keterangan tertulis di laman resmi Kementerian Sosial Republik Indonesia, Rabu (28/7/2021). 

Baca juga: Gempa M6,5 di Sulteng, Kepala BMKG Minta Masyarakat Pesisir Jauhi Pantai

"Pertama, early warning system atau sistem peringatan dini yakni dengan pengawasan pantai melalui alarm yang akan mengingatkan warga di pantai, apabila ada indikasi akan terjadi bahaya gempa dan tsunami," ujar Risma.

"Kedua, menyiapkan upaya penyelamatan diri. Hal ini terkait sarana prasarana dan aksesibilitas bagi masyarakat untuk  menyelamatkan diri secepatnya ketika terjadi bencana," ujarnya.

Ia juga menuturkan bahwa rambu-rambu petunjuk evakuasi masih kurang. “Perlu diperbanyak dan disediakan di tempat-tempat yang memang biasa dikunjungi orang. Lalu jalur evakuasi juga harus diperbanyak serta jembatan menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES) yang terputus harus diperbaiki,” kata Risma. 

"Untuk teman-teman Tagana (Taruna Siaga Bencana), saya minta untuk bantu pemetaan evakuasi, hambatannya apa, serta aksesnya seperti apa," kata Risma.

Menurut Risma, yang ketiga adalah menggunakan kearifan lokal. Ia mencontohkan tsunami di Aceh yang salah satu dampaknya dirasakan di Kabupaten Sumeulue.

"Di sana waktu saya lihat korban yang jatuh tidak banyak. Ternyata ada kearifan lokal seperti bangunan-bangunan rumah yang berupa kayu gitu, semacam tahan gempa. Masyarakat (secara turun temurun) juga bisa membedakan gempa yang berpotensi tsunami dan mereka segera lari ke atas bukit. Hal-hal seperti itu yang bisa kita gali," katanya.

Terkait pembangunan shelter atau tempat pengungsian sementara akan didiskusikan dengan pihak terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Risma menegaskan pentingnya kesiapsiagaan semua pihak, termasuk masayarakat. Pasalnya, potensi tersebut bukan sekadar ramalan. "Berkali-kali Kepala BMKG menyampaikan, ramalan ini bukan sekedar ramalan, tapi itu hasil analisa dan penelitian dari para ahli tentang kebencanaan. Karena itu alangkah bijaksana kita bisa mengantisipasi agar tidak terjadi korban yang lebih banyak. Sosialisasi pun harus terus menerus dilakukan," pungkas Risma.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, mengatakan menurut hasil penelitian, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu kawasan di garis pantai selatan pulau Jawa yang berpotensi terjadi gempa tsunami.

"Diperkirakan potensi tsunami dapat terjadi dengan ketinggian gelombang hingga 18 meter dengan waktu tiba sekitar 26 menit setelah terjadi gempa bumi," kata Rahmat. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini