Wapres: Jurnalis Jadi Ujung Tombak Penyampai Informasi di Era Pandemi

Fahreza Rizky, Okezone · Minggu 25 Juli 2021 08:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 25 337 2445578 wapres-jurnalis-jadi-ujung-tombak-penyampai-informasi-di-era-pandemi-KjV7Gg5eiY.jpeg Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma'ruf Amin. (Foto: Okezone)

JAKARTA Jurnalis adalah ujung tombak penyampai informasi di tengah pandemi Covid-19, demikian disampaikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Dia mengatakan bahwa salah satu fungsi media di tengah pandemi ini adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya disiplin protokol kesehatan.

"Dalam kondisi pandemi ini, jurnalis menjadi ujung tombak penyampaian beragam informasi tentang Covid-19," kata Wapres dalam acara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bermunajat, Sabtu (24/7/2021).

BACA JUGA: Ma'ruf Amin "Sentil" Daerah yang Serapan Anggaran Covid-19 Rendah 

"Mulai dari edukasi mengenai pentingnya disiplin terhadap protokol kesehatan, perkembangan Covid-19, pelaksanaan PPKM Darurat, pelaksanaan vaksinasi, hingga dukungan pelayanan kesehatan, maupun pemberitaan peristiwa lainnya," tambah dia.

Wapres mengapresiasi jurnalis yang selalu menerapkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam tiap produk yang dihasilkannya. Hal itu penting demi obyektivitas dan keberimbangan pemberitaan.

"Saya juga berharap agar cara-cara pemberitaan yang demikian dapat terus dipertahankan dan dikembangkan demi persatuan bangsa, kecerdasan masyarakat, dan kemajuan bersama," tuturnya.

Lebih lanjut, Wapres menuturkan bahwa media berperan sangat krusial dalam menyampaikan kritik yang membangun terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah, sekaligus dalam melakukan cek fakta di lapangan atas hoaks maupun disinformasi yang ada.

BACA JUGA: Daftar 4 Kecelakaan Maut di Jalan Tol Paling Fenomenal

Namun, dia juga menyayangkan masih adanya media yang mengabaikan kode etik, bahkan menyampaikan informasi yang tidak benar demi mencari pembaca dengan click bait, atau "umpan klik". Ini dilalukan dengan judul berita yang membuat orang tertarik padahal kontennya berbeda, sehingga ramai beredar tanpa didukung verifikasi dan fakta yang mumpuni.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) hingga 16 Juli, ditemukan 2.027 isu hoaks Covid-19, vaksin Covid-19, dan PPKM darurat dengan total keseluruhan persebaran berjumlah 5,835 konten hoaks dan disinformasi.

"Perlu diingat bahwa angka tersebut hanyalah identifikasi terhadap isu terkait Covid-19. Data tersebut juga meliputi penyebaran berita dengan konteks yang tidak tepat atau click bait oleh masyarakat," terang Wapres.

Menurut Wapres situasi demikian tidak hanya akan memancing kesalahpahaman, menciptakan keresahan, namun juga dapat memicu perpecahan dan melemahkan eksistensi pers Indonesia sebagai pers pemersatu.

"Meski demikian, saya percaya bahwa PWI, Dewan Pers, serta asosiasi media dan persatuan jurnalis yang dinaunginya beranggotakan insan pers yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini