Kisah Rampogan Macan, Harimau Jawa Diadu dengan Banteng dan Prajurit Keraton

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 24 Juli 2021 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 24 337 2445221 kisah-rampogan-macan-harimau-jawa-diadu-dengan-banteng-dan-prajurit-keraton-jQ6YWGNeqL.jpg Acara Rampogan Macan zaman dulu. (Foto: H Salzwedel via UGM.ac.id)

R. KARTAWIBAWA, di buku ‘Bakda Mawi Rampog’ terbitan tahun 1928 menuliskan bahwa acara rampogan macan sering diselenggarakan pada abad 18 – 19. Rampogan ini sering diadakan Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta dan merupakan tradisi para ningrat. Di Kesunanan Surakarta, nampaknya sudah mulai ada sejak zaman Amangkurat II.

Paku Buwono X gemar mengadakan acara Rampogan Macan. Macan dan hewan-hewan liar lainnya memang sengaja dipelihara dalam kandang-kandang di sudut alun-alun.

Hewan liar ini adalah hasil buruan atau tangkapan dan nantinya akan dipagelarkan dalam acara Rampogan.

Acara dilaksanakan di alun-alun utara yang biasanya diadakan untuk menyambut tamu agung. Tamu agung ini biasanya adalah para pembesar dari penjajah Belanda seperti Gubernur Jenderal.

Baca juga: Di Mana Letak Kerajaan Sriwijaya, Palembang, Jambi, Lampung, Riau, atau Thailand?

Pada awalnya yang sering diadu dalam Rampogan Macan ini adalah macan dengan banteng.

Awal acara, pada pagi harinya setelah para pembesar datang dan berkumpul, maka para prajurit bersiap-siap di tengah alun-alun dengan membentuk formasi mengelilingi arena pertarungan.

Para penombak adalah prajurit baru atau orang-orang yang kurang terlatih, tidak seperti prajurit kraton yang telah lama. Sehingga banyak juga yang lari ketakutan atau ketika sudah berhadapan maka tidak banyak berbuat apa-apa.

Seringkali mereka lebih banyak mengedepankan alasan magis, di mana tombak mereka kalah pamor dengan sang macan.

Baca juga: Kisah Jagoan Condet yang Gugur Diberondong Marsose di tengah Sungai Ciliwung

Tombak yang biasanya juga merupakan senjata pusaka setelah keris ini lantas dijual atau digadaikan bila dirasa memalukan saat acara Rampogan.

Rampogan ini kemungkinan berasal dari kata Rampog yang sering diartikan sebagai “rayahan” atau “rebutan”, di mana ratusan orang berebut untuk membunuh harimau atau macan menggunakan tombak.

Acara biasanya mulai dilaksanakan pada pagi hari dan puncak acara berupa pertarungan antara macan dan banteng pada siang hari. 

Acara yang dilaksanakan di kadipaten lebih bermakna ruwatan atau mengusir roh jahat. Harimau dijadikan perlambang roh jahat yang mati dan hilang diusir beramai-ramai lewat pembantaian.

Pemerintah Belanda akhirnya melarang acara ini pada tahun 1905 dengan alasan etika. Banyak orang Belanda menganggap bahwa ini sebenarnya bukan suatu sikap kesatria dan terhormat. Hal ini dibandingkan dengan matador spanyol yang lebih berhadapan satu lawan satu. 

Rampogan Macan hanya tinggal cerita. Harimau Jawa juga sudah punah sejak tahun 1980-an. Dinyatakan secara resmi punah pada 1996 dengan habitat terakhir di Taman Nasional Meru Betiri di Jember.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini