Berikut Daftar Tokoh Nasional yang Berprofesi Wartawan

Amira Karin Khairana, Litbang Okezone · Senin 16 Agustus 2021 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 23 337 2444887 berikut-daftar-tokoh-nasional-yang-berprofesi-wartawan-nOOH7JMz2T.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Sebentar lagi tanah air akan menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2021 mendatang. Pada tahun ini, pemerintah mengambil tema “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” dengan logo yang dihiasi warna merah-putih.

Perjuangan menempuh kemerdekaan Indonesia serta menjadikan Indonesia yang lebih baik hingga saat ini tentunya digerakkan oleh sejumlah tokoh nasional yang inspiratif. Beberapa dari mereka ternyata pernah berprofesi sebagai jurnalis atau wartawan. Berikut deretan tokoh nasional yang berprofesi wartawan:

1. Ki Hajar Dewantara

 

Dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, pahlawan kelahiran 2 Mei 1889 di Yogyakarta ini pernah menjalani karir sebagai wartawan. Selain menjadi pendiri Sekolah Taman Siswa, pelopor pendidikan bagi kaum pribumi, hingga penggerak kemerdekaan RI, beliau terkenal akan tulisannya.

Baca juga:  Istana Rilis Tema dan Logo HUT Ke-76 RI, Begini Desainnya

Ki Hajar aktif menjadi wartawan di berbagai surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Namun, tulisannya yang dimuat dalam surat kabar De Express bertajuk Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda, membuatnya sempat diasingkan pemerintah Hindia Belanda. Hal itu karena dianggap oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kritikan tajam.

2. Abdurrahman Baswedan

Pernah berkiprah di dunia wartawan, nama pahlawan kelahiran 9 September 1908 berjajar dengan tokoh-tokoh nasional lainnya sebagai 111 perintis pers nasional. Beliau juga pernah mendirikan Persatoean Arab Indonesia (PAI), yang berisikan pemuda-pemuda keturunan Arab, usai terinspirasi dari momentum Sumpah Pemuda.

Dalam sejarah pers nasional, namanya tercantum dalam buku Jagat Wartawan karya Soebagijo Ilham Notodidjojo. Melalui berbagai tulisannya, ia juga berhasil menyatukan para keturunan Arab di Indonesia dengan golongan pribumi, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

3. Tirto Adhi Soerjo

Nama Tirtoadisuryo akrab dengan panggilan yang diraihnya sebagai Bapak Pers Nasional. Beliau yang lahir di Blora pada tahun 1880 ini pernah menuai pendidikan dokter di Stovia Batavia (1893-1900).

Dalam merintis karirnya di dunia jurnalistik, ia pernah memimpin surat kabar miliknya bernama Soenda Berita pada tahun 1901. Seusai itu, Tirtoadisuryo mendirikan mingguan Medan Priyayi pada tahun 1909 yang sayangnya berhenti terbit pada tahun 1912. Di tahun yang sama, ia mendirikan perusahaan penerbitan pertama di Indonesia, N.V Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Priyayi” pada tahun 1909 bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman. Jejak tulisannya dapat dilihat di berbagai media massa yang ia kelola, seperti Pembrita Betawi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna.

4. Tan Malaka

 

Tokoh kelahiran 2 Juni 1897 asal Sumatera Utara ini mengambil peran dalam melawan penjajahan Belanda melalui tulisannya. Mulai dari propaganda Deli Spoor yang ditulis untuk para kuli, hingga tulisan tentang penderitaan kuli perkebunan teh yang tertera di Sumatera Post. Ia juga pernah melahirkan karya yang dimuat di Het Vrije Woord berjudul “Tanah Orang Miskin”, yang menceritakan kesenjangan kekayaan antara kaum kapitalis dengan pekerja.

5. Mohammad Hatta

Selain berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Hatta yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 ini pernah menggeluti dunia jurnalistik. Ia mulai menulis ketika dirinya bersama Syahrir ditangkap dan diasingkan ke Digul, dan selanjutnya Banda Neira. Banyak artikel yang ditulisnya tertuang di koran-koran Jakarta dan berbagai majalah di Medan.

Artikelnya itu tidak terlalu memuat hal-hal yang berbau politis, melainkan lebih bersifat menganalisis dan mendidik pembaca. Daftar koran yang pernah menjadi tempat beliau menulis di antaranya, koran “Sin Tit Po”, Nationale Commantaren, dan Pemandangan, yang banyak berisi ajakan kepada rakyat Indonesia untuk tidak memihak pihak Barat maupun fasisme Jepang. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini