Meningkat Drastis, Krematorium Cirebon Sudah Layani 100 Jenazah Pasien Covid-19 dalam 2 Bulan

Fathnur Rohman, Okezone · Jum'at 23 Juli 2021 02:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 23 337 2444641 meningkat-drastis-krematorium-cirebon-sudah-layani-100-jenazah-pasien-covid-19-dalam-2-bulan-5IkDbBUGKP.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

CIREBON - Aktivitas kremasi jenazah pasien Covid-19 di Krematorium Yayasan Pancaka Seroja, Cirebon, Jawa Barat, mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, krematorium tersebut melayani sekitar 100 permintaan kremasi.

Ketua Krematorium Yayasan Pancaka Seroja, Ramlan Pandapotan mengatakan, lonjakan permintaan kremasi jenazah pasien Covid-19 paling tinggi terjadi pada bulan Juli 2021 ini. Dimana jumlah jenazah yang dikremasi sebanyak 160 jenazah. Sedangkan, kata dia, sekitar 130 jenazah pasien Covid-19 sudah dikremasi pada bulan Juni kemarin.

"Jenazah pasien Covid-19 dibulan Juli sampai saat ini sekitar 160 yang dikremasi. Untuk bulan Juni 130 jenazah pasien Covid-19 yang dikremasi," kata Ramlan kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (22/7/2021).

Sebelum pandemi, sambung dia, tepatnya pada bulan Maret 2020 lalu, rata-rata pihaknya mengkremasi 15-20 jenazah. Ia menilai, kenaikan paling tinggi untuk kremasi jenazah khususnya pasien Covid-19 mulai terjadi saat bulan Juni 2021.

Ia menjelaskan, jenazah pasien Covid-19 yang dikremasi di tempatnya tidak hanya berasal dari wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka) saja. Melainkan ada juga dari daerah Bogor, Bandung, Jakarta, dan lainnya.

"Sekarang seratus lebih jenazah pasien Covid-19 yang dikremasi. Ini asalnya dari Ciayumajakuning, Bogor, Bandung, Jakarta, dan lainnya," ungkap Ramlan.

Meski permintaan kremasi meningkat, diakui Ramlan, pihaknya tidak memanfaatkan hal tersebut untuk mencari untung. Krematorium Yayasan Pancaka Seroja justru mematok tarif yang terbilang murah, yakni senilai Rp3 juta untuk satu jenazah pasien Covid-19.

Tarif kremasi ini, jelas Ramlan, memiliki rincian sekitar Rp2,5 juta untuk kremasi, serta Rp240 ribu digunakan untuk keperluan alat pelindung diri (APD) petugas kremasi dan disinfektan. Sedangkan sisanya Rp60 ribu digunakan sebagai biaya administrasi.

"Kita di sini kremasi jenazah itu untuk satu jenazahnya Rp2,5 juta. Kalau yang jenazah Covid-19 ada tambahan Rp240 ribu, untuk biaya APD, disinfektan, dan administrasi Rp 60 ribu. Kalau di larungin di laut abunya ditambah Rp200 ribu," ujar Ramlan.

Sementara itu, menanggapi adanya isu kartel kremasi jenazah pasien Covid-19 yang memiliki tarif sampai puluhan juta, ia mengaku pihaknya merasa tersudutkan. Sebab, dari kabar yang beredar kegiatan itu disebut-sebut melibatkan krematorium di Cirebon.

Ia menyampaikan, meski Krematorium Yayasan Pancaka Seroja merupakan satu-satunya tempat kremasi di wilayah Cirebon, pihaknya tidak pernah memasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Ia pun terkejut ketika mendengar adanya dugaan praktik kartel kremasi jenazah pasien Covid-19.

"Karena pada dasarnya ini sosial. Bukan komersial. Rp3 juta itu sudah termurah lah. Ini ngepas buat bahan bakar, tenaga kerja dan gajiannya ada lebih dikit," tutur Ramlan.

Menurut Ramlan, pihaknya selalu menyarankan agar pihak ahli waris ikut terlibat dalam mengurus kremasi. Sehingga, ia menduga lonjakan tarif kremasi jenazah pasien Covid-19 itu adalah permaian dari para calo.

"Kta beritahu staf kita kalau ada yang mau kremasi di Cirebon. Ahli waris alhamrhum yang telpon atau datang langsung. Supaya dia tahu di sini biaya Rp3 juta. Jangan sampai di caloin sama orang. Mahal. Kemungkinan besar calo-calo itu. Tidak tahu dari mana," papar Ramlan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, sambung Ramlan, pihaknya hanya akan menerima kremasi jenazah bila yang mengurus semua proses administrasi dan lainnya adalah si ahli waris.

"Kalau tidak ada ahli waris yang mendampingi kita tidak mau. Kita kasih tahu ahli waris dulu biar tahu untuk mengantisipasi," ucap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini