Kisah Pelaut Nusantara Berlayar 8 Ribu Km ke Madagaskar dengan Perahu Kayu

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 22 Juli 2021 06:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 22 337 2444102 kisah-pelaut-nusantara-berlayar-8-ribu-km-ke-madagaskar-dengan-perahu-kayu-KY89BJ70Gm.jpg Perahu suku Mandar (Foto: Doddy Handoko)

JAKARTA - Peneliti Universitas Massey, Selandia Baru, menganalisa DNA milik 266 orang Madagaskar di Afrika. Dalam kelompok tersebut, mereka menemukan bahwa 22 persen memiliki tanda genetik “orang Indonesia”.

Jika sampel DNA ini benar, diperkirakan ada sekitar 30 perempuan Indonesia yang ikut membentuk populasi awal di Madagaskar.

Pulau Madagaskar pertama kali dihuni oleh pendatang asal Nusantara atau Indonesia. Mereka diyakini berlayar sejauh 8 ribu kilometer dari Kalimantan dan Sulawesi.

Ilmuwan sejauh ini memang belum menemukan bukti fisik, kecuali hasil uji Mitokondria DNA yang mengungkap garis keturunan penduduk Madagaskar berasal dari Indonesia.

Baca juga: Covid Organics, Obat Herbal dari Madagaskar Ampuh Tangani Covid-19?

Padewakang adalah perahu khas Mandar, Makasar yang digunakan para pedagang di masa lalu untuk mengarungi samudera. Mereka mengangkut komoditas rempah-rempah dari pulau ke pulau di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri seperti Madagaskar.

Ridwan Alimuddin, tim leader pembuat kapal di acara Jalur Rempah, Museum Nasional, Jakarta, menuturkan bahwa daerah Sulawesi Barat dan Selatan terkenal dengan pembuatan perahu tradisional seperti kapal Kalewang di Mandar dan perahu pinisi di Bira.

Baca juga: Sedikitnya 16 Tewas Tergencet di Stadion pada Perayaan Hari Nasional Madagaskar

"Ini kapal asli Mandar. Orang Mandar biasa sebut kapal Padewakang," ucapnya.

Kapal ini digunakan oleh para pelaut masa lalu mengarungi samudera. Kalau untuk pelayaran antarbenua lebih besar dari perahu itu.

Perahu rempah berukuran sepuluh meter dan lebar dua meter menggunakan layar jenis tanjaq atau segi empat, layar khas Austronesia. Desain yang sama dapat dilihat pada relief Candi Borobudur.

Cat perahu menggunakan teknik tradisional, campuran kapur terumbu karang dengan minyak kelapa. Bahan itu ditumbuk sekian jam lalu dibuat adonan yang disebut "lepa" kemudian dioleskan pada lambung perahu.

Sampai kini, pembuatan kapal dan perahu itu tidak dengan teknologi canggih melainkan dengan tradisional. Para pembuat hanya menggunakan insting. Bentuk dan ukuran langsung dibuat dengan mengukur dan memahat kayu.

Proses pembuatan melalui berbagai macam ritual kepercayaan masyarakat lokal suku Mandar.

Layar dibuat dari serat tumbuhan, salah satunya daun gebang atau jenis palma. Serat daun dikeringkan kemudian ditenun. Lembaran tenunan itu disebut "Karoroq".

Baca juga: Menaker Ida: Perempuan Indonesia Ulet dan Tangguh

Tali temali juga menggunakan bahan alami, sabuk kelapa dan ijuk. Pada sela antar papan digunakan kulit kayu baruq agar perahu kedap air. Penyusun papan dan penguat beberapa bagian menggunakan pasak kayu ulin.

Kendati dikuasai oleh Bahasa Perancis, penduduk Madagaskar masih memelihara bahasa sendiri, yakni bahasa Malagasi yang masih termasuk rumpun Bahasa Melayu-Polinesia.

Baca juga: Hari Kartini, Cinta Laura: Perempuan Harus Percaya Diri dan Berani Berekspresi

Di dalamnya terkandung pengaruh bahasa lokal di Indonesia, yakni Barito Timur, Jawa dan Melayu. Tangan misalnya menjadi tananə atau nusa menjadi nosy. Bahasa Malagasi juga mengadopsi kata kulit dan putih dari bahasa melayu.

Nasi adalah makanan pokok penduduk Madagaskar. Tradisi kuliner di pulau tersebut juga ditengarai banyak dipengaruhi pemukim pertama yang berasal dari kawasan nusantara.

Nasi biasanya ditemani laoka alias lauk, yakni sayur dan daging yang ditumis dengan saus tomat atau santan.

Baca juga: Enam Orang dalam Satu Keluarga Tewas Tersambar Petir di Madagaskar

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini