Prank Ala Pesantren, Gojlokan Sesama Santri untuk Buang Jenuh

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 22 Juli 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 22 337 2444094 prank-ala-pesantren-gojlokan-sesama-santri-untuk-buang-jenuh-5S4dXQeK0e.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Zastrouw Al Ngatawi menjelaskan, soal akar tradisi humor yang kerap dilontarkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam berbagai forum pertemuan, mulai dari forum akademik hingga pengajian. Penjelasan ini diterbitkan di NU.Or.Id.

“Kalau dikaji secara antropologis-sosiologis kita bisa melacak akar tradisi humor Gus Dur ini adalah berangkat atau berasal dari tradisi pesantren,” ungkapnya dalam webinar Peringatan Haul ke-11 Gus Dur yang diselenggarakan PCINU Sudan dan Jerman, disiarkan langsung 164 Channel, Kamis (22/7/2021).

Sebab menurut Zastrouw, di pesantren terdapat tradisi gojlogan. Sebuah budaya lucu-lucuan yang dilakukan oleh sesama santri di pesantren. Namun demikian, tidak ada yang merasa disakiti atau tersakiti karena gojlogan tersebut hanya dimaksudkan untuk membuang rasa jenuh.

“Wah itu kalau di pesantren gojlogan itu gila-gilaan. Kalau sekarang prank namanya. Nah Gus Dur menjadikan itu sebagai sumber inspirasi. Gojlogan di pesantren itu dilakukan kepada sesama santri untuk membuang rasa jenuh,” terang Asisten Pribadi Gus Dur pada 1989-1998 ini.

Baca juga: Humor Gus Dur: Ketika Soeharto dan Harmoko Naik Haji

Selain itu, imbuh Zastrouw, akar tradisi humor Gus Dur berasal dari wacana kitab klasik yang diajarkan pesantren. Sebab di sana, banyak memuat berbagai kisah humor yang dilakukan oleh para sufi atau ulama terdahulu.

“Jadi itulah genealogi atau akar tradisi humor yang kerap dilakukan oleh Gus Dur. Humor Gus Dur itu berangkat dari tradisi pesantren,” tegas Zastrouw.

Lebih lanjut ia menegaskan, rata-rata santri itu pasti pintar humor. Para penceramah di lingkungan NU pun, sudah barang tentu bisa melucu.

Baca juga: Menengok Ibadah Haji Para Presiden RI, Soekarno Tempuh Perjalanan 6 Hari

Kata Zastrouw, hal tersebut berbeda dengan penceramah-penceramah yang berasal dari non-NU.

“Sebut semua penceramah NU, seserius-seriusnya penceramah NU pasti tetap pintar humor. Karena itu (humor) sudah terbangun sejak di pesantren dulu,” tutur Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU masa khidmat 2004-2009 ini.

Melalui humor pula, tambah Zastrouw, Gus Dur sebenarnya sudah membuka jendela dan celah budaya pesantren yang selama ini tidak mendapat perhatian dari peneliti yakni tradisi canda tawa atau guyonan.

“Jadi soal humor di pesantren ini jarang sekali ada yang meneliti. Rata-rata penelitian di pesantren sejauh yang pernah saya baca adalah soal kepemimpinan, soal pemikiran, transformasi sosial, serta perubahan dan perkembangan sistem pendidikan,” jelas Zastrouw.

“Padahal guyon di pesantren ini, menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diteliti. Gus Dur mampu mengekspresikan, mengelaborasi, dan memformulasikan secara tepat dan akurat dalam dunia kecendekiawanannya itu,” tutup Doktor Sosiologi dari FISIP Universitas Indonesia ini.

Sekadar informasi, webinar bertema Mendaras Gus Dur: Antara Cendekia dan Canda Sang Guru Bangsa ini juga mendatangkan putri sulung Gus Dur Alissa Wahid.

Hadir pula Ketua PCINU Maroko Gus Ali Dahrie dan Ketua PCINU Yaman yang membaca tahlil beserta doa. Rais Syuriyah PCINU Sudan KH Dzakwanul Faqih dan KH Syaeful Fatah pun turut hadir secara virtual, memberikan sambutan untuk mengantar diskusi yang dipandu oleh Wakil Ketua Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI) Zacky Khairul Umam.

Baca juga: Kisah 3 Santri, Sakit Gigi ke Singapura, dan Fungsi Humor Bagi Gus Dur

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini