Pesanggrahan Pracimoharjo yang Didirikan PB X Saksi Bisu Penculikan Sutan Sjahrir

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 20 Juli 2021 07:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 20 337 2443206 pesanggrahan-pracimoharjo-yang-didirikan-pb-x-saksi-bisu-penculikan-sutan-sjahrir-MY2YiVMSRZ.jpg Pesanggrahan Pracimoharjo.(Foto:Istimewa)

PESANGGRAHAN Pracimoharjo terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang memiliki nilai historis tinggi.

Didirikan oleh Paku Buwono IV sekitar tahun 1803-1804. Kemudian pada masa pemerintahan Paku Buwono X, pesanggrahan Pracimoharjo dikembangkan menjadi lebih artistik dan mewah, lengkap dengan pendapa, pringgitan, taman bahkan air mancur.

"Pada masa – masa penjajahan, pernah dijadikan sebagai markas PETA pimpinan Slamet Riyadi," kata Surojo, penggiat sejarah Boyolali.

Keberadaan Pesanggrahan Pracimoharjo menjadikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat, hal ini terlihat dari tradisi dan pengaruh budaya Keraton Surakarta masih terasa pengaruhnya.

Baca Juga: Kisah Pakubuwono VI Ditembak Belanda dan Penyelamatan Permaisuri di Ndalem Kemasan

"Namun sayang karena diperkirakan akan diduduki Belanda maka pada bulan Desember 1949 Pesanggrahan Pracimoharjo ini dibumihanguskan oleh Letkol Slamet Riyadi,"ucapnya.

Pesanggrahan ini juga sebagai saksi bisu peristiwa upaya penculikan Sutan Syahrir terhadap pemerintahan RI yang sah. Ini terlihat dengan munculnya gejala perpecahan antara pemerintahan pusat dan daerah mulai tampak, ,sehingga diambil beberapa langkah antisipasi. Langkah itu antara lain memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta.

"Pertentangan semakin meluas dengan sikap Perdana Menteri Sutan Syahrir yang cenderung lunak terhadap Belanda yakni cara diplomasi, padahal Belanda bersikukuh menginginkan RI bagian kerajaan Belanda,"ungkapnya.

Sementara kelompok Persatuan Perjuangan melalui BP KNIP berupaya menyudutkan Sutan Syahrir agar mundur dari jabatannya. BP KNIP akhirnya mengeluarkan resolusi non diplomasi sebagai jawaban atas sikap Belanda.

Melihat hal ini Sutan Syahrir mengajukan surat pengunduran diri kepada presiden Soekarno karena merasa BP KNIP tidak sependapat dengan cara yang dilakukan Syahrir terhadap Belanda.

(saz)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini