Share

Pas Haji Era Hindia Belanda, Ditulis Bentuk Hidung, Mulut, Dagu, Kumis dan Jenggot

Doddy Handoko , Okezone · Senin 19 Juli 2021 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 337 2442647 pas-haji-era-hindia-belanda-ditulis-bentuk-hidung-mulut-dagu-kumis-dan-jenggot-LqVVmu8NNY.jpg Ibadah haji (Foto: Reuters)

JAKARTA - Di buku Naik Haji di Masa Silam Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji Jilid I (1482 – 1890), karya Henri Chambert-Loir diceritakan pada 1825, Belanda mengeluarkan berbagai peraturan haji, salah satunya disebut ordonansi. Peraturan ini membuat ongkos naik haji sangat tinggi.

Belanda menuntut para calon haji untuk memperoleh paspor dan membajar pajak sebesar 110 gulden. Aturan tersebut juga memungkinkan pemerintah Belanda mengawasi aktivitas para pribumi selama bermukim di Makkah.

Pada 1874, Belanda memberlakukan kebijakan yang menyulitkan, yakni jamaah haji diharuskan memiliki tiket pergi-pulang. Ketentuan ini menguntungkan karena menunjang sistem monopoli bagi perusahaan pengangkut haji.

Sedangkan bagi pemerintah Hindia Belanda, ketentuan ini memudahkan kontrol mereka terhadap jamaah haji. Dengan ketentuan tersebut, jamaah haji hanya diizinkan berangkat di sejumlah pelabuhan yang telah ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

 (Baca juga: Kisah Bung Karno Sarankan Perluasan Bukit Shafa -Marwah dan Haji Akbar)

Mereka yang berangkat dari Hindia Belanda membawa pas perjalanan ke Makkah yang ditandatangani oleh pegawai pangreh Praja dengan terlebih dahulu pergi ke sebuah pelabuhan embarkasi jamaah. Pas tersebut harus diserahkan untuk ditandatangani oleh seorang penguasa pelabuhan.

Setibanya di Pelabuhan Jeddah, terlebih dulu jamaah menghadap konsulat Belanda dengan menukarkan pas jalannya dengan pas izin tinggal selama musim haji.

 (Baca juga: Kisah Ulama Betawi yang Menjadi Imam Masjidil Haram)

Setibanya kembali di Tanah Air, pas itu sekali lagi harus ditandatangani oleh penguasa-penguasa Belanda.

Kartu pas perjalanan model tahun 1884 ini, tak hanya memuat keterangan tentang jenis kelamin, umur, dan tinggi badan, tetapi juga keterangan mengenai bentuk hidung, mulut, dan dagu, serta tentang apakah si pemilik pas berkumis, jenggot, atau lainnya.

Pemerintah Belanda juga berusaha memonopoli angkutaan haji. Sebelumnya, hak untuk mengangkut jamaah haji Indonesia (saat itu disebut Hindia Belanda) dipegang oleh pemilik-pemilik kapal Arab dan Inggris.

Inggris ikut dalam bisnis pengangkutan haji Nusantara karena melihat potensinya yang besar. Pada masa ini, pengangkutan jamaah haji tak lagi menggunakan kapal layar namun kapal api yang lebih canggih.

Pemerintah Belanda juga menyediakan angkutan haji, memberikan izin monopoli pengangkutan kepada kongsi tiga, yaitu Rotterdamsche Llyod, Stoomvaartmatschappij Nederland, dan Stoomvaartmatschappi Oceaan pada 1873.

Awal kebijakan itu, ketika tahun 1803, tiga jamaah haji asal Minangkabau mengembangkan gerakan Paderi sekembali dari Tanah Suci.

Tujuan utama gerakan ini adalah mengembangkan ajaran Islam yang lebih modern untuk melawan praktik-praktik tradisional setempat.

Pemerintah kolonial Belanda tak senang terhadap gerakan ini dan menilainya sebagai cikal bakal pemberontakan.

Sejak saat itu, Belanda mulai mengawasi kegiatan haji secara ketat. Belanda takut kalau masyarakat pribumi yang menunaikan haji akan membawa pemikiran baru lalu mengembangkan gerakan untuk menentang kolonialisme.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini